Kelenteng Talang Cirebon adalah sebuah kelenteng yang terletak di Lemahwungkuk, Kota Cirebon. Di dalam kelenteng ini terdapat banyak peninggalan-peninggalan dari zaman dahulu sampai saat ini yang masih tersimpan, seperti lukisan dan bangunan yang berciri khas Tionghoa, bangunan klenteng ini biasanya berada di tempat strategis yang ada di tengah-tengah masyarakat.[1] Kelenteng yang sekarang kerap disebut sesuai nama jalannya tersebut, yakni Talang semula adalah bagian dari Tiao Kak Sie yang sekarang bernama Vihara Dewi Welas Asih. Tiao Kak Sie adalah vihara dengan dewata utama Bodhisattva Avalokitesvara, yang dalam bahasa mandarin disebut Kwan Im Pu Sa. Vihara ini merupakan bangunan tempat ibadah umat Buddha tertua di Cirebon. Berdasarkan temuan material epigraphis, oleh Franke (1997), ditemukan adanya pengajuan usulan pembangunan tembok oleh Kapiten Tan Siang Ko kepada VOC. Usulan dari Kapiten Tionghoa yang menjabat antara 1705-1720 ini, ditolak oleh penguasa kolonial kala itu. Maka perkiraan sementara dari temuan material tertua ini, Tay Kak Sie Cirebon sudah berdiri pada masa Kapiten Tan Siang Ko.[2] Sementara manuskrip Keraton Kasepuhan menyatakan vihara ini berdiri sejak 1559.
Sejarah
Sejarah merupakan hal mengenai masa lalu yang berpacu pada disiplin ilmu untuk menganalisis serta menafsirkan peristiwa masa lalu dan penyebabnya. Dahulu Kelenteng ini bernama Sam Po Toa Lang yang artinya merupakan orang-orang besar, nama tersebut diambil dari 3 tokoh besar muslim yang pernah singgah di Cirebon. Demikian narasi yang terkesan klaim yang berkembang. Padahal, jika ditelusuri materi-materi ephigrafi yang ada, jelas awalnya merupakan rumah abu, yang didirikan di kompleks wihara umat Buddha. Rumah abu ini dibangun pada 1790 oleh Kapiten Tan Oat Ing untuk para bhiksu yang pernah bertugas di Tiao Kak Sie dan tokoh Tionghoa setempat.[3]
Ini menunjukkan adanya perkembangan umat Buddha di Cirebon, karena berarti sebagian besar umat Buddha sudah bersedia melakukan kremasi pada masa tersebut. Perkembangan lebih lanjut, karena kebutuhan ruang yang semakin besar maka pada 1848 rumah abu ini dipindah ke jalan Talang oleh Kapiten Tan Phan Long. Pemindahan dan pembangunan baru tuntas pada masa Kapiten Khoe Tiauw Jang. [4]
Kelentang Talang Cirebon ini terletak di dekat gedung BAT yaitu sebelah kanan jalan, tampak depan dari kelenteng ini terdapat sepasang naga atau burung Hong. Pintu depan kelenteng biasa disebut dengan "pintu memasuki kebajikan". Kemudian di dinding kelenteng sendiri terdapat beberapa tulisan yang mempunyai makna mendalam yaitu “Di dunia ini ada dua hal yang susah, memanjat langit itu susah, meminta bantuan orang lain lebih susah. Dalam kehidupan manusia ada dua hal yang pahit, buah Huang-lian itu pahit, hidup orang miskin lebih pahit. Di dunia ini ada dua hal yang rawan, dunia Kang-ouw itu rawan, hati manusia lebih rawan. Dalam kehidupan manusia ada dua hal yang tipis, kertas itu tipis, nurani manusia lebih tipis.” kelenteng yang ada di Cirebon ini sempat dikabarkan tidak terawat dan hampir rusak, tetapi pada kenyataannya masih terjaga dengan baik.[5]
Tradisi pensucian
Setiap pergantian tahun atau Tahun Baru Imlek, kelenteng ini secara rutin mengadakan ritual pensucian patung dewa dengan cara memandikannya. Prosesi ini dilakukan selama satu minggu sebelum pergantian tahun. Pemandian tidak dilakukan sembarangan, melainkan melalui suatu prosedur khusus, yaitu dengan menjatuhkan dua batu sebagai penanda. Jika kedua batu tertutup atau berwarna merah, artinya patung dewa belum siap untuk dimandikan. Sebaliknya, jika batu terbuka atau berwarna kuning, maka patung dianggap telah siap. Tradisi pencucian patung ini telah berlangsung sejak lama dan dimaknai sebagai pensucian jiwa dan batin dalam rangka menyambut tahun baru.
Ritual ini sering kali bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw di Keraton Kanoman, yang letaknya berdekatan dengan kelenteng. Meskipun kedua agama ini menjalankan ritual keagamaannya di lokasi yang berdekatan, kedua komunitas menjalankan ibadah masing-masing dengan saling toleransi; umat Khonghucu melaksanakan pensucian, sedangkan umat Muslim memperingati Maulid Nabi. Toleransi antarumat beragama ini telah berlangsung di Cirebon sejak dahulu dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.[6]