Kowak jepang (Gorsachius goisagi) adalah spesies burung bangau malam asli Jepang yang sangat langka dan ketika musim dingin, bermigrasi ke Indonesia dan Filipina.[1] Kowak bertubuh kecil dengan leher pendek, ketika dewasa bulunya cokelat kemerahan sementara Kowak muda lebih terang. Pada tahun 1835 Coenraad Jacob Temminck, ahli zoologiBelanda yang pertama kali mendeskripsikan burung spesies ini.[2] Kowak aktif di malam hari dan mendiami hutan lebat yang berdaun lebar, serta dekat dengan aliran sungai.[3] Saat ini status Kowak termasuk hewan langka yang dilindungi oleh Undang-UndangJepang dan Hong Kong.[4]
Morfologi
Burung bangau malam yang berwarna cokelat kemerahan, dengan tubuh kecil dan leher pendek. Rentang sayap sekitar 43 sampai 47 sentimeter. Pada Kowak dewasa, bulu kepala dan leher berwarna cokelat merah dan bulu sayapnya cokelat tua. Untuk Kowak muda, bulu di kepala berwarna hitam sementara warna bulu di sayap lebih terang dari Kowak dewasa.[4]
Baik Kowak dewasa maupun muda memiliki paruh yang lebar dan kulit berwarna kuning di sekitar mata. Salah satu ciri khas spesies ini adalah garis-garis hitam tebal yang tidak beraturan pada bulu penutup sayapnya.
Taksonomi
Kowak Jepang pertama kali dideskripsikan secara ilmiah pada tahun 1835 oleh ahli zoologiBelanda, Coenraad Jacob Temminck dengan nama binomialNycticorax gosagri berdasarkan spesimen dari Jepang.[2] Spesies ini kemudian ditempatkan dalam genus Gorsachius yang diperkenalkan pada tahun 1855 oleh naturalis PrancisCharles Lucien Bonaparte.[5] Nama genus Gorsachius berasal dari epitet spesifik goisagi, yang berakar dari bahasa Jepanggoi-sagi, istilah untuk kowak malam mahkota hitam.[6]
Habitat
Burung spesies ini mendiami hutan lebat yang berdaun lebar dan pegunungan rendah yang berdekatan dengan aliran sungai. Habitat ini relatif konsisten baik di wilayah berkembang biak maupun di wilayah musim dingin. Kowak Jepang biasanya ditemukan pada ketinggian antara 50 hingga 240 meter di atas permukaan laut. Namun, di Jepang burung ini pernah tercatat pada ketinggian lebih dari 1.000 meter, dan di Filipina hingga 2.400 meter, terutama pada hutan yang gelap dan terlindungi.[7]
Selama migrasi, Kowak Jepang dapat bergerak dalam kelompok campuran yang besar bersama lebih dari 1.000 burung kuntul lainnya, termasuk kowak malam mahkota hitam. Dalam beberapa kasus, burung ini dilaporkan melampaui tujuan migrasinya hingga mencapai Indonesia dan Palau.
Perilaku
Pola makan
Kowak Jepang mencari makan pada waktu senja secara soliter atau dalam kelompok kecil, dan jarang terlihat di area terbuka. Makanannya terutama terdiri atas hewan tanah di lantai hutan, seperti cacing tanah, siput, dan serangga kecil. Burung ini menggunakan paruhnya yang tebal untuk menggali mangsa dari tanah. Selain itu, burung ini juga memangsa krustasea dan ikan kecil di perairan dangkal di tepi rawa dan sawah. Kowak Jepang diketahui memilih siput yang lebih matang untuk menghindari cangkang yang masih lunak.[3]
Perkembangbiakan
Kowak Jepang umumnya berkembang biak di Jepang antara bulan Mei hingga Juli, tergantung waktu kedatangannya di lokasi berbiak. Sarang dibangun secara soliter di pohon tinggi seperti cedar, cemara, dan ek, dengan ketinggian hingga 20 meter. Sarang tersusun dari ranting-ranting dan daun yang disusun mendatar pada cabang pohon.[8]
Dalam satu musim berbiak, Kowak betina bertelur sebanyak tiga hingga lima butir. Penetasan tidak berlangsung serentak karena proses inkubasi dimulai segera setelah setiap telur diletakkan. Anak burung menetas dalam waktu berbeda dan setelah sekitar 35-37 hari meninggalkan sarang.[8]
Ancaman
Ancaman utama terhadap Kowak Jepang adalah deforestasi hutan dataran rendah untuk keperluan kayu dan perluasan lahan pertanian. Perubahan habitat tersebut berdampak pada wilayah berbiak dan mencari makan, serta mengganggu kebiasaan bersarangnya.
Selain itu, populasi burung gagak yang meningkat menyebabkan predasi terhadap sarang Kowak Jepang. Spesies ini juga menghadapi tekanan dari cerpelai Siberia(Mustela sibirica) yang diperkenalkan ke Hokkaido sejak awal abad ke-20. Cerpelai tersebut menjadi predator sekaligus pesaing dalam memanfaatkan sumber makanan yang sama.[9]
Konservasi
Populasi Kowak Jepang diperkirakan kurang dari 1.000 individu dewasa, sehingga spesies ini tergolong sangat langka. Burung ini dilindungi secara hukum di Jepang dan Hong Kong.[4] Upaya konservasi yang diusulkan meliputi penelitian lebih lanjut mengenai kebiasaan berembang biak, perlindungan habitat, peningkatan kesadaran publik, serta pengendalian spesies invasif yang berdampak terhadap populasi Kowak Jepang.[7]