Konflik Proksi Iran-Israel 1985 - Sekarang
Konflik Proksi Iran-Israel adalah konflik tidak langsung yang berlangsung antara Republik Islam Iran dan Negara Israel sejak akhir abad ke-20 hingga saat ini. Konflik ini ditandai dengan dukungan kedua negara terhadap kelompok-kelompok proksi dan milisi yang beroperasi di berbagai wilayah Timur Tengah tanpa terlibat dalam konfrontasi militer langsung secara terbuka.
Akar konflik ini bermula dari perubahan fundamental hubungan bilateral kedua negara pasca Revolusi Islam Iran tahun 1979. Sebelum revolusi, Iran Imperial di bawah Shah Mohammad Reza Pahlavi menjalin hubungan diplomatik erat dengan Israel berdasarkan doktrin periferi, dimana kedua negara memandang kekuatan Arab sebagai ancaman bersama. Namun, setelah Ayatollah Ruhollah Khomeini berkuasa, Iran memutuskan pengakuan terhadap Israel sebagai negara berdaulat, memutus seluruh hubungan diplomatik, komersial, dan hubungan lainnya, serta mulai menyebut pemerintah Israel sebagai "rezim Zionis" dan wilayah Israel sebagai "Palestina yang diduduki".
Meskipun ketegangan politik meningkat, Israel memberikan dukungan kepada Iran selama Perang Iran-Irak periode 1980-1988 dengan menjadi salah satu pemasok utama peralatan militer dan instruktur militer kepada Iran. Dukungan Israel mencapai puncaknya ketika melakukan penghancuran reaktor nuklir Osirak Irak dalam Operasi Babylon, yang dianggap sebagai komponen sentral program senjata nuklir Irak dan secara tidak langsung menguntungkan posisi strategis Iran.
Invasi Israel ke Lebanon tahun 1982 menjadi katalis pembentukan jaringan proksi Iran di kawasan tersebut. Invasi ini mengakibatkan keluarnya Organisasi Pembebasan Palestina dari Lebanon, tetapi memicu pembentukan Hezbollah sebagai gerakan perlawanan Syiah Lebanon yang dilatih dan dipersenjatai oleh Iran. Iran terus mendukung milisi Syiah selama pendudukan Israel atas Lebanon Selatan dan mengembangkan jaringan aliansi yang kemudian disebut sebagai "poros perlawanan" yang bertujuan menentang kepentingan Amerika Serikat dan Israel di kawasan Timur Tengah.
Dalam konflik Israel-Palestina, Iran memberikan dukungan kepada kelompok-kelompok Palestina seperti Hamas dan Jihad Islam Palestina melalui penyediaan persenjataan, pelatihan, dan bantuan finansial. Sebaliknya, Israel telah mendukung kelompok pemberontak Iran seperti Mujahedin-e Khalq, melakukan serangan udara terhadap sekutu Iran di Suriah, dan melakukan pembunuhan terhadap ilmuwan nuklir Iran. Pada tahun 2018, pasukan Israel secara langsung menyerang kekuatan Iran di Suriah, menandai eskalasi baru dalam konflik ini.
Menurut analisis Pusat Stimson, Iran secara historis mengoperasikan setidaknya empat front utama dalam konflik proksi ini, yaitu Hamas di Gaza, Hezbollah di Lebanon, milisi Syiah di Irak, dan Houthi di Yaman. Strategi ini bertujuan memaksa Israel untuk mempertahankan diri di berbagai front secara bersamaan, sehingga mengurangi kemampuannya untuk fokus pada kapabilitas nuklir atau militer Iran serta memberikan tekanan tidak langsung kepada Israel. Kelompok-kelompok proksi ini dalam beberapa kasus berkembang menjadi partai politik yang memperoleh legitimasi politik sambil menyamarkan aktivitas militan mereka.
Konflik ini telah mengakibatkan serangkaian perang dan konfrontasi, termasuk perang Israel-Hezbollah tahun 2006 dan berbagai perang Israel-Palestina di Jalur Gaza pada tahun 2008-2009, 2012, 2014, 2021, dan sejak 2023. Para pejabat intelijen Amerika Serikat menilai bahwa Iran tidak mencari konflik yang lebih luas, dengan tujuan utama kelompok proksi Iran adalah menargetkan Israel dan Amerika Serikat dengan cara yang menghindari pemicu perang skala besar. Amerika Serikat dianggap sebagai pendukung militer terbesar Israel, sementara Jerman, Inggris, dan Italia juga telah memasok senjata kepada Israel dalam konteks konflik yang berlangsung ini.[4]
Serangan Israel (13-14 Juni 2025)
Pada 13 Juni 2025, Israel melancarkan Operasi Rising Lion yang menyasar puluhan lokasi strategis di Iran. Serangan ini diarahkan pada fasilitas nuklir utama Iran, termasuk kompleks pengayaan uranium di Natanz yang terletak 225 kilometer sebelah selatan Teheran. Target lainnya mencakup markas besar Kementerian Pertahanan Iran, Organisasi Inovasi dan Penelitian Pertahanan, fasilitas nuklir Isfahan, serta infrastruktur energi seperti kilang minyak dan kapal tanker Shahran.
Serangan udara ini mengakibatkan korban jiwa di kalangan petinggi militer Iran, termasuk Kepala Garda Revolusi Iran Hossein Salami dan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Mohammad Bagheri. Dua ilmuwan nuklir senior, Fereydoon Abbasi (mantan kepala Organisasi Energi Atom Iran) dan Mohammad Mehdi Tehranchi (rektor Universitas Islam Azad Teheran), juga dilaporkan tewas dalam serangan tersebut.[5]