Keraton Kesultanan Ternate adalah istana kediaman Sultan Ternate bergaya bangunan Abad 19, berlantai dua, menghadap ke arah laut dikelilingi perbentengan, terletak satu kompleks dengan Sigi Lamo (Mesjid Sultan Ternate). Di halaman samping kanan depan terdapat pintu gerbang yang disebut Ngara Upas. Memasuki istana dari depan melalui dua buah tangga masing-masing beranak tangga 27 buah.
Sesudah melewati tangga-tangga tersebut, ditemui beranda terbuka yang disebut balkon, selanjutnya ke ruang tamu melalui sebuah pintu yang disebut Hajral. Di atas pintu ini terdapat prasasti yang bertuliskan Arab, isinya menjelaskan tentang pendirian Kesultanan Ternate.
Secara administratif kesultanan Ternate terletak di Soasio. Konon, mulai tahun 1981 keraton Ternate pernah dialihfungsikan menjadi Museum Memorial Kesultana Ternate, dengan menyimpan koleksi artefak yang berkaitan dengan eksistensi Kesultanan Ternate.
Perkembangan dan Fungsi Kontemporer
Pada masa kini, Kedaton Kesultanan Ternate tidak hanya berfungsi sebagai kediaman simbolik keluarga kesultanan, tetapi juga menjadi museum dan destinasi wisata sejarah yang terbuka bagi masyarakat. Di dalam kompleks kedaton terdapat Museum Memorial Sultan M. Djabir Sjah, yang menyimpan berbagai koleksi benda bersejarah terkait Kesultanan Ternate, termasuk singgasana sultan, perhiasan kerajaan, serta berbagai artefak dari masa perdagangan rempah di Maluku.[1]
Koleksi museum tersebut juga mencakup benda-benda yang berkaitan dengan sejarah geologi, arkeologi, etnografi, dan teknologi tradisional di wilayah Maluku Utara. Beberapa di antaranya berasal dari periode awal kontak antara kerajaan-kerajaan Maluku dengan bangsa Eropa pada abad ke-15 hingga abad ke-17.[1]
Dalam perkembangannya, kompleks kedaton juga berfungsi sebagai pusat kegiatan budaya dan edukasi yang berkaitan dengan sejarah Kesultanan Ternate dan warisan budaya masyarakat Maluku Utara. Berbagai kegiatan seperti pameran, pertunjukan seni tradisional, dan kegiatan edukasi sejarah kerap diselenggarakan di kawasan ini.[2]
Selain itu, Kedaton Kesultanan Ternate juga menjadi salah satu tujuan wisata sejarah yang sering dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara. Pada tahun 2025, misalnya, sekitar 150 wisatawan mancanegara yang datang menggunakan kapal pesiar Seabourn Quest mengunjungi kedaton dan disambut dengan tradisi adat Joko Kaha, sebuah bentuk penghormatan bagi tamu yang berkunjung ke wilayah Maluku Utara.[3]
Para wisatawan tersebut juga diperkenalkan dengan berbagai aspek budaya lokal di lingkungan kedaton, seperti pertunjukan tarian tradisional, kerajinan tenun khas Ternate, serta berbagai produk usaha mikro masyarakat setempat.[3]
Peran dalam Pelestarian Warisan Budaya
Sebagai salah satu pusat sejarah penting di kawasan timur Indonesia, Kedaton Kesultanan Ternate memiliki peran penting dalam pelestarian warisan sejarah dan budaya Kesultanan Ternate, yang pada masa lalu merupakan salah satu kerajaan maritim besar di kawasan Maluku dan Nusantara bagian timur.[2]
Keberadaan kedaton beserta koleksi museumnya menjadi sumber penting bagi penelitian sejarah, budaya, serta perkembangan perdagangan rempah yang pernah menjadikan Ternate sebagai pusat jaringan perdagangan internasional.[2]
Artikel bertopik umum ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.
Jika Anda melihat halaman yang menggunakan templat {{stub}} ini, mohon gantikan dengan templat rintisan yang lebih spesifik.