Dalam Mahabharata bagian Wanaparwa, Resi Lomasa menceritakan legenda asura yang bernama Ilwala dan Watapi kepada pangeran Yudistira. Dikisahkan bahwa Ilwala dan Watapi adalah asura bersaudara. Ilwala si sulung dikatakan pernah memohon kepada seorang brahmana petapa agar dianugerahkan seorang putra yang kekuatannya setara Dewa Indra. Namun sang brahmana menolak permintaan itu sehingga Ilwala menjadi marah dan berniat membunuhnya. Tanpa sepengetahuan sang brahmana, Ilwala mengubah Watapi menjadi domba (atau kambing), memasak dagingnya, dan menyajikannya kepada sang brahmana. Setelah sang brahmana selesai makan, Ilwala segera memanggil-manggil Watapi. Hal itu menyebabkan daging Watapi―yang telah disantap sang brahmana―menyatu dan hidup kembali dari perut sang brahmana. Proses tersebut menyebabkan kematian yang sadis bagi sang brahmana.
Ilwala melakukan perbuatan tersebut beberapa kali terhadap para brahmana yang ditemuinya. Pada suatu hari, kedua bersaudara itu bertemu dengan Resi Agastya dan berniat menjalankan modus operandi yang sama. Meski Resi Agastya mengetahui niat jahat mereka, sang resi tidak ragu untuk menyantap daging Watapi. Sehabis makan, Ilwala memanggil-manggil Watapi seperti biasanya, tapi Watapi tidak kunjung bangkit dari perut Resi Agastya. Sang resi pun menjelaskan bahwa daging Watapi telah dicerna oleh perutnya secara cepat sampai tak bersisa lagi. Menyadari kesaktian sang resi, Ilwala ketakutan dan menyerah. Dia memberikan kesempatan kepada Agastya untuk meminta apa pun, demi menyenangkan hati sang resi. Agastya pun meminta sepuluh ribu sapi dan keping emas, serta kereta emas yang ditarik oleh dua kuda.[2][3]
Menurut versi Ramayana, Ilwala diceritakan menyerang Agastya setelah kematian saudaranya. Setelah itu, ia juga terbunuh oleh tatapan sang resi.[4]
Kitab Bhagawatapurana menyebutkan bahwa Ilwala mempunyai seorang putra bernama Balawala, yang biasa mengganggu para resi yang hadir di hutan Nemisa ketika mereka mendengarkan penuturan berbagai Purana dari Ugrasrawa. Dia dibunuh oleh Balarama (Baladewa) yang sedang melakukan ziarah.[5]