Kartahudaya (Ejaan Van Ophuijsen: Kartahoedaja; 21 Juni 1899 -Â ?) adalah seorang politisi, birokrat, dan bekas pemain bola yang pernah menjabat sebagai Bupati Garut dari tahun 1949 hingga 1950.
Kehidupan awal dan pendidikan
Kartahudaya lahir di Garut pada tanggal 21 Juni 1899. Dia pertama-tama mengenyam bangku pendidikan di HIS.[2] Kemudian, ia bersekolah di OSVIA. Dia lulus ujian akhir OSVIA pada bulan Mei 1921 dengan menempati peringkat 10 dari 15 siswa yang lulus.[3]
Selama bersekolah di OSVIA, ia ikut serta dalam turnamen catur dan juga menjadi anggota skuad tim sepak bola OSVIA.[4][5] Sebagai bagian dari skuad OSVIA, ia bermain pada posisi penyerang dan menjadi kapten klub.[6][7] Walaupun ia sudah lulus dari OSVIA, ia tetap menjadi bagian dari skuad klub OSVIA hingga tahun 1923.[8][9]
Karier
Masa Hindia Belanda dan Jepang
Seusai lulus dari OSVIA, Kartahudaya langsung diangkat sebagai GAIB (Gediplomeerd Ambtenaar Inlandsche Bestuur) atau calon asisten demang pada Wedana Cimahi pada bulan Juni 1921.[10] Pada tahun 1924, dia menjadi wakil mantri polisi Cianjur dan Ciranjang. Setahun kemudian, ia diangkat menjadi Mantri Polisi untuk Ciranjang dan menjabat posisi tersebut hingga tahun 1926.[2]
Dari tahun 1926 hingga 1930, Kartahudaya menjabat sebagai asisten wedana di dua tempat yang berbeda yaitu Cipaku dan Cijeungjing. Sebagai Wedana Cipaku, ia terlibat dalam pemberantasan Pemberontakan komunis dan oleh karena itu, ia mendapatkan pujian dari Gubernur Jawa Barat pada bulan Juli 1927.[11] Pada tahun 1932, ia mendapatkan promosi jabatan menjadi asisten wedana kelas I. Selama ditempatkan di Ciamis, ia menjadi anggota Dewan Kabupaten Ciamis.[12] Pada tahun 1934, dia menjabat sebagai Asisten Wedana Leles dan menjabat posisi tersebut selama tiga tahun. Setelah itu, ia diangkat sebagai Asisten Wedana Polisi Bandung pada tahun 1937 dan menjabat posisi tersebut hingga tahun 1939.[2]
Pada tanggal 25 Februari 1939, Pemerintah Hinida Belanda menunjuk Kartahudaya sebagai Wedana Cilangkahan.[13] Ia dilantik sebagai Wedana Cilangkahan pada 30 Juni 1939. Ia tetap menjabat sebagai Wedana Cilangkahan setelah Jepang mengalahkan Belanda.[2] Pada bulan September 1943, ia mendapatkan pangkat Tihoo Yontoo Gyooseikan.[14]
Masa Revolusi Nasional dan Indonesia
Kartahudaya mengundurkan diri sebagai Wedana Cilangkahan pada tahun yang tidak diketahui. Setelah itu, ia dikabarkan menjabat sebagai penjabat wedana untuk urusan desa pada tahun 1947.[15] Kemudian, ia menjabat sebagai Patih Bandung sampai dengan tanggal 31 Desember 1949. Setelah itu ia diangkat sebagai Bupati Garut menggantikan Agus Padmanagara.[16] Pada bulan Maret 1950, pemerintah RIS menonaktifkan dia sebagai Bupati Garut untuk sementara waktu.[17] Ia mengundurkan diri pada tahun 1950 dan posisi Bupati Garut digantikan oleh Moh. Sabri Kartasomantri.[1]
Setelah menjadi bupati, ia menjabat sebagai Kepala Kantor Urusan Perumahan Bandung pada tahun 1952.[18] Pada bulan Januari 1953, ia meletakkan jabatan sebagai Kepala Kantor Urusan Perumahan Bandung dan diangkat Bupati yang diperbantukan kepada Residen Purwakarta.[19]
Kartahudaya meninggal dunia pada tahun yang tidak diketahui dan dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Cipeujeuh.[20]
↑"SPORT: Voetbal en Bandung". De Preangerbode. 20 Maret 1922. hlm. 6. Diakses tanggal 2026-5-11.{{cite news}}: Periksa nilai tanggal dalam: |access-date=
↑"SPORT:Voetbal TE BANDOENG". De Preangerbode. 13 November 1922. hlm. 6. Diakses tanggal 2026-5-11.{{cite news}}: Periksa nilai tanggal dalam: |access-date=
↑"SPORT: Voetbal". De Preangerbode. 15 Oktober 1923. hlm. 7. Diakses tanggal 2026-5-11.{{cite news}}: Periksa nilai tanggal dalam: |access-date=
↑"OFFICIEELE BERICHTEN". De Preangerbode. 10 Juni 1921. hlm. 2. Diakses tanggal 2026-5-11.{{cite news}}: Periksa nilai tanggal dalam: |access-date=
↑"Tevredenheidsbetuigingen". Bataviaasch nieuwsblad. 9 Juli 1927. hlm. 1. Diakses tanggal 2026-5-11.{{cite news}}: Periksa nilai tanggal dalam: |access-date=