Pada 13 Agustus 2010, TAM menandatangani perjanjian tak mengikat dengan maskapai penerbangan Chili LAN Airlines untuk bergabung dan membentuk LATAM Airlines Group.[7]
TAM memiliki keinginan unruk membeli tiga pesawat turboprop Fokker F27 bekas, yang akan dimodifikasi oleh Fokker di Belanda. Dalam usaha untuk memperoleh izin import untuk pesawat ini, persetujuan dibatasi oleh pemerintah di mana TAM dipaksa untuk mempertahankan 3 Bandeirantes untuk setiap F27, bersama juga pengurangan 5 kursi dari setiap pesawat, yang membuat kapasitas F27 turun menjadi 40 penumpang. F27 keempat, yang sebelumnya dimiliki oleh Air New Zealand, ditambahnkan di armada TAM tahun 1981. Tahun 1983, TAM telah membeli 10 F27. Tahun 1981, TAM telah menerbangkan satu juta penumpang, dan dua juta pada tahun 1984.
Meskipun TAM mendapatkan kesuksesan di pasar, diketahui bahwa maskapai ini tidak akan bertahan lama ketika berkompetisi dengan maskapai seperti Varig dan VASP, di mana keduanya telah memasukkan Boeing 737 ke dalam armada mereka. Amaro kemudian mencoba untuk membeli VASP, yang akan diprivatisasi, dan menyebut nama proyek tersebut "Revolution". Setelah gagal melakukan tawaran, dia memilik untuk melakukan pertumbuhan yang lebih lambat dengan secara bertahap menambah pesawat baru, dan diganti namanya menjadi "Evolution".
Pada 15 September 1989, TAM amencoba untuk mengakuisisi dua jet Fokker F100, yang sebelumnya telah dipesan oleh maskapai yang sudah bangkrut Pan American World Airways. Seperti F27 sebelumnya, TAM tidak secara langsung membeli pesawat tersebut, tetapi memanfaatkan kredibilitas Amaro untuk mengatur aset perusahaan pihak ketiga, Guinness Peat Aviation untuk membelinya dan menyewakannya kepada TAM. Dua pesawat lagi ditambah tahun 1991. Tahun 1992, TAM membawa penumpang kedelapan juta. Tahun 1993, menggunakan armada Fokker 100, yang sekarang sudah berjumlah 14, TAM melayani 56 kota di Brasil.
Tahun 1996, TAM membeli perusahaan penerbangan lainnya, Helisul, yang menggunakan merek TAM. Tahun 1997, TAM memesan pesawat jet besar pertamanya; maskapai memesan 45 pesawat dari Airbus, termasuk 10 A330, 4 A319, dan 34 A320. Tahun 1997, pesawat Airbus mulai dikirimkan dan maskapai ini memulai penerbangan internasional pertamanya, dari São Paulo menuju Bandar Udara Internasional Miami.
Tahun 2008, mengikuti strategi pengenalan merek, nama TAM Mercosur diganti dan maskapai memiliki identitas maskapai yang sama dengan TAM Airlines. Namun, struktur perusahaannya masih tetap sama.[12]
Pada 16 Juni 2005, TAM mengumumkan pembelian 20 pesawat Airbus A320 tambahan (termasuk model A319, A320 dan A321), dan ditambah 20 opsi. Pesawat ini diharapkan akan dikirim antara akhir tahun 2007 dan 2010, menambah pengiriman 6 A320 yang sudah direncanakan antara tahun 2006 dan 2008. Pada waktu yang sama, perusahaan menandatangani nota kesepahaman dengan Airbus yang menyatakan keinginannya untuk membeli 10 pesawat baru Airbus A350-900 (ditambah 5 opssi), yang dikirimkan pada akhir tahun 2012. Mereka direncanakan untuk menggantikan A330 pada rute Paris dan Miami.[butuh rujukan]
TAM telah menandatangani kontrak pasti dengan Airbus untuk membeli tambahan 37 pesawat. Pesanan terdiri dari 12 A319, 16 A320, tiga A321 dan tiga A330 ditambahn juga 12 opsi tambahan yang belum ditentukan. Hal ini akan membuat jumlah pesawat dalan armada TAM yang dibeli langsung dari Airbus menjadi 115 pesawat.[19] Komitmen ini terpisah dari pesanan pada awal tahun untuk 29 pesanan pasti A320 dan 20 opsi. Pengirimannya akan diselesaikan tahun 2010.
TAM telah memberikan 4 pesawat Airbus A350-900 ke Qatar airways dengan spesifikasi kabin yang sama untuk digunakan Qatar airways.Airbus A350-900 ini dipakai oleh Qatar airways utama untuk rute Doha-Munich-Doha.
TAM Fidelidade adalah program frequent flyer dari TAM Airlines. Poin program dapat diperoleh dengan membeli tiket dari TAM, maskapai Star Alliance dan rekan lainnya. Program ini dbedakan dalam kategori sebagai berikut dan prosentase mil yang diterima peserta:
7 Oktober 1986: Sebuah Embraer EMB 110C Bandeirante registrasi PP-SBH jatuh sebelum landasan pacu setelah dua kali gagal mendarat di Araçatuba. Tujuh awak dan penumpang tewas.
12 Februari 1990: sebuah Fokker F27 registrasi PT-LCG mengoperasikan penerbangan dari Bandar Udara Congonhas-São Paulo menuju Bandar Udara Bauru, karena kesalahan prosedur pendaratan mendarat menyentuh landasan di Bauru sejauh 775 melewati batas landasan. Pilot gagal melakukan prosedur putar Kembali dan melewati pagas landasan pacu dan menabrak sebuah mobil yang melintas. Satu awak pesawat dan dua penumpang mobil tewas.
31 Oktober 1996: Penerbangan 402 jatuh sesaat setelah lepas landas dari Congonhas, menabrak sebuah bangunan apartemen dan beberapa rumah. Seluruh 90 penumpang dan 6 awak tewas. Tiga orang di darat tewas. Kecelakaan terjadi akibat kegagalan sistem pendorong balik di mesin kanan setelah lepas landas.
30 Agustus 2002: Penerbangan 3804, sebuah Fokker 100 registrasi PT-MQH dalam perjalanan menuju Bandar Udara Internasional São Paulo/Guarulhos menuju Campo Grande. Pesawat sedang menanjak setelah lepas landas dari São Paulo ketika kebocoran bahan bakar menyebabkan ketidak seimbangan. Pilot berhasil mengatasi ketidakseimbangan, meskipun semua bahan bakar habis dan pesawat harus mendarat darurat di daerah pedesaan. Tidak ada orang yang terluka.
↑"Dados Comparativos Avançados" (dalam bahasa Portuguese). Agência Nacional de Aviação Civil (ANAC). Diarsipkan dari asli tanggal 2012-07-12. Diakses tanggal 13 November 2010.Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)