Pada paruh kedua abad ke-16, beberapa negara (termasuk Polandia, Lituania dan Rusia) memperebutkan kawasan pesisir Laut Baltik selatan. Perang Rusia-Lituania pada tahun 1558–1570 (Lituania dibantu oleh Polandia pada masa itu, terutama setelah kedua negara tersebut Bersatu pada tahun 1568) diakhiri oleh gencatan senjata selama tiga tahun. Setelah kematian Raja Polandia Sigismund II Augustus, Tsar Ivan IV dari Rusia ingin turut serta dalam pemilihan raja di Polandia, tetapi pada akhirnya para bangsawan memilih István Báthory sebagai raja, sehingga permusuhan pun berlanjut.[2]
1575–1577
Pada tahun 1575, Ivan memerintahkan pasukannya untuk menyerang Polandia. Mereka berhasil merebut sebagian wilayah Livonia, khususnya Salacgrīva dan Pärnu. Pada tahun 1577, pasukan Rusia mengepung Reval (kini Tallinn) dan pasukan dalam jumlah yang besar berkumpul di dekat Pskov. Pada saat yang sama, pasukan Polandia sedang disibukkan oleh pemberontakan Danzig di sisi barat Laut Baltik. Pada bulan Juli, pasukan Rusia yang berjumlah 30.000 orang bergerak dari Pskov dan berhasil menguasai Viļaka, Rēzekne, Daugavpils, Koknese, Gulbene dan wilayah sekitar.[3] Serangan balasan Polandia (yang dikenal dengan sebutan "kampanye militer pertama Bathory" dimulai pada musim gugur dan berhasil merebut kembali sebagian wilayah.[3]
1578
Negosiasi diadakan pada tahun itu dan kedua belah pihak menyepakati gencatan senjata selama tiga tahun, tetapi gencatan ini ditolak oleh Raja Bathory yang sedang mempersiapkan serangan balasan yang lebih besar. Pada saat yang sama, pasukan Polandia dan Swedia berhasil menghentikan serangan Rusia dalam Pertempuran Wenden (1577–1578).[3]
Pada tahap akhir perang, pasukan Polandia mengepung kota Pskov, tetapi mereka tidak dapat merebut kota tersebut. Pada saat yang sama, Rusia menghadapi ancaman dari Swedia yang telah merebut kota Narva pada tahun 1581 (lihat Pertempuran Narva (1581)), sehingga Rusia memutuskan untuk berdamai dengan Polandia.[3][6]
Gencatan senjata Jam Zapolski disepakati pada tahun 1582 dan berlaku selama sepuluh tahun. Gencatan senjata ini menguntungkan Polandia karena mereka dapat memperoleh kembali wilayah Kadipaten Livonia dan juga mempertahankan kota Velizh dan Polotsk. Sementara itu, Rusia memperoleh kembali kota Velikiye Luki.[3][7] Rusia juga gagal memperoleh akses ke Laut Baltik.[6]
Perang Polandia-Rusia berikutnya dimulai pada awal tahun 1600-an setelah Polandia menyerbu Rusia pada tahun 1605.
↑Jerzy Jan Lerski, Piotr Wróbel, Richard J. Kozicki, Historical dictionary of Poland, 966-1945, Greenwood Publishing Group, 1996, ISBN0-313-26007-9, Google Print, p.218