Judheg[1] berkisah tentang Warti (16 thn) yang memikul beban terlalu besar di usia remaja: menjadi ibu, tulang punggung keluarga, sekaligus korban dalam rumah tangganya sendiri. Ia mencoba menyusui bayinya, Cahyo, namun stres dan gizi buruk membuat ASI-nya tak keluar.[2]
Sementara itu, suaminya, Supri (17 thn), justru larut dalam judi online dan kekerasan. Dari balik tumpukan bulu mata palsu yang ia rangkai untuk bertahan hidup, Warti mencari kekuatan untuk mengambil keputusan: tetap bertahan dalam rumah tangga beracun, atau pergi demi kehidupan yang lebih layak bagi dirinya dan sang buah hati.[3][4]
Judheg mencatat sejarah sebagai film panjang pertama dari Purbalingga atau Banyumas Raya yang menggunakan bahasa Ngapak Banyumasan sebagai bahasa utama [5][6].
Judheg yang dalam bahasa Indonesia berarti Penat dan judul internasionalnya Worn Out, mengangkat isu yang jarang disentuh secara mendalam: pernikahan dini, kemiskinan, dan kelelahan ibu muda dalam menjalani peran ganda sebagai istri, ibu, sekaligus tulang punggung keluarga. Kisah Tentang Tubuh, Luka, dan Keteguhan ibu usia belia[7]