Pada tanggal 20 September 2014, kapal ini tidak dapat digunakan lagi setelah bertabrakan dengan kapal karam di
perairan Belawan.[3]
Nama
Nama Matacora diambil dari nama jenis ular berbisa yang mematikan di kepulauan Sumatera dan Kalimantan serta India.[4] Nama kelas Viper berasal dari hewan Viperidae (ular-ularan)
Spesifikasi
Kapal berbahan fiberglass[5] ini memiliki spesifikasi panjang 40 meter, lebar 7,3 meter, dan bobot mati 100 ton. Selain dibekali dengan daya mesin penggerak 3.805 kilowatt, kapal dapat menampung 35 ton bahan bakar dengan daya tahan empat hari. Kecepatan maksimum kapal adalah 29 knot (53 km/jam) dengan kecepatan jelajah 26 knot (48Â km/jam).[6][7] Kapal ini juga dilengkapi senjata mitralyur berkaliber 25 dan 12,7Â mm buatan Rusia,[8] serta ruang pusat informasi tempur, ruang komunikasi, dan gudang amunisi.[8]
Pada 20 September 2014, KRI Matacora-823 yang berlayar dalam operasi keamanan laut menabrak kerangka kapal yang tenggelam tanpa dipasang rambu pada posisi 30' 52' U-098' 45' 33' T (sebelah timur laut Buoy 4 atau ambang luar alur pelayaran Belawan). Akibatnya, KRI Matacora-823 rusak berat, kemudian tenggelam, sehingga negara merugi sekitar Rp 18,6 miliar. Pemilik bangkai kapal, PT Pelayaran Sejahtera Bahtera Agung (SBA) milik pengusaha Eddy Gunawan Tambrin, kemudian membayar ganti rugi kepada TNI-AL, berupa 6 kapal karam yang dipotong-potong dan dijual, dan hasil penjualannya masuk ke kas negara.[1][3][9][10]
Misi-misi
Beberapa misi yang pernah dilakukan oleh KRI Matacora:
Tanggal
Misi=
21 Mei 2010
Pencarian korban kecelakaan kapal patroli keamanan laut (Patkamla) Tambelan milik Lanal Tarempa yang mengangkut 22 orang rombongan istri Pj Bupati Anambas, terbakar dan tenggelam, Kamis (20/5). Sebanyak 19 orang selamat dan 3 lainnya, termasuk istri Pj Bupati Anambas, Mauly Yulianti, dinyatakan hilang.[11]