Basimpul kuat babontuk elok Kehidupan masyarakat multikultural menggambarkan persatuan dan kegotongroyongan, kerja keras dan kejujuran, keikhlasan, serta keharmonisan
Ibu kota kabupaten ini terletak di Kelurahan Aek Kanopan. Salah satu daerah di kabupaten ini, yaitu Desa Tanjung Pasir, pernah menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Kualuh pada masa lampau. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Labuhanbatu Utara 2023, penduduk kabupaten ini pada tahun 2022 berjumlah 390.954 jiwa, dengan kepadatan 110 jiwa/km2.[2] Dan pada akhir 2024, jumlah penduduk Kabupaten Labuhanbatu Utara sebanyak 399.306 jiwa.[5]
Sejarah
Sebutan Labuhanbatu bermula ketika pada tahun 1862 Angkatan Laut Kerajaan Belanda datang ke sebuah kampung di Hulu Labuhanbilik tepatnya di Desa Sei Rakyat sekarang. Di desa ini, tentara Kerajaan Belanda membangun tempat pendaratan kapal yang terbuat dari batu beton. Lambat laun, tempat ini berkembang menjadi tempat persinggahan dan pendaratan kapal yang kemudian menjadi kampung besar yang diberi nama "Pelabuhanbatu". Kemudian, masyarakat mempersingkat sebutannya menjadi "Labuhanbatu". Nama Labuhanbatu ini kemudian melekat dan ditetapkan menjadi nama wilayah Kabupaten Labuhanbatu.[10]
Sebelum kemerdekaan Indonesia, di wilayah Kabupaten Labuhanbatu terdapat 4 kesultanan, yaitu:[10]
Kabupaten Labuhanbatu Utara adalah pemekaran dari Kabupaten Labuhanbatu berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 tahun 2008, tanggal 21 Juli 2008 tentang Pembentukan Kabupaten Labuhanbatu Utara di Provinsi Sumatera Utara. Kabupaten Labuhanbatu Utara lahir dari tuntutan aspirasi masyarakat dengan tujuan untuk meningkatkan penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, dan pelayanan masyarakat guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah Kabupaten Labuhanbatu Utara.[1][10]
Geografi
Batas wilayah
Batas wilayah Kabupaten Labuhanbatu Utara adalah sebagai berikut:[11]
Persebaran kelompok etnis di Kabupaten Labuhanbatu Utara.Persentase kelompok etnis di setiap kecamatan di Kabupaten Labuhanbatu Utara.
Mayoritas penduduk Kabupaten Labuhanbatu Utara adalah suku Batak dan Jawa. Namun, terdapat juga penduduk yang beretnis Melayu (khususnya Melayu Kualuh) dan Minangkabau, serta kelompok etnis lainnya. Berdasarkan agama mereka, orang Jawa, Melayu, Minangkabau, dan sebagian orang Batak (dikenal sebagai Batak Nadolok) beragama Islam, sedangkan orang Batak Toba, terutama di wilayah hulu (terutama di Na IX-X), beragama Kristen Protestan. Selain itu, terdapat juga penganut Buddha dan Konghuchu, terutama dari komunitas Tionghoa, yang sebagian besar tinggal di Aek Kanopan, ibu kota kabupaten ini.[12]
Karena keragaman demografisnya, penduduk Kabupaten Labuhanbatu Utara menggunakan bahasa Indonesia, yang merupakan bahasa nasional, sebagai bahasa penghubung antar komunitas dan sebagai bahasa pengantar sehari-hari. Selain itu, bahasa-bahasa Batak (terutama Batak Toba dan Batak Angkola) digunakan oleh sebagian penduduk kabupaten ini, terutama di wilayah hulu (sebagian besar di Na IX-X, Marbau, dan Aek Natas). Bahasa lain yang juga digunakan adalah bahasa Melayu Kualuh, sebuah dialek bahasa Melayu, yang secara tradisional digunakan oleh penduduk beretnis Melayu, dan terutama digunakan di wilayah hilir oleh penduduk dari etnis lain, seperti etnis Jawa dan Batak. Sementara itu, bahasa Jawa dan bahasa Minangkabau hanya digunakan di kalangan komunitas etnis mereka sendiri.[12]