Kebudayaan Tengger atau Kebudayaan Jawa Tengger adalah sebuah kebudayaan yang diterapkan oleh suku Tengger merupakan perpaduan Kebudayaan Suku Jawa dengan ajaran agama Hindu Jawa yang dipadukan dengan mitos lokal dan puja dalam ajaran Buddha Mahayana.[1] Kawasan kebudayaan Tengger berada di Taman Nasional Bromo Tengger, Provinsi Jawa Timur.[2][3] Kebudayaan Tengger menjadi salah satu kebudayaan lokal di Indonesia yang telah terpengaruh oleh kebudayaan modern akibat kedatangan penduduk pendatang di wilayah suku Tengger sejak akhir abad ke-17 Masehi.[4][5]
Karakteristik
Kebudayaan Tengger memiliki karakteristik yang berbeda dengan kebudayaan dominan lainnya di Pulau Jawa yang terpengaruh oleh ajaran Islam setelah keruntuhan Kerajaan Majapahit. Karakteristik utama pada kebudayaan Tengger adalah keyakinan terhadap kebudayaan Suku Jawa Kuno yang dipadukan dengan ajaran agama Hindu Jawa yang ajarannya juga telah terpadukan dengan mitos mengenai asal-usul suku Tengger serta puja dalam ajaran Buddha Mahayana. Kebudayaan Tengger menjadi kebudayaan tersendiri yang meneruskan ritual dan simbolisasi Kerajaan Majapahit yang telah runtuh.[1]
Kebudayaan Tengger menjadi salah satu kebudayaan lokal di Indonesia yang telah terpengaruh oleh kebudayaan modern.[4] Sistem budaya pada kebudayaan Tengger mulai terpengaruh oleh kebudayaan lain sejak Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC) menguasai wilayah pantai utara Pulau Jawa pada paruh akhir abad ke-17 Masehi sebagai imbalan jasa atas bantuannya kepada Kesultanan Mataram.[7] Pada akhir abad ke-17 Masehi, wilayah suku Tengger di bagian bawah lereng gunung Bromo dijadikan sebagai sentra perkebunan yang luas oleh VOC. Di sisi lain, penduduk pendatang mulai menetap di wilayah suku Tengger yang subur untuk perkebunan cengkih, kopi, dan kakao. Kedatangan penduduk pendatang mengakibatkan perubahan terhadap kebudayaan Tengger.[5]
Setelah kemerdekaan Indonesia, Pemerintah Indonesia turut andil dalam perkembangan kebudayaan Tengger sebagai kebudayaan modern yang menjadikan ajaran Hindu Jawa sebagai identitas utamanya. Pengembangan kebudayaan Tengger dilakukan melalui komersialisasi pertanian, pariwisata dan konsumerisme gaya hidup masyarakat Tengger. Perubahan yang terjadi pada kebudayaan Tengger memunculkan pemaknaan baru bagi kebudayaan Tengger sebagai kebudayaan lokal yang masih mempraktikkan ajaran Hindu Jawa tetapi dengan perpaduan budaya modern.[4]