Krian adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Sidoarjo. Krian merupakan pusat ekonomi Sidoarjo bagian barat yang berada di persimpangan strategis. Dari arah barat ke timur dilintasi jalan nasional yang menghubungkan Mojokerto dengan Surabaya, ke utara berbatasan langsung dengan Kabupaten Gresik, dan ke arah selatan terdapat jalur menuju Prambon hingga Mojosari. Pusat kecamatan Krian merupakan daerah yang ramai dengan berbagai pusat perdagangan seperti Pasar Krian Lama dan Pasar Krian Baru, hingga pusat perbelanjaan modern seperti Ramayana.[1][2] Selain itu, Krian juga dilengkapi fasilitas pendukung seperti Terminal Krian, Stasiun Krian, SAMSAT Krian, taman kota, hingga RSUD Sidoarjo Barat.[3][4]
Lokasinya yang dekat dengan Surabaya membuat Krian menjadi daerah industri, terutama di sepanjang jalan nasional dan bypass. Banyak perusahaan besar yang berdiri di wilayah ini seperti Charoen Pokphand (pabrik pakan ternak), Sumber Group (perusahaan bus), hingga Kiat Ananda (jasa penyimpanan dingin). Selain itu, juga terdapat sentra usaha kecil seperti industri tahu yang banyak ditemukan di Tropodo. Dengan bertambahnya volume kendaraan, maka sejak tahun 1990-an dibangun Jalan Bypass Krian untuk mempercepat arus kendaraan tanpa melewati pusat kota Krian.[5] Nama Krian juga disematkan pada ruas Jalan Tol Krian–Legundi–Bunder–Manyar walaupun letak exit tol-nya tidak berada di Krian.[6]
Geografi
Peta administrasi Sidoarjo
Krian adalah kecamatan yang terletak di Kabupaten Sidoarjo bagian barat. Seperti wilayah lainnya di Sidoarjo, geografi Krian berupa dataran rendah. Sebagian besar wilayahnya berupa areal pemukiman dan industri karena merupakan bagian dari aglomerasi Kota Surabaya. Namun, areal persawahan juga masih banyak ditemukan.
Salah satu sungai penting Kecamatan Krian adalah Kali Mas (anak sungai Brantas) yang menjadi pembatas dengan Kabupaten Gresik di utara. Di sungai tersebut terdapat jembatan besar bernama Jembatan Legundi. Sebagian besar wilayah Krian berada di selatan sungai, kecuali satu kampung kecil yaitu Patuk Pulo di Desa Sidomulyo. Kampung ini dikelilingi oleh wilayah Gresik dan terhubung ke selatan sungai dengan jembatan kecil.
Batas wilayah Kecamatan Krian adalah sebagai berikut:[7]
Krian merupakan wilayah di Sidoarjo yang memiliki sejarah yang panjang. Salah satu peninggalan sejarah tertua di Krian adalah Prasasti Kamalagyan yang ditemukan di Desa Tropodo. Prasasti ini dikeluarkan oleh raja Kahuripan yaitu Airlangga pada tahun 959 Saka atau 1037 M. Prasasti ini untuk memperingati dibangunnya bendungan di Waringin Sapta di aliran Sungai Brantas untuk mengatasi banjir.[8] Beberapa tahun sesudahnya, Krian menjadi bagian dari Kadipaten Terung yang berada dalam kekuasaan Kerajaan Majapahit. Menurut Prasasti Canggu, Terung adalah salah satu pelabuhan penyeberangan penting di Majapahit.[9]
Pada akhir abad ke-15, terjadi perang besar antara Raden Kusen (Adipati Terung) di pihak Majapahit melawan saudaranya sendiri yaitu Raden Patah yang menjadi pendiri Kesultanan Demak. Perang tersebut berakhir dengan runtuhnya Kerajaan Majapahit. Nama Kadipaten Terung diabadikan menjadi dua nama desa yaitu Desa Terung Wetan dan Terung Kulon di Kecamatan Krian. Peninggalan Kadipaten Terung sekarang disimpan dalam sebuah museum sederhana bernama Museum Kreweng.[10] Di dekat museum tersebut juga terdapat Candi Terung serta wisata religi populer yaitu makam atau pesarean Raden Putri Ayu Ontjat Tondo Wurung yang merupakan putri dari Adipati Terung.[9]
Pada masa kolonial Belanda, Krian mengalami kemajuan yang pesat sehingga dijadikan pusat dari Kawedanan Krian. Krian saat itu menjadi daerah pembantu bupati yang membawahi kecamatan di Sidoarjo bagian barat yang mencakup Kecamatan Krian, Balongbendo, Tarik, Wonoayu, dan Prambon. Beberapa peninggalan sejarah dari zaman kolonial adalah pabrik gula, kantor kawedanan, dan bangunan kuno lainnya. Kantor kawedanan sendiri sekarang menjadi perpustakaan sedangkan pabrik gula sudah ditutup dan terbengkalai sejak pendudukan Jepang.[11]
Daftar kelurahan, desa, dan dusun
Kecamatan Krian terdiri dari 19 desa dan 3 kelurahan yang dibagi menjadi beberapa dusun / dukuh / lingkungan, yakni sebagai berikut:
Krian memiliki jumlah penduduk lebih dari 132 ribu jiwa menurut data BPS tahun 2024. Sebagian besar penduduknya beragama Islam yaitu sekitar 129 ribu atau sekitar 97%. Krian memiliki Masjid Besar Miftahul Abidin yang letaknya strategis di pusat kecamatan. Walaupun didominasi oleh Agama Islam, terdapat banyak pusat peribadatan lain yang ikonik di Krian seperti Kelenteng Teng Swie Bio untuk umat Tri Dharma dan Gereja Paroki Santa Monika untuk umat katolik. Krian juga memiliki salah satu institusi pendidikan islami terkemuka di Sidoarjo yakni Pesantren Modern Al Amanah Junwangi di Desa Junwangi. Saat ini Ponpes Junwangi juga memiliki cabang di Wonosalam (Jombang) dan Kras (Kediri). Salah satu tokoh Islam terkenal di Krian adalah KH. Sahlan Tholib.
PT. Jayamas Medica Industri - pabrik alat kesehatan dengan merk Onemed
Kiat Ananda Cold Storage - perusahaan penyimpanan dingin
Sentra industri tahu Tropodo - pabrik tahu di wilayah ini disorot karena menggunakan bahan bakar sampah plastik yang berpotensi membahayakan kesehatan.[12]