Kehidupan dan karier
Laila Sari lahir di Padang Panjang pada tanggal 4 November 1935. Ayahnya meninggal dunia saat ia berumur dua tahun. Setahun kemudian, neneknya membawa ibunya yang seorang penyanyi pindah ke Jawa. Di sana, ia dibesarkan di lingkungan Muslim yang taat.
Pada usia sembilan tahun, ibunya menikah lagi. Laila lalu tinggal bersama ibu dan ayah tirinya. Setelah ibunya berhenti bernyanyi karena alasan agama, ia mulai bernyanyi untuk mendapatkan uang. Laila mulai bernyanyi untuk pertama kalinya di sebuah pesta pernikahan di Pontianak, Kalimantan, bersama orang tuanya.
Laila terus bernyanyi di berbagai pertunjukan, meskipun ia tidak pernah merilis album di sepanjang kariernya. Ia sering tampil mengisi acara militer, dan Presiden Soekarno suka mengajaknya bernyanyi pada perayaan Hari Kemerdekaan di Istana Negara. Ketika namanya mulai dikenal di nusantara, ia menyadari banyak pria yang mulai mendekatinya. Dalam wawancaranya dengan The Jakarta Globe pada tahun 2010, Laila bercerita bahwa adakalanya para pria bertengkar memperebutkan dirinya. Pada tahun 1955, ia membintangi film pertamanya. Tiga tahun kemudian, ia dilarang tampil di Bekasi dan Karawang, Jawa Barat, karena panitia khawatir para pria akan tergoda.
Pada tahun 1960, Laila menikah dengan seorang pria blasteran Belanda bernama Boertje (atau Murdadi Iskandar), yang lima puluh tahun lebih tua darinya. Karena Laila sudah tidak subur lagi, mereka mengadopsi seorang anak. Laila melanjutkan kariernya sebagai bintang film, termasuk memerankan kekasih Slamet Rahardjo dalam film Wadjah Seorang Laki-Laki pada tahun 1971, yang disutradarai oleh Teguh Karya.
Pada tahun 1993, Boertje menderita stroke, akibatnya Laila mulai mengurangi aktivitas menyanyi dan aktingnya untuk merawat Boertje dan ibunya yang sedang sakit. Untuk membiayai pengobatannya, ia menjual mobil dan rumahnya di Cengkareng, Jakarta Barat. Suaminya meninggal dunia pada tahun 1998, hanya selang seminggu setelah ibunya meninggal. Setelah beberapa kali mendapat tawaran untuk menunaikan ibadah haji ke Mekah, Laila akhirnya menerima tawaran dari artis Desy Ratnasari dan keluarganya pada tahun 2000. Desy menanggung seluruh biaya yang dikeluarkan selama menunaikan ibadah haji, sedangkan Laila membintangi beberapa iklan untuk mendapatkan uang tambahan bagi keluarganya.
Setelah itu, Laila menjadi pemeran pendukung di sejumlah sinetron. Ia juga sering menghabiskan waktu menghibur para lansia di panti jompo. Pada tahun 2005, ia dianugerahi Lifetime Achievement Award oleh Inspiring Women Awards di Jakarta. Pada tahun-tahun berikutnya, Laila tinggal bersama keluarganya, termasuk bibinya, di Tangkiwood, Jakarta Barat. Keluarganya hidup dalam kemiskinan.