Kurwet Kartaadiredja (26 Februari 1926 - 17 Juli 1995) adalah seorang wartawan, pengusaha, dan politisi Indonesia yang belakangan pernah menjadi tahanan politik. Ia terkenal karena mempelopori industri pesawat terbang di Indonesia dan pernah menjabat sebagai menteri dalam Kabinet Dwikora II.
Kehidupan Awal
Kurwet lahir pada tanggal 26 Februari 1926. Ia menikah dengan aktris Nana Mayo pada tanggal 4 Maret 1950. Pernikahan tersebut dikaruniai empat orang anak.
Karier Bisnis
Karier awal Kurwet adalah sebagai wartawan, yaitu pada harian Bintang Timur (1955) dan kemudian sebagai pemimpin umum harian Pewarta Jakarta. Sebagai pemimpin Pewarta Jakarta, Kurwet memiliki pendirian politik yang mendukung kebijakan Presiden Sukarno.[1][2]
Pada akhir dasawarsa 1950-an, Kurwet mulai memulai usaha di bidang otomotif dengan mendirikan perusahan swasta PT Indonesia Merdeka Motors Co (disingkat Immermotors). Kurwet melalui perusahaan Immermotors ditugaskan oleh Presiden Sukarno untuk mengimpor bus dari negara-negara Eropa Timur seperti Hungaria dan Jerman Timur untuk digunakan selama pesta olahraga GANEFO di Jakarta pada tahun 1963.[3][4]
Suksesnya bisnis impor bus Immermotors membuat Kurwet memperluas bidang usahanya menjadi perusahaan perakitan bus. Kurwet turut mendirikan perusahaan PT Erman yang mengimpor kendaraan bermotor dari Jerman dan Australia dan membangun pabrik perakitan kendaraan bermotor di Surabaya di dasawarsa 1960-an.[5]
Pemimpin KOPELAPIP
Kurwet berperan besar dalam rencana Presiden Sukarno untuk mengembangkan industri pesawat terbang yang berdikari di Indonesia. Pada tahun 1964, Kurwet melaksanakan kunjungan kerja ke Belanda untuk menegosiasikan perjanjian perakitan pesawat terbang dengan skema lisensi dari perusahaan pesawat terbang Fokker di Belanda. Rencana itu berhasil baik dengan disetujuinya izin produksi pesawat terbang Fokker F27 di bawah nama Immermotors, yang merupakan perusahaan swasta milik Kurwet.[6]
Pada tanggal 10 Juni 1965, Presiden Sukarno mendirikan Komando Pelaksana Proyek Industri Pesawat (KOPELAPIP) dengan Kurwet sebagai Kepala Proyek, dibantu oleh Nurtanio Pringgoadisuryo sebagai Manajer Proyek. KOPELAPIP diresmikan pada tanggal 17 Agustus 1965, yang ditandai dengan penandatanganan perjanjian perakitan pesawat terbang dengan Fokker dengan nama 'Fokker F27 Berdikari' yang dilakukan pada bulan itu juga. Dalam pelaksanaannya, Kurwet sebagai pemimpin KOPELAPIP bekerja sama erat dengan Omar Dhani sebagai Panglima Angkatan Udara RI. Kurwet bahkan diangkat oleh Omar Dhani sebagai Marsekal Muda Udara Honorer.[1]
Pelaksanaan KOPELAPIP dan produksi Fokker F27 Berdikari sepenuhnya didanai dengan dana swasta dari perusahaan Immermotors milik Kurwet.[7] Sebagai pembeli ekspor yang pertama, Wakil Perdana Menteri Chaerul Saleh berhasil meyakinkan pemerintah Republik Rakyat Cina untuk menandatangani kontrak pembelian 100 pesawat Fokker F27 Berdikari.
Setelah peristiwa Gerakan 30 September (G30S), proyek KOPELAPIP sebagai salah satu proyek mercusuar Presiden Sukarno mendapat tekanan yang berat, di samping kesulitan-kesulitan ekonomi yang disebabkan oleh hiperinflasi. Kurwet, yang sampai saat itu menjabat sebagai Kepala Proyek KOPELAPIP yang (meskipun namanya) hanya bersifat sebagai sebuah badan swasta, diangkat sebagai Menteri Negara Urusan Manajer Proyek KOPELAPIP pada tanggal 24 Februari 1966 dalam struktur Kabinet Dwikora II. KOPELAPIP juga dengan demikian secara resmi dimasukkan ke dalam struktur pemerintahan. Meskipun demikian, jabatan ini hanya diemban sebentar saja oleh Kurwet akibat keluarnya Surat Perintah Sebelas Maret yang memberikan Jenderal Suharto kekuasaan untuk menindak pejabat-pejabat negara yang dianggap terlibat dalam peristiwa G30S.
Tahanan Politik
Kurwet termasuk ke dalam barisan 15 menteri Kabinet Dwikora II lainnya yang disinyalir terlibat dalam G30S ditahan oleh Angkatan Darat pada tanggal 18 Maret 1966 dan kemudian dipenjarakan. Kurwet sendiri diberhentikan sebagai menteri pada tanggal 27 Maret 1966. Pada tahun 1967, KOPELAPIP dibubarkan oleh Presiden Suharto dan perjanjian kerja sama perakitan dengan Fokker dibatalkan pada tanggal 11 Februari 1967.
Setelah ditahan, Kurwet yang dikenal setia kepada Sukarno dipenjarakan sebagai tahanan politik tanpa menjalani proses peradilan selama delapan tahun. Ia baru dibebaskan dari tahanan dan direhabilitasi pada tahun 1974.
Setelah bebas dari tahanan politik, Kurwet kembali memimpin perusahaan Immermotors. Perusahaan Immermotors pada saat itu menjalankan bisnis perakitan mobil merek Datsun dan Nissan. Namun demikian, usaha Immermotors tidak berlangsung lama, dan Kurwet terpaksa harus menjual Immermotors pada konglomerasi Maspion pada tahun 1989.[8]
Kurwet wafat pada tanggal 17 Juli 1995 dan dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta.
↑Sibarani, Augustin (2001). Karikatur dan politik. Diterbitkan atas kerjasama Institut Studi Arus Informasi, Garba Budaya, dan Media Lintas Inti Nusantara. ISBN 978-979-95774-5-0.