Jembatan di Selandia Baru adalah sarana yang dibangun untuk melewati aliran dari sungai-sungai yang ada di Selandia Baru.[1] Pembangunan jembatan di Selandia Baru dilakukan secara massal sejak kedatangan pākehā di Selandia Baru sekitar 150 tahun lalu. Jembatan-jembatan di Selandia Baru dirancang oleh para insinyur sipil yang mendapatkan dukungan pembangunan dari tokoh masyarakat dan politikus lokal di Selandia Baru.[2]
Selama periode tahun 1840 M hingga 1900 M, bahan bangunan utama yang digunakan untuk pembangunan jembatan di Selandia Baru adalah beton.[3] Sebagian besar jembatan yang dibangun di Selandia Baru adalah jembatan yang hanya muat untuk satu jalur kendaraan sehingga diberi penanda berupa tulisan One Lane Bridge (Jembatan Satu Jalur) dan Give Away (Beri Jalan) untuk memperlancar arus lalu lintas.[4]
Sejarah pembangunan
Sebelum kedatangan pākehā sekitar 150 tahun lalu, tidak ada satu pun jembatan yang dibangun di Selandia Baru meskipun Selandia Baru memiliki banyak sungai yang mengalir di wilayahnya. Penduduk asli umumnya menyeberangi sungai dengan berenang tetapi disertai risiko tenggelam dan meninggal. Pembangunan jembatan di Selandia Baru dimulai setelah terjadi kasus kematian pākehā akibat tenggelam di Selandia Baru. Kematian pertama akibat tenggelam dialami oleh seorang insinyur sipil bernama John Henry Whitcombe. Ia merupakan salah satu murid yang dilatih oleh Isambard Kingdom Brunel dan berakhir tenggelam saat berusaha melewati sungai Taramakau.[1]
Setelah banyaknya kasus kematian akibat tenggelam di aliran-aliran sungai yang ada di Selandia Baru, para insinyur yang bekerja di Selandia Baru mulai mengusulkan berbagai pembangunan jembatan di atas aliran sungai-sungai di Selandia Baru. Dukungan pembangunan jembatan di berbagai wilayah di Selandia Baru diberikan oleh para tokoh masyarakat lokal dan pembangunannya dsetujui oleh para politikus lokal.[2]
Bahan bangunan, struktur dan ukuran
Jembatan-jembatan yang dibangun di Selandia Baru menggunakan beton sebagai bahan bangunan utamanya. Sejak tahun 1842 M, semen diimpor dalam tong-tong yang berasal dari Inggris untuk digunakan di Selandia Baru. Penggunaan beton pada jembatan-jembatan di Selandia Baru untuk pembuatan struktur penahan beban yang meliputi balok, kolom dan lengkungan. Jembatan dengan struktur beton merupakan yang paling umum dibangun hingga tahun 1900 M. Bahan campuran berupa semen, agregat dan kapur digunakan untuk pembangunan jembatan-jembatan di Selandia Baru. Ukuran jembatan yang dibangun di Selandia Baru berbeda-beda sesuai dengan ketersediaan bahan bangunannya selama masa pembangunan.[3]
Akses
Sebagian besar jembatan yang dibangun di Selandia Baru adalah jembatan yang hanya muat untuk satu jalur kendaraan. Penanda bahwa jembatan hanya memiliki satu jalur kendaraan adalah tulisan di tiap ujung jembatan yaitu One Lane Bridge (Jembatan Satu Jalur). Pada jembatan satu jalur biasanya terdapat tanda Give Away (Beri Jalan) yang menandakan bahwa kendaraan yang harus melaju terlebih dahulu adalah kendaraan yang berada di seberang ujung jembatan yang tidak memiliki tanda Give Away (Beri Jalan). Kedua tulisan tersebut dijadikan tanda agar lalu lintas pada jembatan-jembatan satu jalur kendaraan di Selandia Baru dapat berlangsung secara lancar.[4]
12Khan, J., dan Brown, G. (Oktober 2014). "History of Concrete Bridges in New Zealand"(PDF). The New Zealand Concrete Industry Conference 2014 (dalam bahasa Inggris): 1–2. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)