100+ negarawan, ulama, dan perwira berpangkat tinggi terbunuh
20.000+ warga sipil, milisi, dan militan Isma'iliyah terbunuh
Banyak yang dihukum mati karena kecurigaan atau tuduhan sebagai Isma'iliyah atau bersimpati dengan Isma'ili.
Pada akhir abad ke-11, sekte Syiah Ismailiyah, khususnya cabang Nizari yang dipimpin Hassan-i Sabbah, mulai memperoleh banyak pengikut di Persia, meskipun wilayah tersebut berada di bawah kekuasaan Seljuk yang memeluk Islam Sunni. Ketegangan antara otoritas Abbasiyah-Seljuk dan kaum Ismailiyah memicu pemberontakan yang menandai awal Periode Alamut.
Pemerintahan Seljuk yang terdesentralisasi, lemahnya koordinasi militer, serta ketimpangan sosial-ekonomi membuat mereka sulit menumpas pemberontakan. Kaum Nizari, meski secara militer lebih lemah, bertahan melalui taktik pertahanan di benteng-benteng pegunungan dan pembunuhan tokoh-tokoh penting musuh, yang kemudian melahirkan julukan Hassasin. Pertempuran berkepanjangan tanpa hasil menentukan membuat kedua pihak terjebak dalam kebuntuan. Dengan kekuatan Nizari yang terbatas pada benteng-benteng terpencil dan Seljuk yang tidak mampu menaklukkan mereka sepenuhnya, akhirnya kekaisaran Seljuk secara de facto menerima keberadaan dan kemerdekaan komunitas Nizari di wilayah tersebut.
Sumber
Sebagian besar catatan asli yang ditulis oleh kaum Nizari hilang akibat invasi Mongol dan masa pemerintahan Ilkhanat (1256–1335). Akibatnya, pengetahuan tentang sejarah Nizari di Persia terutama bergantung pada sumber-sumber non-Nizari dari era Ilkhanat, seperti Tarikh-i Jahangushay karya Ata-Malik Juwaini, yang menyaksikan langsung penaklukan benteng-benteng Nizari oleh Mongol, serta Zubdat at-Tawarikh karya Abdullah bin Ali al-Kasyani dan Jami‘ at-Tawarikh karya Rashid al-Din Hamadani.[1]
Latar belakang
Pada abad ke-10, dunia Muslim berada di bawah dominasi dua kekuatan besar, yaitu Kekhalifahan Fatimiyah yang beraliran Syiah Ismailiyah menguasai Afrika Utara dan Syam, sementara Kekaisaran Seljuk yang beraliran Sunni memerintah wilayah Persia. Menjelang akhir masa kepemimpinan khalifah Fatimiyah al-Mustansir Billah (1036–1094), ajaran Ismailiyah semakin berkembang di wilayah Persia yang berada di bawah kendali Seljuk, menggantikan pengaruh ajaran Qaramitah yang mulai memudar. Pada masa itu, komunitas Ismailiyah Persia mengakui otoritas seorang kepala Da’i (pemimpin misionaris) yang bermarkas secara rahasia di ibu kota Seljuk, Isfahan. Tokoh yang memegang posisi tersebut pada 1070-an adalah Abd al-Malik bin Attash, seorang cendekiawan Fatimiyah yang dihormati bahkan oleh kalangan Sunni. Ia kemudian memimpin pemberontakan pada tahun 1080 sebagai respons terhadap meningkatnya penindasan Seljuk terhadap kaum Ismailiyah.[2]
Metode pembunuhan ala Nizari
Struktur pemerintahan dan kekuatan militer Kekaisaran Seljuk yang jauh lebih unggul mendorong kelompok Nizari untuk menggunakan taktik pembunuhan terarah guna mencapai tujuan politik dan militer mereka.[3] Strategi ini terbukti efektif dalam melemahkan kekuasaan Seljuk dan menjadi ciri khas mereka, hingga membuat mereka dikenal dengan sebutan “Assassin.” Hampir semua pembunuhan penting di wilayah itu kemudian dikaitkan dengan kelompok Nizari. Meskipun banyak legenda abad pertengahan bermuatan anti-Nizari berkembang seputar metode ini, catatan sejarah yang dapat dipercaya mengenai proses seleksi dan pelatihan para fida’i (pejuang pengorbanan) masih sangat terbatas. Diketahui bahwa komunitas Ismailiyah di Persia memandang sesama anggota mereka sebagai rafīq (“rekan” atau “kamerad”) dan siap menjalankan berbagai tugas demi kepentingan kelompok. Namun, pada akhir periode Alamut, para fida’i tampaknya telah berkembang menjadi satuan khusus yang memiliki semangat dan solidaritas internal yang kuat.[4]
Daftary, Farhad (2007). The Isma'ilis: Their History and Doctrines (dalam bahasa Inggris) (Edisi 2nd, revised). Cambridge University Press. ISBN978-1-139-46578-6.
Artikel ini tidak memiliki konten kategori. Bantulah dengan menambah kategori yang sesuai sehingga artikel ini terkategori dengan artikel lain yang sejenis.