Pada 2021, jumlah penduduk Mukomuko sebanyak 190.498 jiwa, dan pada semester pertama tahun 2025 sebanyak 207.192 jiwa.[2][3][6]
Geografis
Secara geografis, Kabupaten Mukomuko terletak pada 101o01’15,1” – 101o51’29,6” BT dan 02o16’32,0”–03o07’46,0” LS. Suhu udara kota Mukomuko berkisar antara 21,10 C sampai dengan 34,60 C dengan curah hujan rata-rata 151,2mm.[butuh rujukan]
Secara administratif, Kabupaten Mukomuko terbagi menjadi 15 kecamatan, 148 desa, dan 3 kelurahan.[butuh rujukan]
Sebagian besar penduduk Muko-muko merupakan transmigran yang berasal dari Jawa, Sunda, Minang, dan lain sebagainya. Hal ini dikarenakan, Bengkulu dan mukomuko pada zaman kolonial Belanda dijadikan "tanah harapan" bagi penduduk luar Bengkulu.[butuh rujukan] Sebanyak 37,4% penduduk adalah suku Minang, 6,3% suku Jawa, 5,4% suku Sunda dan sisanya dari Bali, Bugis, Melayu, Rejang, Serawai, Lembak, serta lainnya.[butuh rujukan]
Batas Wilayah
Secara administrasi Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu berbatasan dengan wilayah berikut:[butuh rujukan]
Penduduk asli Mukomuko bagian utara adalah suku Minangkabau.[7] Secara adat, budaya, dan bahasa, dekat dengan wilayah Pesisir Selatan di Sumatera Barat.[8] Pada masa lalu daerah Mukomuko ini termasuk salah satu bagian dari rantau Pesisir Barat (Ombak Nan Badabua) Suku Minangkabau. Selain suku Minangkabau, kabupaten Mukomuko bagian selatan dihuni oleh suku Pekal yang terkait dengan suku Pekal yang mendiami bagian utara kabupaten Bengkulu Utara.[butuh rujukan]
Wilayah Mukomuko juga merupakan wilayah rantau Minangkabau yang kerap juga disebut daerah Riak nan Berdebur yakni daerah sepanjang Pesisir Pantai Barat dari Padang hingga Bengkulu Selatan. Namun wilayah Mukomuko sejak masa kolonial Inggris telah dimasukkan ke dalam administratif Bengkulu (Bengkulen). Sejak saat itu mereka telah terpisah dari serumpunnya di daerah Sumatera Barat dan menjadi bagian integral dari wilayah Bengkulu. Hal ini berlangsung terus pada masa penjajahan Belanda, penjajahan Jepang, hingga masa kemerdekaan.[butuh rujukan]
Dalam masa kemerdekaan, wilayah Mukomuko dimasukkan ke dalam Daerah Tk. II dengan nama Kabupaten Bengkulu Utara. Pemekaran kabupaten dan kota telah menyapa hampir seluruh provinsi di Indonesia, tidak terkecuali Provinsi Bengkulu. Pada awal tahun 2003, provinsi ini bertambah tiga kabupaten baru yang ditetapkan dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2003, yakni Kabupaten Bengkulu Utara dimekarkan menjadi Kabupaten Bengkulu Utara dan Kabupaten Mukomuko. Adapun Kabupaten Bengkulu Selatan juga dimekarkan menjadi Bengkulu Selatan, Seluma, dan Kaur.[butuh rujukan]
Sama halnya dengan kabupaten lainnya di Bengkulu, Mukomuko pun tidak terlepas dari bencana gempa bumi, dimana pada tanggal 13 September2007 terjadi gempa bumi yang memporak-porandakan sebagian penduduk Mukomuko, terutama di Kecamatan Lubuk Pinang.[butuh rujukan]
Pengiriman transmigran ke Bengkulu marak lagi sejak 1967. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1973 menetapkan Provinsi Bengkulu dan sembilan provinsi lainnya sebagai daerah transmigrasi di luar pulau Jawa. Salah satu kabupaten tujuan transmigran adalah Bengkulu Utara dan kebijakan itu berlanjut hingga sekarang. Tahun 2004, Bengkulu masih mendapat tambahan transmigran yang mendapatkan tanah dua ha dan mayoritas berasal dari Jawa dengan profesi petani. Kini sentra-sentra penduduk migran itu tumbuh menjadi sentra ekonomi.[butuh rujukan]
Pertumbuhan penduduk menjadi sangat cepat dengan adanya program transmigrasi ini. Hal ini juga telah menyebabkan terjadinya perubahan komposisi penduduk di wilayah Kabupaten Mukomuko. Saat ini jumlah penduduk pendatang asal Jawa telah jauh melampaui jumlah penduduk asli Mukomuko. Sehingga secara realitas saat ini, penduduk asli menjadi minoritas di Kabupaten Mukomuko.[butuh rujukan]
Dalam tumpuk pemerintahan, seorang kepala daerah yang mengajukan diri untuk cuti atau berhenti sementara dari jabatannya kepada pemerintah pusat, maka Menteri Dalam Negeri menyiapkan penggantinya yang merupakan birokrat di pemerintah daerah atau bahkan wakil bupati, termasuk ketika posisi bupati berada dalam masa transisi.
Kabupaten Mukomuko memiliki 15 kecamatan, 3 kelurahan, dan 148 desa. Luas wilayahnya mencapai 4.036,70 km² dan penduduk 174.742 jiwa (2017) dengan sebaran 43 jiwa/km².[3][4]
Daftar kecamatan dan kelurahan di Kabupaten Mukomuko adalah sebagai berikut:
Di sektor perkebunan k.omoditas unggulan Kabupaten Mukomuko pada tahun 2006 adalah kelapa sawit (95.963 ton), karet (7.808 ton), dan kelapa dalam (1.384 ton). Untuk hasil pertanian utama berupa tanaman pangan yang meliputi padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah, kedelai dan kacang hijau. Sektor pertanian yang meliputi tanaman pangan, perkebunan, peternakan, kehutanan, dan perikanan menjadi tulang punggung perekonomian daerah ini. Dari hasil pertanian ini berdampak besar juga terhadap perdagangan.[butuh rujukan]
Perdagangan menjadi tumpuan mata pencaharian penduduk setelah pertanian. keberadaan infrastruktur berupa jalan darat yang memadai akan lebih memudahkan para pedagang untuk berinteraksi sehingga memperlancar arus barang dan jasa. Kabupaten Mukomuko juga telah memiliki berbagai sarana dan prasarana pendukung seperti sarana pembangkit tenaga listrik, air bersih, gas dan jaringan telekomunikasi.[butuh rujukan]
Lokasi Mukomuko yang strategis, yang terletak di tengah-tengah jalan lintas dua kota besar yaitu Kota Padang dan Kota Bengkulu. Infrastruktur yang mendukung, kualitas sumber daya manusia, potensi sektor manufaktur, perdagangan dan jasa yang sedang berkembang karena pertumbuhan ekonomi yang tinggi Terutama daerah-daerah sekitarnya, menjadikannya sebagai sebuah kota yang menarik dan berdaya jual bagi para investor.[butuh rujukan]
Pariwisata
Objek wisata yang terdapat di Kabupaten Mukomuko, antara lain: