Kepulauan Mentawai

Kepulauan Mentawai adalah sebuah kepulauan di Provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Pembentukan Kepulauan Mentawai diperkirakan terjadi di lepas pantai bagian barat Pulau Sumatera pada zaman Pleistosen Tengah akibat peristiwa kenaikan tinggi permukaan air laut. Pulau-pulau di Kepulauan Mentawai membentang dari arah utara ke tenggara. Gugusan pulau di Kepulauan Mentawai merupakan perbukitan tanpa gunung dengan dataran berupa rawa-rawa yang subur dan sungai-sungai berukuran kecil. Jumlah pulau di gugusan Kepulauan Mentawai sebanyak 323 pulau dengan empat pulau berukuran besar yaitu Pulau Siberut, Pulau Sipora, Pulau Pagai Utara dan Pulau Pagai Selatan.
Luas Kepulauan Mentawai sekitar 8.000 km2. Sejak abad ke-18 Masehi, Kepulauan Mentawai berada dalam pemerintahan Hindia Belanda. Selama dasawarsa 1970-an, Kepulauan Mentawai menjadi bagian dari pemerintahan Kabupaten Padang Pariaman. Kemudian sejak tahun 1999, Kepulauan Mentawai termasuk dalam wilayah administrasi Kabupaten Kepulauan Mentawai.
Suku asli yang menghuni Kepulauan Mentawai adalah suku Mentawai yang umumnya bermukim di kawasan pedalaman. Kepulauan Mentawai juga dihuni oleh penduduk pendatang dari suku Minang, suku Jawa, suku Batak, suku Nias dan peranakan Tionghoa yang bermukim di pusat-pusat kecamatan. Pada tahun 2015, jumlah penduduk di Kepulauan Mentawai mencapai sebanyak 68.000 jiwa.
Suku Mentawai di Kabupaten Kepulauan Mentawai mengalami kebudayaan Proto Melayu yaitu neolitikum. Namun penduduk di luar Pulau Siberut telah mulai menerapkan kebudayaan yang sesuai dengan pekerjaan sebagai petani. Kebudayaan Mentawai yang masih dilestarikan di Pulau Siberut meliputi uma, punen, sikerei, dan pembuatan tato. Bahasa yang digunakan di Kepulauan Mentawai adalah bahasa Mentawai terutama dialek Sikakap.
Penduduk di Kepulauan Mentawai sebagian besar memakan makanan berbahan sagu dan keladi sebagai makanan pokok. Suku Mentawai di Kepulauan mentawai memiliki makanan khas yaitu subbet dan kapurut. Penduduk suku Mentawai di Kepulauan Mentawai memanfaatkan lahan sebagai ladang untuk penanaman sagu, pisang, talas atau keladi dengan metode tebang dan busukan selama pembukaan lahan. Sebelum dimulainya masa Hindia Belanda, penduduk asli di pulau Pagai Utara dan pulau Pagai Selatan pada kepulauan Mentawai telah memiliki hubungan perdagangan lada dengan pedagang dari Ranah Minang dan Bengkulu.
Kepercayaan asli yang dianut oleh penduduk Kepulauan Mentawai dari suku Mentawai ialah animisme dengan agama lokal bernama Arat Sabulungan. Pemimpin peribadatan dalam Arat Sabulungan dinamakan sikerei dan berperan mengadakan peribadatan berdasarkan tradisi lisan. Penduduk di Kepulauan Mentawai hampir tidak menerima pengaruh keagamaan apapun dari wilayah luar kepulauannya selama masa penyebaran agama Hindu maupun agama Buddha di Pulau Sumatra dan Pulau Jawa. Setelah itu, penyebaran agama Islam di wilayah kekuasaan Sriwijaya juga tidak memberikan pengaruh terhadap keagamaan bagi masyarakat di Kepulauan Mentawai. Penyebaran agama Islam kembali dilakukan di Kepulauan Mentawai selama masa Hindia Belanda.
Pada tahun 1901 M, ajaran Protestan mulai disebarkan di daerah Sikakap dan Pulau Sipora oleh para misionaris Kristen Protestan. Penyebaran ajaran Protestan oleh para misionaris diadakan di bagian selatan Kepulauan Mentawa dan berhasil membaptis beberapa anggota suku Mentawai di Kepulauan Mentawai sejak tahun 1916 M. Pada tahun 1953 M, para misionaris dari Gereja Katolik memulai penyebaran ajaran Katolik di Kepulauan Mentawai dan berhasil membangun gedung gereja pertama di Desa Muara Siberut pada tahun 1954. Sementara itu, agama Islam menjadi agama yang terakhir berkembang di Kepulauan Mentawai dengan pembentukan Badan Otorita Khusus Kepulauan Mentawai yang mengadakan kegiatan penyebaran Islam di Kepulauan Mentawai sejak tahun 1971. Agama mayoritas yang dianut oleh penduduk di Kepulauan Mentawai kini ialah Protestan, Katolik dan Islam. Namun Arat Sibulungan masih diyakini oleh sebagian besar anggota suku Mentawai yang telah menjadi penganut agama Katolik, Protestan maupun Islam.
Kepulauan Mentawai memiliki kawasan hutan yang berstatus sebagai Taman Nasional Siberut seluas 190.500 ha dan dihuni oleh empat spesies primata endemik yaitu siamang kerdil, beruk mentawai, lutung mentawai dan simakobu. Keempat spesies primata endemik di Kepulauan Mentawai berstatus sebagai hewan yang dilindungi di Indonesia.[1] Bagian tengah maupun pinggiran Taman Nasional Siberut juga menjadi permukiman bagi penduduk asli dari suku Mentawai.
Kepulauan Mentawai memiliki beragam karakteristik ombak yang membuat kondisinya sangat sesuai untuk kegiatan selancar oleh peselancar. Para peselancar mancanegara mulai mengunjungi Kepulauan Mentawai sejak akhir dasawarsa 1990-an untuk berselancar pada 71 lokasi yang dijadikan sebagai tujuan wisata selancar. Pada tahun 2017, Dinas Pariwisata Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Kepulauan Mentawai mencatat sebanyak 10.500 wisatawan asal Australia, Amerika Serikat, Jepang, Spanyol dan Brasil yang mengunjungi Kepulauan Mentawai.
Pembentukan dan penamaan

Kepulauan Mentawai diperkirakan mulai terbentuk pada zaman Pleistosen Tengah.[2] Sekitar setengah juta tahun lalu, daratan di Kepulauan Mentawai terpisah dari daratan Asia.[3] Pembentukan Kepulauan Mentawai kemudian terjadi sepenuhnya setelah pemisahan dengan daratan Pulau Sumatera selama tahapan kenaikan tinggi permukaan air laut. Pulau-pulau di Kepulauan Mentawai terpisahkan dari daratan Pulau Sumatera oleh laut dengan kedalaman 1.500 meter di bawah permukaan laut.[2] Sebelum pemisahan dengan daratan Sumatra, bagian yang tidak terpisah merupakan sebuah lembah sungai.[4]
Nama Kepulauan Mentawai diperoleh dari nama suku Mentawai yang merupakan penghuninya. Penamaan suku Mentawai sebagai 'mentawai' sendiri tidak diketahui asal-usulnya secara jelas. Namun, nama kepulauan Mentawai telah digunakan oleh para pedagang yang menuturkan bahasa Melayu sejak akhir abad ke-18 untuk menyebut wilayah yang dihuni oleh suku Mentawai.[5]
Suku Mentawai sendiri sebagai asal penyematan nama mentawai memiliki perbedaan mengenai asal-usul namanya. Sebagian pendapat menyatakan bahwa mentawai berasal dari istilah si manteu, nama Ama Tawe ataupun istilah aman tak ioi. Istilah si manteu berarti laki-laki dalam dalam bahasa Mentawai. Nama Ama Tawe diyakini sebagai leluhur suku Mentawai dari pulau Nias. Sementara itu, istilah aman tak ioi berarti “dari bapak yang tidak tahu asalnya dari mana”. Istilah aman tak ioi sesuai dengan kondisi kebingungan orang Mentawai mengenai asal leluhur mereka antara dari daratan pulau Sumatera, pulaau Nias atau daerah lainnya. Seiring waktu, istilah aman tak ioi berubah pengucapannya menjadi aman tawoi.[6]
Kondisi geografi

Luas Kepulauan Mentawai sekitar 8.000 km2.[7] Lokasi Kepulauan Mentawai berada di lepas pantai bagian barat Pulau Sumatera.[8] Jarak kepulauan Mentawai dari pantai bagian barat Pulau Sumatera sekitar 120 km.[9] Kepulauan Mentawai secara geografis terletak antara 0° 93' – 3° 38' Lintang Selatan dan 98°'59' – 100° 48' Bujur Timur.[10] Kepulauan Mentawai berbatasan langsung dengan samudra Hindia.[11] Posisi pulau-pulau di Kepulauan Mentawai berbentuk bentangan.[12] Arah bentangan pulau-pulau di Kepulauan Mentawai ialah dari arah utara ke tenggara.[13]
Gugusan pulau di Kepulauan Mentawai merupakan gugusan pulau non-vulkanik yang merupakan puncak-puncak dari suatu punggung pegunungan bawah laut.[14] Kepulauan Mentawai terdiri dari perbukitan yang tingginya tidak melebihi 500 meter sehingga tidak ada gunung sama sekali. Tanah di Kepulauan Mentawai secara umum merupakan dataran berupa rawa-rawa yang subur dengan sungai-sungai berukuran kecil.[15]
Jumlah pulau di gugusan Kepulauan Mentawai sebanyak 99 pulau.[16] Sebanyak empat pulau di antaranya merupakan pulau yang berukuran lebih luas dibandingkan pulau-pulau lainnya yang termasuk pulau kecil.[10] Keempat pulau terluas di Kepulauan Mentawai ialah Pulau Siberut, Pulau Sipora, Pulau Pagai Utara, dan Pulau Pagai Selatan. Pulau Siberut memiliki wilayah seluas 4.097 km2. Pulau Sipora memiliki wilayah seluas 916 km2. Pulau Pagai Utara memiliki wilayah seluas 1.733 km2. Sedangkan pulau Pagai Selatan memiliki wilayah seluas 1.733 km2.[17]
Pulau Siberut

Pulau Siberut merupakan pulau terbesar di Kepulauan Mentawai dan terletak paling utara.[18] Bentuk pulau Siberut seperti segi empat yang memanjang.[19] WIlayah bagian tenggara Pulau Siberut dilalui oleh sungai Rereiket yang merupakan sungai utama di Pulau Siberut.[20] Selain itu, di Pulau Siberut terdapat beberapa anak sungai yaitu sungai Bad Pora, sungai Muamamemebaga, dan sungai Matotonan.[21][22][23] Di Pulau Siberut juga terdapat banyak air terjun.[24]
Pulau Siberut tidak mengalami musim kemarau karena hujan terjadi dengan intensitas tinggi dengn tingkat kejadian rata-rata dua hari sekali sepanjang tahun dengan intensitas tertinggi pada bulan April, September dan Desember. Hujan yang terjadi selama bulan April, September dan Desember selama beberapa jam dalam sehari dapat meningkatkan ketinggian air sungai hingga lima meter pada lembah-lembah di pulau Siberut.[19]
Pulau Sipora
Pulau Sipora memiliki wilayah berupa perbukitan yang bergelombang. Di Pulau Sipora terdapat bantaran sungai dan pantai.[25] Pulau Sipora dialiri oleh 32 sungai tetapi sungai dengan aliran yang permanen sepanjang tahun hanya 17 sungai.[26]
Pulau Pagai Utara
Daratan di bagian tengah Pulau Pagai Utara merupakan perbukitan yang memanjang dengan arah barat laut ke tenggara. Daratan Pulau Pagai Utara terpisahkan dari Pulau Pagai Selatan oleh sebuah selat sempit dan dalam yaitu selat Sikakap.[27]
Pulau Pagai Selatan
Daratan di Pulau Pagai Selatan merupakan perbukitan. Perbukitan di bagian utara Pulau Pagai Selatan berpasir. Pada tanjung di bagian selatan Pulau Pagai Selatan terdapat perbukitan yang terpisah dari perbukitan di bagian barat Pulau Pagai Selatan.[27] Pesisir barat Pulau Pagai Selatan merupakan dataran rendah dengan vegetasi yang rapat.[28]
Sejarah
Menurut Stefano Coronese, tulisan paling awal mengenai Mentawai yang diketahui adalah laporan pelayaran pelaut Inggris, di antaranya Randolph Marriott pada tahun 1749, John Saul pada tahun 1750-1751, dan Kapten Thomas Forrest pada tahun 1757.[29] Inggris mencoba mendirikan perkebunan merica, tapi gagal. Pegawai Perusahaan Hindia Timur Britania Raya John Crisp, mengunjungi Mentawai tahun 1749 dan 1757. Laporannya dipublikasikan tahun 1792.[30][31]
Wilayah administratif
Pemerintah Hindia Belanda
Belanda menyatakan kekuasaannya atas kepulauan Mentawai secara resmi pada 10 Juli 1864.[32][33] Namun hingga akhir abad ke-19, Kepulauan Mentawai hanya dikunjungi sesekali saja oleh pasukan militer Hindia Belanda, tepatnya di Sipora tahun 1893 untuk menghentikan penjarahan kapal dagang oleh penduduk Mentawai.[32] Pangkalan militer Hindia Belanda baru didirikan pada awal abad ke-20 di Pulau Siberut dengan pengiriman sepasukan tentara tahun 1904.[34] Lokasi pangkalan militer Hindia Belanda semula berada di Muara Saibi, sebelum dipindahkan ke Muara Siberut karena pasokan air tawar di Muara Saibi tidak mencukupi kebutuhan pasukan.[35]
Pemerintah Indonesia

Pada masa kini, kepulauan Mentawai merupakan salah satu wilayah terluar Indonesia.[36] Kepulauan Mentawai berada di bagian barat dalam wilayah Provinsi Sumatera Barat.[37] Selama dasawarsa 1970-an, Kepulauan Mentawai tetap menjadi bagian dari pemerintahan Kabupaten Padang Pariaman tetapi memiliki suatu lembaga yang menangani persoalan pembangunannya yaitu Badan Otorita Pembangunan Kepulauan Mentawai. Namun Badan Otorita Pembangunan Kepulauan Mentawai tidak lagi berfungsi setelah dasawarsa 1970-an.[38]
Pada tahun 1982, Kepulauan Mentawai menjadi Wilayah Kerja Pembantu Bupati Padang Pariaman yang dipimpin oleh seorang pembantu bupati. Pusat pemerintahannya terletak di Pulau Siberut.[39] Kemudian sejak tahun 1999, Kepulauan Mentawai termasuk dalam wilayah administrasi Kabupaten Kepulauan Mentawai setelah Kepulauan Mentawai tidak lagi menjadi wilayah administrasi Kabupaten Padang Pariaman dalam wilayah Provinsi Sumatera Barat.[10] Setelah Kabupaten Kepulauan Mentawai terbentuk, ibu kota atas Kepulauan Mentawai terletak di Tuapeijat yang wlayahnya berada di Pulau Sipora.[40] Jabatan sebagai Bupati Kepulauan Mentawai yang pertama ditetapkan kepada Badril Bakar sesuai dengan keputusan pengangkatan oleh Menteri Dalam Negeri Indonesia.[41]
Demografi
Penduduk dan permukiman

Suku asli yang menghuni Kepulauan Mentawai adalah suku Mentawai.[42] Suku Mentawai diperkirakan telah menghuni Kepulauan Mentawai dimulai dari Pulau Siberut sejak 1500–500 SM selama masa penyebaran bangsa Proto Melayu ke Nusantara yang berasal dari Yunnan di bagian selatan Tiongkok.[43] Masyarakat Kepulauan Mentawai dari suku Mentawai secara umum menghuni bagian pedalaman pulau-pulau di Kepulauan Mentawai.[44] Pulau-pulau yang dihuni oleh suku Mentawai ialah Pulau Siberut, Pulau Sipora, Pulau Pagai Utara dan Pulau Pagai Selatan.[45]
Pulau Siberut sebagai pulau terbesar di Kepulauan Mentawai sebagian besar dihuni oleh suku Mentawai.[46] Asal penduduk di pulau-pulau selain Pulau Siberut diperkirakan awalnya berasal dari penduduk di Pulau Siberut.[19] Cerita lisan dari penduduk lokal kepulauan Mentawai yaitu suku Mentawai memberikan keterangan bahwa penduduk yang menetap di pulau Sipora, pulau Pagai Utara dan pulau Selatan berasal dari penduduk tetap dari bagian tenggara pulau Siberut yang berpindah tempat tinggal ke arah selatan pulau Siberut.[47] Perpindahan penduduk suku Mentawai di Pulau Siberut ke Pulau Sipora, Pulau Pagai Utara dan Pulau Pagai Selatan terjadi akibat terjadinya banjir, wabah, atau konflik antraklan.[48] Proses perpindahan penduduk dari bagian tenggara pulau Siberut didukung oleh keberadaan teluk yang terlindung dengan kondisi ombak yang tenang sehingga perairannya mudah dilayari oleh sampan berukuran kecil.[47]
Permukiman penduduk suku Mentawai di Kepulauan Mentawai umumnya dibangun di sekitar muara sungai.[49] Pada masa kekuasaan Hindia Belanda atas kepulauan Mentawai, telah ada penduduk pendatang di pulau Pagai Utara dan pulau Pagai Selatan yang merantau dari Ranah Minang dan Bengkulu untuk berdagang. [50]
Pada tahun 2011, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dan Badan Pusat Statistik di wilayah tugas Kabupaten Kepulauan Mentawai memperkirakan bahwa jumlah penduduk di Kepulauan Mentawai sebanyak 76.173 jiwa. Sebanyak 36.699 jiwa berjenis kelamin perempuan dan sebanyak 39.504 jiwa berjenis kelamin lak-laki. Tingkat kepadatan penduduk di Kepulauan Mentawai pada tahun 2011 rata-rata sebesar 12 jiwa per km2.[51]
Pada tahun 2015, jumlah penduduk di Kepulauan Mentawai mencapai sebanyak 68.000 jiwa.[52] Jumlah rumah tangga di kepulauan Mentawai pada tahun 2017 sebanyak 22.268 rumah tangga menurut data yang dihimpun oleh Perusahaan Listrik Negara untuk wilayah kepulauan Mentawai.[16] Suku asal dari penduduk pendatang di kepulauan Mentawai pada masa kini meliputi suku Minangkabau, suku Jawa, suku Batak, suku Nias dan peranakan Tionghoa. Penduduk pendatang secara umum bermukim di pusat-pusat permukiman pada tingkat kecamatan.[44]
Kebudayaan
Suku Mentawai di Kepulauan Mentawai mengalami kebudayaan Proto Melayu yaitu neolitikum.[53] Masyarakat dari suku Mentawai mengalami masa neolitikum berdasarkan temuan mata kapak batu yang ditemukan di Pulau Siberut pada tahun 1970.[54] Suku Mentawai di Pulau Siberut sebagai masyarakat dominan di Kepulauan Mentawai masih melestarikan kebudayaan tradisional.[55] Sementara itu, penduduk Kepulauan Mentawai selain di Pulau Siberut telah mengalami perubahan kebudayaan akibat berbaur dengan penduduk pendatang dari luar Keulauan Mentawai.[55]
Suku Mentawai di Kepulauan Mentawai awalnya dikenal sebagai peramu yang tidak mengenal pertanian.[45] Suku Mentawai di Kepulauan Mentawai tidak mengenal teknologi budidaya padi. Selain itu, suku Mentawai juga tidak mengenal teknik menenun, teknik pengerjaan logam maupun teknik pembuatan tembikar.[5] Namun penduduk di luar Pulau Siberut telah mulai menerapkan kebudayaan yang sesuai dengan pekerjaan sebagai petani. Namun adat suku Mentawai yaitu semboyan Musara Kasimaeru tetap diterapkan oleh suku Mentawai di seluruh Kepulauan Mentawai.[55]

Kebudayaan Mentawai yang masih dilestarikan di Pulau Siberut meliputi uma, punen, sikerei, dan pembuatan tato.[55] Uma adalah sebuah rumah berukuran besar dan memanjang yang dihuni oleh sebanyak lima hingga sepuluh keluarga inti.[56] Bagi perempuan yang telah menikah, uma yang ditinggalinya ialah uma suaminya. Jika suami meninggal dan istri menjadi janda, maka janda kembali ke uma asalnya dan diberi lahan untuk berkebun dari rumah tangga saudara laki-lakinya.[57] Punen adalah pertemuan seluruh anggota uma untuk menentukan waktu dimulainya pembukaan lahan dan pembuatan ladang untuk masing-masing keluarga dalam uma.[58] Sikerei adalah salah satu anggota suku Mentawai yang ahli dalam mengobati penyakit melalui penyembahan setelah mengadakan inisiasi secara sendirian di dalam hutan. Sikerei tidak tergabung dalam uma manapun dalam suku Mentawai.[59] Sementara itu, pembuatan tato pada tubuh dengan pola tertentu oleh suku Mentawai merupakan tradisi kuno yang telah dilakukan secara turun-temurun baik laki-laki maupun perempuan.[60] Pola pada tato dibuat secara simetri pada bagian kiri dan kanan tubuh.[61]
Keagamaan

Kepercayaan asli yang dianut oleh penduduk Kepulauan Mentawai dari suku Mentawai ialah animisme. Penduduk asli dari suku Mentawai meyakini keberadaan roh-roh pada selain manusia seperti hewan dan batu.[45] Nama keyakinan keagamaan lokal suku Mentawai di Kepulauan Mentawai ialah Arat Sabulungan.[62]
Pemimpin peribadatan dalam Arat Sabulungan dinamakan sikerei dan berperan mengadakan peribadatan berdasarkan tradisi lisan.[63] Arat Sabulungan masih diyakini oleh masyarakat suku Mentawai yang masih terikat dengan kehidupan komunal dalam uma.[64] Masyarakat suku Mentawai yang masih meyakini Arat Sabulungan memandang bahwa tradisi leluhur merupakan suatu hal yang harus dilakukan secara mutlak dengan penerimaan tanpa syarat apapun.[64]
Penduduk di Kepulauan Mentawai hampir tidak menerima pengaruh keagamaan apapun dari wilayah luar kepulauannya selama masa penyebaran agama Hindu maupun agama Buddha di Pulau Sumatra dan Pulau Jawa. Sedikitnya pengaruh agama Hindu dan agama Buddha terhadap penduduk di Kepulauan Mentawai terjadi karena pulau-pulaunya tidak dijadikan sebagai pelabuhan perdagangan oleh kerajaan-kerajaan di sekitarnya yang telah menganut agama Hindu maupun agama Buddha hingga masa kekuasaan Sriwijaya atas pantai barat laut dan timur Pulau Sumatera.[65]
Kepulauan Mentawai hanya dijadikan sebagai rute pelayaran pengganti dari Sumatera menuju Pulau Jawa melalui Selat Sunda. Sedangkan rute pelayaran utamanya melalui Selat Malaka di pesisir timur Sumatera. Pelayaran ke Kepulauan Mentawai sangat jarang diadakan karena tidak adanya pelabuhan yang terlindungi di pesisir barat Pulau Sumatera kecuali Pelabuhan Barus yang dikuasai oleh Sriwijaya dan masyarakatnya telah menerima pengaruh agama Hindu maupun Buddha. Sebuah prasasti bertahun 1088 M mencatat bahwa orang Tamil dari Sri Lanka hanya berdagang hingga ke Pelabuhan Barus selama masa kekuasaan Sriwijaya dan tidak berlayar melalui Kepulauan Mentawai yang dianggap sebagai rute pelayaran berbahaya.[65]
Setelah berakhirnya penyebaran agama Hindu dan agama Buddha di Pulau Sumatera dan Pulau Jawa, agama Islam yang memulai penyebarannya di wilayah kekuasaan Sriwijaya juga tidak memberikan pengaruh terhadap keagamaan bagi masyarakat di Kepulauan Mentawai. Agama Islam tidak memberikan pengaruh keagamaan terhadap masyarakat di Kepulauan Mentawai bahkan setelah masyarakat di Pelabuhan Barus telah menganut ajaran agama Islam.[65] Penyebaran agama Islam di Kepulauan Mentawai kembali diadakan oleh muslim dari wilayah Sumatera Barat yang menjalin hubungan dagang dengan penduduk Kepulauan Mentawai sejak masa Hindia Belanda. Namun agama Islam tidak diketahui penyebarannya secara pasti selama masa Hindia Belanda.[66]
Pada tahun 1901 M, ajaran Protestan mulai disebarkan di daerah Sikakap dan Pulau Sipora oleh para misionaris Kristen Protestan.[66] Pemerintah Hindia Belanda mengundang para misionaris dari Serikat Misionaris Rhein asal Jerman untuk memulai misi di Kepulauan Mentawai. Sementara itu, para misionaris dari Belanda tidak mengadakan misi di Kepulauan Mentawai.[35] Kegiatan misi dari para misionaris Jerman dimulai dari Pulau Pagai Utara dan Pulau Pagai Selatan pada bagian selatan Kepulauan Mentawai.[67] Pada akhir tahun 1901 M, seorang pendeta asal Jerman yang bernama A.Lett menetap di Desa Nemnemleleu untuk menyebarkan ajaran Protestanisme berdsarkan pemahaman Martin Luther.[68] [69] Para misionaris Protestan yang berdatangan dari Jerman ke Kepulauan Mentawai menggunakan bahasa Mentawai dalam menyampaikan khotbah.[70] Penyebaran ajaran Protestan oleh para misionaris diadakan di bagian selatan Kepulauan Mentawai.[71]
Beberapa anggota suku Mentawai di Kepulauan Mentawai berhasil dibaptis pada tahun 1916 M dan para misionaris mendirikan sekolah umum sekaligus sekolah keagamaan bagi para anak laki-laki dari suku Mentawai di Desa Nemnemleleu yang sudah dibaptis. Guru-guru yang mengajar merupakan anggota suku Batak dari daerah Tapanuli yang telah menjadi penganut Kristen.[68] Pada tahun 1940 M, sebanyak 9 pendeta asal Jerman telah menetap di Kepulauan Mentawai. Pendeta terakhir yang datang bernama Rudolf Smith yang tiba pada tahun 1938.[72]
Pada tahun 1953 M, para misionaris dari Gereja Katolik memulai penyebaran ajaran Katolik di Kepulauan Mentawai.[66] Misionaris bernama Aurelio Canniszaro memulai misi dengan mengunjungi pulau-pulau besar di Kepulauan Mentawai selama November 1953.[73] Pada tahun 1954, ia mengunjungi perkampungan bernama Pokai di bagian selatan Pulau SIberut dan mengetahui bahwa di bagian selatan Pulau Siberut tidak banyak penganut Kekristenan. Akhirnya ia memulai penyebaran di bagian selatan Pulau Siberut.[74]
Pada tahun 1954, gedung gereja pertama untuk Gereja Katolik berhasil dibangun di Desa Muara Siberut pada tahun 1954.[66] Pembangunan gereja untuk jemaat Gereja Katolik diselesaikan dan diresmikan bertepatan dengan perayaan Natal tahun 1954.[75] Pendeta Katolik yang berasal dari Serikat Xaverian memulai penggunaan bahasa Mentawai dalam penyebaran ajaran Gereja Katolik di bagian utara Kepulauan Mentawai.[71] Pada tahun 1980, tercatat sebanyak 11.335 orang yang menjadi penganut agama Katolik di Pulau Siberut.[75]
Agama Islam menjadi agama yang terakhir berkembang di Kepulauan Mentawai.[65] Sebuah organisasi bernama Badan Otorita Khusus Kepulauan Mentawai yang mengadakan kegiatan penyebaran Islam di Kepulauan Mentawai baru terbentuk pada tahun 1971. Agama mayoritas yang dianut oleh penduduk di Kepulauan Mentawai kini ialah Protestan (50,32%), Katolik (36,62%) dan Islam (16,57%).[66] Sebagian besar anggota suku Mentawai yang telah menjadi penganut agama Katolik, Protestan maupun Islam masih meyakini Arat Sibulungan.[76]
Kebahasaan
Bahasa yang digunakan di Kepulauan Mentawai adalah bahasa Mentawai.[77] Sebagian besar masyarakat di Kepulauan Mentawai menuturkan bahasa Mentawai dialek Sikakap. Masyarakat di Kepulauan Mentawai yang menggunakan bahasa Mentawai dialek Sikakap ialah masyarakat di Pulau Siberut dan Pulau Sipora. Bahasa Mentawai dialek Sikakap digunakan sebagai bahasa masyarakat suku Mentawai untuk pembicaraan resmi dan pengenalan agama.[78]
Kebiasaan makan
Penduduk di Kepulauan Mentawai sebagian besar memakan makanan berbahan sagu dan keladi sebagai makanan pokok. Hanya sekitar 30% dari jumlah seluruh penduduk di Kepulauan Mentawai yang menjadikan beras sebagai bahan makanan pokok. Sagu dan keladi ditanam pada pekarangan rumah atau lahan basah di ladang. Sedangkan beras diperoleh dari pembelian dari Pulau Sumatera.[79]

Pola makan yang paling awal berkembang oleh masyarakat di Kepulauan Mentawai ialah mengonsumsi sagu, keladi dan pisang secara terpisah tetapi berurutan dengan masing-masing dikonsumsi selama empat bulan. Pada perkembangan berikutnya, sagu dikonsumsi setiap hari sedangkan keladi dan pisang menjadi selingan saat makan siang atau makan sore.[80]
Suku Mentawai di Kepulauan mentawai memiliki dua macam makanan khas yang bernama subbet dan kapurut. Bahan utama pembuatan subbet adalah keladi yang merupakan makanan utama bagi masyarakat suku Mentawai di Pulau Sipora, Pulau Pagai Utara, dan Pulau Pagai Selatan. Sementara itu, masyarakat suku Mentawai di Pulau Siberut hanya menyajikan subbet pada upacara adat karena makanan utamanya adalah sagu.[81] Masyarakat suku Mentawai di Pulau Siberut memiliki makanan khas yang terbuat dari sagu yaitu kapurut.[82]
Keanekaragaman hayati
Spesies-spesies endemik kepulauan Mentawai menghuni kawasan hutan pada Taman Nasional Siberut.[83] Kepulauan Mentawai merupakan salah satu kawasan penyebaran primata di Indonesia.[84] Di Kepulauan Mentawai terdapat beberapa spesies primata yang bersifat endemik yaitu siamang kerdil (Hylobates klossii), beruk mentawai (Macaca pagensis), lutung mentawai (Presbytis potenziani) dan simakobu (Simias concolor).[85] Keempat spesies primata endemik di Kepulauan Mentawai telah berstatus sebagai hewan yang dilindungi di Indonesia melalui surat keputusan yang diterbitkan oleh Pemerintah Indonesia.[1] Taman Nasional Siberut juga menjadi habitat bagi burung hantu mentawai yang merupakan spesies endemik Kepulauan Mentawai.[86]
Di pulau Siberut dalam kepulauan Mentawai juga terdapat spesies mamalia endemik dari jenis tikus. Jumlah spesies tikus endemik di pulau Siberut sebanyak 4 spesies. Selain tikus, terdapat spesies mamalia lainnya di pulau Siberut yaitu tupai. Suku Mentawai di pulau Siberut menyebut tikus dan tupai dengan nama yang sama yaitu birut. Tikus maupun tupai di pulau Siberut yang menghuni kawasan hutan bersembunyi di pohon. Selain itu, tikus dan tupai di pulau Siberut bersembunyi di gorong-gorong dan menjadi hama karena mencuri makanan di dalam rumah penduduk.[87]
Ekonomi dan pemanfaatan lahan
Budidaya tanaman
Penduduk suku Mentawai di Kepulauan Mentawai memanfaatkan lahan sebagai ladang. Di Pulau Siberut, jenis tanaman yang ditanam hanya berupa sagu, pisang, talas atau keladi. Pembukaan lahan secara umum dilakukan tanpa penggunaan api untuk pembakaran tanaman yang telah ada sebelumnya di permukaan lahan.[88] Curah hujan di Kepulauan Mentawai sangat tinggi dan berlangsung sepanjang tahun dan mempercepat peremajaan tanaman sehingga penduduk mengadakan pembukaan lahan dengan metode tebang dan busukan dan tidak menerapkan metode tebang dan bakar.[89]
Perdagangan
Penduduk pada pulau Pagai Utara dan pulau Pagai Selatan di kepulauan Mentawai telah sering dikunjungi oleh para pedagang dari Ranah Minang dan Bengkulu sebelum masa kekuasaan Hindia Belanda di kepulauan Mentawai. Sementara itu, pulau Siberut dalam masa yang sama masih jarang dikunjungi oleh pedagang.[50] Perdagangan di kepulauan Mentawai kemudian dirintis oleh penduduk pendatang yang pada awalnya hanya menjual lada kepada suku Mentawai sebagai penduduk asli.[90]
Kawasan hutan dan taman nasional
Sekitar 493.000 hektare atau sebesar 82% dari luas wilayah daratan Kepulauan Mentawai merupakan kawasan hutan. Kondisi kawasan hutan di kepulauan Mentawai sebesar 78% masih berupa tutupan hutan alami dan sisanya sudah bukan merupakan hutan alami.[91] Pemanfaatan kawasan hutan di kepulauan Mentawai dibedakan menjadi hutan produksi, hutan rakyat dan taman nasional. Luas lahan pada kawasan hutan di kepulauan Mentawai yang dimanfaatkan sebagai hutan produksi adalah 250.000 hektare atau sebesar 42% dari luas kawasan hutan. Luas lahan pada kawasan hutan di kepulauan Mentawai yang dimanfaatkan sebagai hutan rakyat adalah 104.000 hektare atau sebesar 17% dari luas kawasan hutan. Sedangkan lahan seluas 177.000 hektare atau sebesar 30% dari luas kawasan hutan yang tersisa di kepulauan Mentawai ditetapkan sebagai taman nasional.[91]
Taman nasional yang ditetapkan di kepulauan Mentawai bernama Taman Nasional Siberut yang berlokasi pada kawasan hutan di pulau Siberut.[83] Taman Nasional Siberut ditetapkan seluas 190.500 ha.[92] Kawasan hutan pada Taman Nasional Siberut dihuni oleh penduduk asli dari suku Mentawai. Permukiman penduduk dapat ditemukan di bagian tengah maupun pinggiran Taman Nasional Siberut. Suku Mentawai yang hidup di kawasan Taman Nasional Siberut mengadakan pembukaan lahan tanpa pembakaran lahan karena tingginya tingkat peremajaan tanaman di dalam kawasan.[89]
Pariwisata

Ombak di Kepulauan Mentawai memiliki beragam karakteristik yang membuat kondisinya sangat sesuai untuk kegiatan selancar oleh peselancar.[93] Kepulauan Mentawai telah dikunjungi oleh para peselancar sejak akhir dasawarsa 1990-an.[94] Kepulauan Mentawai memiliki sebanyak 71 lokasi untuk selancar yang dijadikan sebagai tujuan wisata bagi wisatawan mancanegara.[95] Pulau dengan lokasi selancar terbanyak terdapat di Pulau Siberut.[24]
Pada tahun 2017, Dinas Pariwisata Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Kepulauan Mentawai mencatat sebanyak 10.500 wisatawan mancanegara yang mengunjungi Kepulauan Mentawai. Para wisatawan mancanegara terutama berasal dari negara Australia, Amerika Serikat, Jepang, Spanyol dan Brasil.[95] Paket untuk berselancar di Kepulauan Mentawai hampir seluruhnya menerapkan tarif dengan menggunakan dolar Amerika Serikat.[96]
Referensi
Catatan kaki
- 1 2 Fakultas Kedokteran Hewan & Fakultas Kehutanan 2001, hlm. 76.
- 1 2 Basyar dan Yurnaldi 2021, hlm. 6.
- ↑ Supriatna 2008, hlm. 267.
- ↑ Supriatna 2014, hlm. 88.
- 1 2 Singh 2025, hlm. 20.
- ↑ Darmanto dan Setyowati 2012, hlm. 237.
- ↑ Melalatoa 1995, hlm. 547.
- ↑ Bowring 2022, hlm. 11.
- ↑ Kusakabe, Shrestha, dan Veena 2015, hlm. 90.
- 1 2 3 Hariadi, dkk. 2014, hlm. 106.
- ↑ Dalidjo 2020, hlm. 94.
- ↑ Dewan Nasional Indonesia 1993, hlm. 50.
- ↑ Djurip, dkk. 2000, hlm. 6.
- ↑ Hariadi, dkk. 2014, hlm. 107.
- ↑ Hariadi, dkk. 2014, hlm. 107-108.
- 1 2 Trend Asia 2024, hlm. 2.
- ↑ Djurip, dkk. 2000, hlm. 7.
- ↑ Singh 2025, hlm. 19.
- 1 2 3 Christyawaty, dkk. 2007, hlm. 8.
- ↑ Efendi dan Para Sahabat 2020, hlm. 119.
- ↑ Efendi dan Para Sahabat 2020, hlm. 121.
- ↑ Efendi dan Para Sahabat 2020, hlm. 122.
- ↑ Efendi dan Para Sahabat 2020, hlm. 123.
- 1 2 Efendi dan Para Sahabat 2020, hlm. 155.
- ↑ Muif 1993, hlm. 485.
- ↑ Muif 1993, hlm. 484.
- 1 2 DMAHTC 1989, hlm. 201.
- ↑ DMAHTC 1989, hlm. 202.
- ↑ Coronese, Stefano (1986). Kebudayaan suku Mentawai. Grafidian Jaya.
- ↑ Sukara, Herwasono Soedjito, Y. Purwanto, Endang (2009-12-01). Situs Keramat Alami — Peran Budaya dalam Konservasi Keanekaragaman Hayati. Yayasan Pustaka Obor Indonesia. ISBN 978-979-461-742-7. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
- ↑ Feldman, Jerome; Carpenter, Bruce W.; Wentholt, Arnold (1999). Mentawai Art (dalam bahasa Inggris). Archipelago Press. ISBN 978-981-3018-22-8.
- 1 2 Rahmat Irfan Denas (2022-11-04). "Awal Mula Belanda Menginjakkan Kaki di Mentawai". Suluah.com. Diakses tanggal 2026-05-22.
- ↑ Darmanto dan Setyowati 2012, hlm. 35.
- ↑ https://repositori.kemendikdasmen.go.id/2844/1/Kajian%20Semiotik%20dan%20Mitologis%20Terhadap%20Tato%20Masyarakat%20Tradisional%20Kepulauan%20Mentawai.pdf
- 1 2 Persoon 2016, hlm. 77.
- ↑ Trend Asia 2024, hlm. 1.
- ↑ Tanjung 2018, hlm. 217.
- ↑ Darmanto dan Setyowati 2012, hlm. 285.
- ↑ Koestoro 2007, hlm. 15.
- ↑ Daulay 2020, hlm. 31.
- ↑ Darmanto dan Setyowati 2012, hlm. 287.
- ↑ Departemen Penerangan Indonesia 1953, hlm. 1005.
- ↑ Basyar dan Yurnaldi 2021, hlm. 7.
- 1 2 Balai Bahasa Provinsi Sumatera Barat 2022, hlm. xiii.
- 1 2 3 Hariadi, dkk. 2014, hlm. 109.
- ↑ Basyar dan Yurnaldi 2021, hlm. 3-4.
- 1 2 Darmanto dan Setyowati 2012, hlm. 33-34.
- ↑ Liliweri 2019, hlm. 119-120.
- ↑ Dalidjo 2020, hlm. 96.
- 1 2 Darmanto dan Setyowati 2012, hlm. 44.
- ↑ Kusakabe, Shrestha, dan Veena 2015, hlm. 91.
- ↑ Laksono 2015, hlm. 30.
- ↑ Tanjung 2018, hlm. 218.
- ↑ Basyar dan Yurnaldi 2021, hlm. 8.
- 1 2 3 4 Basyar dan Yurnaldi 2021, hlm. 4.
- ↑ Melalatoa 1995, hlm. 547-548.
- ↑ Christyawaty, dkk. 2007, hlm. 14.
- ↑ Christyawaty, dkk. 2007, hlm. 36.
- ↑ Christyawaty, dkk. 2007, hlm. 17.
- ↑ Effendi, dkk. 2022, hlm. 103.
- ↑ Effendi, dkk. 2022, hlm. 102.
- ↑ Ade 2022, hlm. 81.
- ↑ Departemen Penerangan Indonesia 1953, hlm. 1006-1007.
- 1 2 Wahyuni 2024, hlm. 68.
- 1 2 3 4 Bowring 2022, hlm. 85.
- 1 2 3 4 5 Yulia, dkk. 2020, hlm. 11.
- ↑ Persoon 2016, hlm. 77-78.
- 1 2 Persoon 2016, hlm. 78.
- ↑ Kementerian Penerangan Republik Indonesia 1959, hlm. 1087.
- ↑ Moeliono dan Sihombing 1994, hlm. 315.
- 1 2 Moeliono dan Sihombing 1994, hlm. 316.
- ↑ Kementerian Penerangan Republik Indonesia 1959, hlm. 1087-1088.
- ↑ Aritonang dan Steenbrink 2008, hlm. 619.
- ↑ Aritonang dan Steenbrink 2008, hlm. 619-620.
- 1 2 Aritonang dan Steenbrink 2008, hlm. 620.
- ↑ Liliweri 2019, hlm. 120.
- ↑ Balai Bahasa Provinsi Sumatera Barat 2022, hlm. xii.
- ↑ Balai Bahasa Provinsi Sumatera Barat 2022, hlm. viii.
- ↑ Laksono 2015, hlm. 28.
- ↑ Ade 2022, hlm. 83.
- ↑ Parlan 2019, hlm. 40-41.
- ↑ Parlan 2019, hlm. 41.
- 1 2 Basyar dan Yurnaldi 2021, hlm. 2.
- ↑ Fakultas Kedokteran Hewan & Fakultas Kehutanan 2001, hlm. 217.
- ↑ Supriatna 2008, hlm. 266.
- ↑ Efendi dan Para Sahabat 2020, hlm. 126.
- ↑ Darmanto dan Setyowati 2012, hlm. 33.
- ↑ Biro Perencanaan 2019, hlm. 96-97.
- 1 2 Biro Perencanaan 2019, hlm. 96.
- ↑ Dewan Nasional Indonesia 1993, hlm. 67.
- 1 2 Trend Asia 2024, hlm. 5.
- ↑ Supriatna 2014, hlm. 87.
- ↑ Fatris 2015, hlm. 16-17.
- ↑ Fatris 2015, hlm. 16.
- 1 2 Yulia, dkk. 2020, hlm. 5.
- ↑ Gagas Ulung 2012, hlm. 225.
Daftar pustaka
- Aritonang, J. S., dan Steenbrink, K. A., ed. (2008). "The Sharp Contrasts of Sumatra". A History of Christianity in Indonesia (dalam bahasa Inggris). Leiden: Koninklijke Brill. hlm. 527–638. ISBN 978-90-04-17026-1. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: editors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- Ade, Arifin Muhammad (Maret 2022). Alviana C. (ed.). Sagu Nusantara. Bantul: Penerbit Samudra Biru. ISBN 978-623-261-383-6. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- Balai Bahasa Provinsi Sumatera Barat (2022). Kamus Bahasa Mentawai—Indonesia (PDF). Padang: Balai Bahasa Provinsi Sumatera Barat. ISBN 978-623-99225-7-3. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- Basyar, B., dan Yurnaldi (Desember 2021). Yudas Sabaggalet: Menghantar Pariwisata Mentawai ke Level Dunia (PDF). Padang: Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Andalas. ISBN 978-623-395-280-4. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- Biro Perencanaan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia (2019). Sulistiyani, A. T., dkk. (ed.). Sentuhan Desa pada Api Hutan dan Lahan. Pusat Data dan Informasi, Badan Penelitian dan Pengembangan, Pendidikan dan Pelatihan, dan Informasi (BALILATFO) Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia & Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Gadjah Mada. ISBN 978-623-777-377-1. ; Pemeliharaan CS1: Banyak nama: editors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- Bowring, Philip (Maret 2022). Primanda, Andya (ed.). Nusantaria: Sejarah Asia Tenggara Maritim [Empire of the Winds]. Diterjemahkan oleh Prasetyo, Febri Ady. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. ISBN 978-602-481-802-9. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- Christyawaty, E., dkk. (2007). Effendi, Nursyirwan (ed.). Sistem Perladangan Suku Bangsa Mentawai di Muntei, Siberut Selatan (PDF). Padang: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Padang. ISBN 978-979-9388-78-0. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- Dalidjo, Nurdiansyah (2020). Intarina (ed.). Rumah di Tanah Rempah: Penjelajahan Memaknai Rasa dan Aroma Indonesia. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama. ISBN 978-602-06-3968-0. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- Darmanto dan Setyowati, A. B. (Oktober 2012). Meyers, K., Ikhwan, M., dan Isaiyas, I. (ed.). Berebut Hutan Siberut: Orang Mentawai, Kekuasaan, dan Politik Ekologi. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. ISBN 978-979-91-0503-5. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: editors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- Daulay, Zainul (Desember 2020). Pengetahuan Pengobatan Tradisional: Kajian Teoretis-Empiris dan Tawaran Perlindungan Hukum. Depok: Rajawali Pers. ISBN 978-623-231-654-6. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- Defense Mapping Agency Hydrographic/Topographic Center (1989). Sailing Directions (Enroute) for the Strait of Malacca and Sumatera (dalam bahasa Inggris). Defense Mapping Agency Hydrographic/Topographic Center. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- Departemen Penerangan Indonesia (1953). Propinsi Sumatera Tengah. Kementerian Penerangan Republik Indonesia. ; Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (1993). Koentjaraningrat, dan Simorangkir, V. (ed.). Masyarakat Terasing di Indonesia. Departemen Sosial, Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial & Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama. ISBN 978-979-511-761-2. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: editors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- Djurip, dkk. (2000). Yelmi, Kusnel (ed.). Tatakrama di Lingkungan Suku Bangsa Mentawai di Kabupaten Padang Pariaman Propinsi Sumatera Barat (PDF). Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya Sumatera Barat. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- Effendi, I. Z., dkk. (Januari 2022). Ernawan, Erika (ed.). Untaian Budaya Nusantara. Kota Gorontalo: Ideas Publishing. ISBN 978-623-234-226-2. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- Efendi, J., dan Para Sahabat (2020). Rachmatullah, A., Suprina, R., & Gantina, D. (ed.). Sejarah Budaya & Ekowisata Matotonan (PDF). Penerbit Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Gadjah Mada & Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada (2001). Konservasi satwa primata tinjauan ekologi, sosial ekonomi, dan medis dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Gadjah Mada & Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada. ISBN 978-979-961-041-6. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- Fatris M. F. (Maret 2015). Moh. Sidik, Nugraha (ed.). Merobek Sumatra: Di Balik Keindahan Alamnya, Tersimpan Cerita Kemanusiaan yang Kadang Mengharu dan Kadang Lucu. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta. ISBN 978-602-290-038-2. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- Gagas Ulung (Mei 2012). Charming Sumatera Barat: 125 Destinasi Memesona di Sumatera Barat. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama. ISBN 9789792286595. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- Hariadi, dkk. (Juni 2014). Nur, M. (ed.). Warisan Budaya Tak Benda di Kepulauan Mentawai, Kepulauan Enggano, dan Kabupaten Ogan Komering Ilir (PDF). Padang: Badan Pelestarian Nilai Budaya Padang. ISBN 978-602-87 42-82-5. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- Kementerian Penerangan Republik Indonesia (1959). Republik Indonesia: Propinsi Sunda Ketjil. Kementerian Penerangan Republik Indonesia. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- Koestoro, Lucas Partanda (2007). Padang, Kota Andaleh di Pesisir Barat Sumatera Barat. Medan: Balai Arkeologi Medan. ISBN 978-979-987-723-9. ; Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- Kusakabe, K., Shrestha, R., dan Veena N., ed. (2015). Gender and Land Tenure in the Context of Disaster in Asia (dalam bahasa Inggris). London: Springer International Publishing. ISBN 978-3-319-16616-2. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: editors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- Laksono, Dandhy (Desember 2015). Nisfu, S., dkk. (ed.). "Catatan Akhir Tahun: Ekspedisi Indonesia Biru". Travelnatic Magazine. 15: 26–32. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: editors list (link) Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
- Liliweri, Alo (Juli 2019). Pengantar Studi Kebudayaan. Bandung: Penerbit Nusa Media. ISBN 978-979-1305-91-4. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- Melalatoa, M. Junus (1995). Ensikloedi Suku Bangsa di Indonesia Jilid L - Z. Jakarta: Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- Moeliono, A. M., dan Sihombing, L. P. (1994). Bahasawan Cendekia: Seuntai Karangan untuk Anton M. Moeliono. Fakultas Sastra, Universitas Indonesia. ; Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- Muif, Mudjur (Desember 1993). "Rona Fisik Lingkungan dalam Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kawasan: Studi Kasus RDTR Kawasan Pariwisata Pulau Sipora Kepulauan Mentawai Sumatera Barat" (PDF). Proceedings of the 22nd Annual Convention of the Indonesia Association of Geologist. I. Ikatan Ahli Geologi Indonesia: 478–488. ; Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- Parlan, Tjak S. (2019). Berlabuh di Bumi Sikerei (PDF). Jakarta Timur: Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. ISBN 978-602-437-917-9. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- Persoon, Gerard A. (Juli 2016). Barendregt, B. A., dan Bogaerts, E. (ed.). Merenungkan Gema: Perjumpaan Musikal Indonesia-Belanda. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia & KITLV-Jakarta. ISBN 978-979-461-635-2. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: editors list (link) Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- Singh, Manvir (2025). Shamanism: The Timeless Religion (dalam bahasa Inggris). New York: Alfred A. Knopf. ISBN 978-0-593-53754-1. LCCN 2024023735. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- Supriatna, Jatna (Agustus 2008). Melestarikan Alam Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. ISBN 978-979-461-696-3. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- Supriatna, Jatna (Agustus 2014). Yanwardi (ed.). Berwisata Alam di Taman Nasional. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia. ISBN 978-979-461-896-7. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- Tanjung, Anita Chairul. Pesona Indonesia. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama. ISBN 978-602-06-1916-3. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- Trend Asia (10 Januari 2024). Potret Ketimpangan dan Energi Ekstraktif di Mentawai. Diterbitkan oleh Trend Asia. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)f
- Wahyuni, Dwi (2024). Sabna, A., Martalia dan Halim, I. (ed.). Agama-Agama Lokal di Indonesia. Klaten: Penerbit Nas Media Pustaka. ISBN 978-623-155-577-9. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: editors list (link) Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- Yulia, R., dkk. Anggraini, Villia (ed.). Mentawai dalam Wisata Adat dan Budaya (PDF). Padang: STKIP PGRI Sumbar Press. ISBN 978-623-7003-53-3. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
| Internasional | |
|---|---|
| Lain-lain | |