Tempat ibadah Kongco Pura Taman Gandasari awalnya berupa tempat peribadatan Hindu bernama Pura Ratu Gede Pancung, tempat pengayatan Ida Batari Sri. Pada tahun 1990an, pemangku pura yang bernama I Ketut Merta (alm) memperoleh pengalaman spiritual dengan Dewa Kwan Kong sehingga ia menyungsung (memuja) batara tersebut di Pura Ratu Gede Pancung. Atas permintaan pemangku pura yang lebih senior, areal pemujaan Batara Kwan Kong akhirnya dipisahkan dari area pura, yaitu di lokasi yang sekarang di samping Pura Ratu Gede Pancung.[5]
Kongco 'Kwan Kong Bio' atau Pura Taman Gandasari didirikan oleh Jero Mangku Ketut Mertha DK pada tahun 2001. Beliau adalah paman dari Jero Mangku Kadek Semarajaya, Ketua Pengurus Kongco saat ini. Pendirian kongco ini berawal dari pengalaman pribadi Jero Mangku Ketut Mertha yang menderita penyakit kencing manis dan hampir diamputasi kakinya.
Seminggu sebelum amputasi, beliau menerima wangsit untuk pergi ke Kelenteng Kwan Sing Bio di Tuban, Jawa Timur. Setelah mengikuti wangsit tersebut, beliau menerima petunjuk untuk mendirikan kongco Yang Mulia Kwan Kong di Bali agar memperoleh kesembuhan.
Demi merealisasikan pendirian kongco, Jero Mangku Ketut Mertha dan istrinya, Made Suarni, menjual harta benda mereka, termasuk rumah mereka dan Kelenteng Kwan Kong Bio Tuban juga memberikan bantuan. Kemudian diresmikan oleh ketua Yayasan Kwan Sing Bio pada hari Rabu, 11 Juli 2001.[6]
Pada awalnya, kongco ini berukuran kecil, namun seiring berjalannya waktu dan usaha yang dilakukan, kongco ini berkembang menjadi tempat ibadat umum seluas 8 are. Kondisi kesehatan Jero Mangku Ketut Mertha pun berangsur membaik hingga beliau wafat pada tahun 2015 dalam usia 70 tahun.
Pada 10 Agustus 2023 telah dipilih penggurus Kongco periode 2023-2028, dengan Made Suarni sebagai pengempon (pemilik) yang tidak lain istri dari Jero Mangku Ketut Mertha (alm) dan Jero Mangku Kadek Semarajaya sebagai ketua.
Persembahyangan
Sejid/Pujawali Konco
Dalam perayaan Sejid Konco, patung dewa diusung di atas joli atau tandu. Selain itu, patung dewa juga bisa dibawa dengan kiem sien, yaitu dengan diletakkan di atas pelangkiran kecil yang dipegangi dan diikat dengan kain merah di leher agar tidak jatuh saat mengikuti acara kirab.
Perayaan dimulai dengan menjamu para tamu yang disimbolkan dengan patung dewa yang akan mengikuti kirab Sejid Konco. Tahap selanjutnya adalah perjamuan yang dimulai dengan penerimaan kiem sien atau patung dewa dari seluruh peserta secara bergantian. Setelah prosesi tersebut, dilanjutkan dengan doa bersama di depan sejumlah patung dewa.
Kemudian, karpet merah dibuka dari depan pintu gerbang hingga ke ruang doa, tempat kiem sien disimpan. Melalui karpet tersebut, anak-anak, kaum muda, dan orang tua secara bergiliran memasuki area konco untuk melangsungkan persembahyangan. Tabuhan tambur mulai dimainkan saat menjelang tengah hari.
Dalam kegiatan ini, musik khas Tionghoa dimainkan oleh para peserta kirab. Tambur ditabuh, simbal dimainkan bersahutan, dan dalam prosesi kirab ini masyarakat sekitar biasanya ikut berpartisipasi.[7]
Pesinggahan Pura Luhur Lempuyang (Karangasem) Pesinggahan Ida Ratu Gede Maospait (Pura Dalem Ped-Nusapenida) Pesinggahan Ida Ratu Subandar (Pura Ponjok Batu-Buleleng) Pesinggahan Yang Mulia Kwan Seng Tee Kun (Kwan Sing Bio - Tuban, Jawa Timur)