Indeks setana merupakan parameter mutu bahan bakar diesel yang dihitung menggunakan persamaan standar, seperti ASTM D976 atau ASTM D4737. Berbeda dengan angka setana, yang diperoleh melalui pengujian menggunakan mesin standar (ASTM D613), indeks setana diperoleh melalui perhitungan berdasarkan data laboratorium, sehingga lebih praktis dan ekonomis. Namun, indeks setana tidak dapat memperhitungkan pengaruh zat aditif peningkat setana (cetane improver).[1]
Indeks setana digunakan sebagai pengganti bilangan setanabahan bakar solar. Indeks setana dihitung berdasarkan kerapatan bahan bakar dan rentang distilasi (ASTM D86). Terdapat dua metode yang digunakan, ASTM D976 dan D4737. D976 yang lebih tua, atau "persamaan dua variabel", dianggap sudah usang dan tidak lagi digunakan untuk memperkirakan angka setana. Namun, D976 masih diperlukan oleh Badan Perlindungan Lingkungan AS (EPA) sebagai metode alternatif untuk memenuhi kebutuhan aromatisitas bahan bakar diesel. D4737 adalah metode terbaru dan kadang-kadang disebut sebagai "persamaan empat variabel". D4737 adalah metode yang sama dengan ISO 4264. Indeks setana dalam beberapa pengujian minyak mentah sering disebut sebagai Perhitungan setana, sedangkan bilangan setana disebut sebagai Ukuran setana.
Bahan tambahan peningkat setana
Perhitungan indeks setana tidak dapat memperhitungkan bahan tambahan peningkat setana dan oleh karena itu tidak mengukur bilangan setana total untuk bahan bakar solar yang diberi tambahan. Pengoperasian mesin diesel terkait terutama dengan bilangan setana sebenarnya, dan indeks setana hanyalah perkiraan bilangan setana dasar (yang tidak diberi tambahan). Bilangan setana harus sama dengan atau melebihi indeks setana, bergantung pada jumlah bahan tambahan yang digunakan. Bahan tambahan yang paling umum adalah 2-etilheksil nitrat (2EHN).
Fungsi Indeks Setana
Indeks sentana digunakan untuk, memperkirakan kualitas penyalaan bahan bakar diesel, menjadi acuan dalam pengendalian mutu bahan bakar kilang minyak dan laboratorium, membantu memastikan bahan bakar memenuhi spesifikasi yang ditetapkan sebelum dipasarkan, dan menjadi alternatif ketika pengujian angka setana secara langsung tidak memungkinkan.[1]
Pengaruh terhadap Kinerja Mesin Diesel
Nilai indeks sentana sangat berpengaruh terhadap proses pembakaran, seperti indeks sentana tinggi menunjukkan bahan bakar lebih mudah menyala setelah diinjeksikan. Akibatnya waktu tunda penyalaan (ignition delay) menjadi lebih singkat, pembakaran berlangsung lebih alus, suara mesin lebih rendah, emisi gas buang lebih baik, dan mesin lebih mudah dihidupkan terutama pada suhu rendah.[2]
Sementara indeks sentana rendah menyebabkan waktu tunda penyalaan lebih lama sehingga lebih banyak bahan bakar menumpuk sebelum terbakar. Kondisi ini dapat mengakibatkan pembakaran yang kurang sempurna, suara ketukan (diesel knock), peningkatan emisi, serta punurunan efisiensi mesin.[2]
12 [file:///C:/Users/USER/Downloads/adaw90,+Journal+manager,+Artikel_1.pdf file:///C:/Users/USER/Downloads/adaw90,+Journal+manager,+Artikel_1.pdf].{{cite journal}}: ; ; Periksa nilai |url=
12Suwarso, Wahyudi Priyono. [file:///C:/Users/USER/Downloads/adaw90,+Journal+manager,+Artikel_1.pdf "Sintesis Biodiesel dari Minyak Biji Ketapang (Terminalia Catappa Linn.) yang berasal dari Tumbuhan di Kampus UI Depok"] (PDF).{{cite journal}}: ; ; Periksa nilai |url=
Umum
Internal Combustion Engine Fundamentals, John B. Heywood, McGraw Hill, 1988 ISBN0-07-100499-8