Klenteng Boen Bio adalah rumah ibadah agama Konghucu di Surabaya. Kelenteng ini berdiri pada tahun 1883, dan terletak di Jalan Kapasan No. 131, Kelurahan Kapasan, Kecamatan Simokerto, Kota Surabaya.[1] Bangunan kelenteng berstatus sebagai Cagar Budaya Peringkat Provinsi berdasarkan SK no. 188/737/KPTS/013/2017.[2]
Sejarah
Kelenteng ini berdiri pada tahun 1883 dengan nama awal, Boen Tjiang Soe (Wen Chang Szu). Secara kebahasaan, Boen berarti kesusastraan atau peradaban, Tjiang berarti menggemilangkan, dan Soe berarti mewarisi, jika digabung yakni mewarisi dan menggemilangkan kesusastraan atau peradaban.[3]
Bangunan ini berdiri lewat inisiatif Go Tik Lie dan Lo Toeng Siong yang melihat daerah Kapasan belum ada tempat ibadah orang-orang Tionghoa seperti daerah pecinan lain. Mereka lalu berunding dengan Mayor The Boeng Ke pada tahun 1882 untuk mendapat tanah seluas ±500 m2 dan dibangun Kelenteng Nabi Agung Khong-hucu, permintaan ini disetujui oleh Mayor The Boeng Koe.[3]
Pembangunan dimulai pada tahun 1882 dengan mendatangkan tukang dari Tiongkok. Gaya bangunan Kelenteng menyesuaikan arsitektur Tiongkok. Tahun 1883, Kelenteng rampung dengan biaya pembangunan f 11.316.63 melalui pendanaan derma para pedagang Tionghoa.[4]
Pada tahun 1904, Kang Youwei seorang reformis Tiongkok, berkunjung ke Kelenteng ini. Bangunan ini dipuji oleh dia karena keindahan dan kemegahannya Lokasi Kelenteng yang berada di dalam kampung disayangkan oleh dia, dan menyarankan untuk dipindah ke tepi jalan raya agar mudah dilihat orang yang hendak beribadah.[4]
Pemugaran Kelenteng dilakukan pada tahun 1906, dan diresmikan setahun berselang (1907). Nama Kelenteng juga berubah menjadi Boen Bio. Boen dalam bahasa Fujian berarti sastra atau budaya, Bio dalam bahasa Fujian berarti kuil, jika digabung menjadi Kuil Kesusastraan.[1] Biaya pemugaran didapat melalui sumbangan para sauadagar Tionghoa, serta orang-orang Tionghoa yang memenangkan perkara dari H.V. A (Handels Vereeniging Amsterdam) sebesar f 25.000 di pengadilan.[4] Nama para donatur tertulis dalam prasasti yang menempel di bangunan Kelenteng.
Arsitektur
Kelenteng ini memiliki luas bangunan 629 m2 dan berdiri di tanah seluas 1173 m2.[4] Secara arsitektur, merupakan perpaduan arsitektur Tiongkok, Belanda, dan Jawa.[5]