Sebelum terlibat dalam proses perdamaian Aceh, Christensen bekerja sebagai seorang eksekutif perusahaan farmasi.[3] Ia lancar berbicara bahasa Indonesia[6] karena pernah tinggal selama beberapa dekade di Indonesia.[7][8][9]
Keterlibatan dalam proses perdamaian Aceh
Christensen telibat dalam proses perdamaian Aceh atas inisiatifnya sendiri. Pada bulan Juni 2003, ia pergi ke Stockholm dan memulai diskusi dengan para pemimpin Gerakan Aceh Merdeka .[9][10] Selanjutnya pada bulan Februari 2004 ia menghubungi Martti Ahtisaari, mantan Presiden Finlandia, yang ia kenal secara pribadi,[11] agar Martti Ahtisaari ikut terlibat dalam negosiasi perdamaian.[10] Tidak hanya itu, Christensen juga mempertemukan Farid Husain,[12] yang saat itu menjabat Menteri Kesehatan Indonesia, dengan Ahtisaari dan CMI (Crisis Management Initiative) Finlandia.
Selama proses negosiasi, Christensen sangat aktif [6][7] dan sebagai hasilnya, ditandatangani sebuah perjanjian perdamaian di Helsinki pada tanggal 15 Agustus 2005.[13][14]
Perannya terus berlanjut hingga tahun 2006 sebagai penasihat khusus Misi Pemantauan Aceh (AMM).[15]
Pasca proses perdamaian, Christensen juga ikut dalam negosiasi penyerahan diri dan pelucutan senjata Din Minimi,[16][17] dan 30 pengikutnya pada tahun 2015.[18][19][20][21]
Pada tahun 2017, Christensen bersama beberapa temannya mendirikan Pacta (Architecture Peace and Conflict Transformation Alliance) di Finlandia. Ia menjabat sebagai manajer umum di organisasi tersebut.[15][22]
Selain itu ia juga diundang untuk bergabung dengan Dewan Perdamaian dan Rekonsiliasi Asia sebagai anggota pendiri.[23][24]
↑"Archived copy"(PDF). Diarsipkan dari asli(PDF) tanggal 2015-11-29. Diakses tanggal 2017-03-23. Pemeliharaan CS1: Salinan terarsip sebagai judul (link)
↑"Archived copy"(PDF). Diarsipkan dari asli(PDF) tanggal 2013-04-18. Diakses tanggal 2012-11-26. Pemeliharaan CS1: Salinan terarsip sebagai judul (link)