Konvensi Nasional Demokrat 2004 menampilkan pembicara utamaBarack Obama yang saat itu masih merupakan calon Senator dari Illinois, yang kelak menjadi Presiden Amerika Serikat ke-44 pada tahun 2009. Gubernur New Mexico Bill Richardson menjabat sebagai ketua konvensi, sementara mantan penasihat presiden Bill Clinton, Lottie Shackelford, menjabat sebagai wakil ketua.
Senator Illinois Barack Obama yang maju sebagai calon Senator AS memberikan pidato utama pada 27 Juli 2004. Kemenangan mutlaknya dalam pra-seleksi calon Senator dari Partai Demokrat membuatnya menjadi kader bintang di skala nasional, memicu spekulasi bahwa ia akan maju sebagai calon Presiden Amerika Serikat pada masa yang akan mendatang, menyebabkan penerbitan ulang memoarDreams from My Father. Walaupun pidatonya tidak disiarkan oleh televisi komersial, membuat banyak pihak terpukau dan membuat memoarnya laris. Sebagai pembicara utama, Obama menetapkan nada untuk platform partai. Pidatonya, yang menyatakan adanya perpecahan yang tidak perlu dan artifisial dalam budaya dan politik Amerika, mengingatkan pada pidato kampanye John Edwards "Two Americas": "Tidak ada Amerika yang liberal dan Amerika yang konservatif—Hanya ada Amerika Serikat". Obama menggaris bawahi pentingnya persatuan bangsa dan menyelubungi ejekkan kepada George W. Bush dan media berita dianggap melakukan penyederhanaan berlebihan dan pengalihan isu-isu yang memecah belah: "Kita berdoa kepada Tuhan yang Maha Hebat di negara bagian biru, dan kita tidak suka agen federal mencari-cari di perpustakaan kami di negara bagian merah. Kami melatih Little League di negara bagian biru, dan ya, kami punya teman-teman gay di negara bagian merah. Ada patriot yang menolak perang di Irak dan ada patriot yang mendukung perang di Irak. Kita semua satu bangsa, kita semua bersumpah setia kepada Bintang dan Garis, kita semua berjuang mempertahankan Amerika Serikat".[1]
Obama juga mencatat warisan antar ras dan internasionalnya: Lahir di Honolulu kepada seorang ayah dari Kenya dan ibu berkulit putih dari Kansas. Ia menekankan kekuatan pendidikan, menceritakan keistimewaan bersekolah di Punahou School dan Harvard Law School yang eksklusif meskipun keluarganya miskin, dan mengkritik persepsi bahwa pemuda kulit hitam miskin yang membaca buku "bertindak seperti orang kulit putih." Ia kemudian menggambarkan kariernya yang sukses di bidang hukum dan politik sambil membesarkan keluarga di Chicago. "Kisah saya tidak mungkin terjadi di negara lain mana pun di Bumi ini," seru Obama. Menjelang akhir pidatonya, ia menekankan pentingnya harapan dalam kisah Amerika, dan ia menggambarkan bagaimana harapan itu terwujud dalam kehidupan John Kerry, John Edwards, dan bahkan kehidupan pribadinya sendiri, sebagai "seorang anak kurus dengan nama yang lucu yang percaya bahwa Amerika juga memiliki tempat untuknya." Menurut Obama, "keberanian untuk berharap" adalah "anugerah terbesar Tuhan" bagi rakyat Amerika, yang memungkinkannya merasa optimis bahwa kehidupan rata-rata rakyat Amerika dapat ditingkatkan dengan kebijakan pemerintah yang tepat. Setelah pidato tersebut, komentator politik Chris Matthews dengan tepat meramalkan "Saya baru saja melihat presiden kulit hitam pertama".[2]
Hasil pemunggutan suara
Pada hari-hari sebelum konvensi, mayoritas kandidat calon presiden mengundurkan diri, membebaskan delegasi mereka dan mendukung upaya John Kerry. Seluruh kader delegasi memutuskan untuk memilih Kerry sebagai calon presiden, kecuali pendukung Dennis Kucinich walaupun Kucinich juga mendukung Kerry. Banyak negara bagian menolak untuk membiarkan mereka melakukannya, dan hanya mengizinkan mereka untuk mendaftarkan abstain. Hasil terakhirnya adalah sebagai berikut:
Presiden
Pemunggutan suara presiden Konvensi Partai Demokrat, 2004[3]
Kerry dan yang lainnya berada di atas kapal di Pelabuhan Boston selama konvensi
Sebelum John Kerry mulai berpidato, putrinya berpidato mengenai ayahnya. Setelah itu, sebuah video ditayangkan ke hadirin menyorot beberapa babak kisah kehidupan Kerry, mulai dari lahir di Colorado, masa kecilnya di New England, perjalanannya menemani ayahnya yang merupakan seorang diplomat di Jerman pasca-Perang Dunia II, mengabdi di Perang Vietnam, diselingi oleh cuplikan pidato Kerry dan narasi suara. Setelah video berakhir, mantan Senator AS Max Cleland menyampaikan pidato yang menyatakan bahwa konflik global dan pertempuran aktif di Irak dan Afghanistan membutuhkan seorang pahlawan perang seperti Kerry di Gedung Putih. Ini diakhiri dengan masuknya John Kerry ke mimbar bicara, di mana ia memberikan hormat militer dan mengumumkan, "Saya John Kerry, dan saya melapor untuk bertugas!". Kerry kemudian menerima nominasinya sebagai calon presiden.
Partai Demokrat bereaksi positif terhadap pidato penerimaan John Kerry.[4] Karena Demokrat sangat menentang pemerintahan Bush, John Kerry menghabiskan sebagian besar pidatonya untuk menarik minat pemilih independen dan pemilih yang belum menentukan pilihan.[4] Ia berjanji untuk melatih sebanyak 40,000 tentara baru,[5] menerapkan rekomendasi dari Komisi 9/11,[5] memotong defisit nasional sebanyak setengah dalam jangka waktu empat tahun,[5] untuk memotong pajak kelas menengah sambil mencabut pemotongan pajak pemerintahan Bush bagi mereka yang berpenghasilan lebih dari US$200.000 per tahun,[5] untuk menghentikan privatisasi Jaminan Sosial,[5] dan untuk memperluas penelitian sel punca.[5]
Sehari setelah Kerry berpidato, kampanye pemilihan kembali Presiden George W. Bush mulai menyerang John Kerry dengan melawan klaim yang dibuat oleh John Kerry dan mengkritik visi misinya. Di Springfield, Missouri dalam sebuah acara kampanye, Bush berkata kepada sekumpulan orang: "Lawan saya memiliki niat yang baik, tetapi niat tidak selalu membuat hasil", menyerang kinerja Kerry selama menjadi senator.[6]