Imigrasi ke Eropa memiliki sejarah yang panjang, namun memiliki jumlah yang besar pada akhir abad ke-20.
Pertumbuhan imigran dalam jumlah besar setelah Perang Dunia II terjadi di beberapa negara Eropa khususnya di negara-negara Eropa Barat (sebagian besar EU-15), baik yang berasal dari Eropa dan non-Eropa.
Para imigrasi saat ini dimasukkan dalam kategori pekerja migran/asing (baik legal dan ilegal) dan pengungsi.
Sampai akhir 1960an dan 1970an, Yunani, Irlandia, Italia, Norwegia,[1] Portugal, Spanyol dan Britania Raya[2] adalah sumber utama dari emigrasi, mengirim sejumlah besar emigran ke Amerika dan Australia. Sejumlah imigran juga datang ke negara-negara Eropa lainnya (biasanya Prancis, Swiss, Jerman dan Belgia). Karena standar hidup di negara-negara tersebut tinggi, tren tersebut menjadi meningkan dan negara-negara tersebut menjadi sebuah magnet untuk imigrasi (paling banyak dari Maroko, Somalia, Mesir ke Italia dan Yunani; dari Maroko, Algeria dan Amerika Latin ke Spanyol dan Portugal; dan dari Irlandia, India, Pakistan, Jerman, Amerika Serikat, Bangladesh, dan Jamaika ke Britania Raya).