Tanaman ini memiliki cincin yang menonjol pada batang dan daun melengkung, yang membedakannya dari spesies lain. Batangnya ramping dan tidak membengkak seperti beberapa kerabatnya.
Berbeda dengan spesies Hyophorbe lainnya, dedaunannya memiliki rona jingga.
Perbungaannya juga lebih sederhana dan hanya bercabang menjadi tiga tingkat, suatu karakter yang hanya dimiliki oleh spesimen terakhir yang tersisa dari Hyophorbe amaricaulis. Buahnya berwarna jingga atau cokelat kemerahan, dan berukuran 4,4–5 cm (sejauh ini merupakan yang terbesar di genusnya).[2][3]
Persebaran
Hanya terdapat satu populasi 'liar' di dunia, yang berada di pulau Mauritius. Upaya konservasi telah memungkinkan pengenalan kembali spesies yang terancam punah ini ke dalam cagar alam hutan dataran tinggi yang dikelola,[4] termasuk di tempat-tempat seperti Brise Fer, Mauritius-Macchabee, Mare Longue, dan Florin.
Ini adalah salah satu dari tiga spesies Hyophorbe yang secara alami ditemukan di Mauritius. "Palem botol" (Hyophorbe lagenicaulis) adalah satu-satunya spesies lain yang umum dibudidayakan (Hyophorbe amaricaulis hanya bertahan sebagai spesimen tunggal).[1]
Namun, palem botol memiliki batang yang membengkak berbentuk botol saat muda, dan buah yang jauh lebih kecil (2,5Â cm) berwarna jingga atau hitam. Palem botol juga memiliki perbungaan yang lebih kompleks yang bercabang menjadi empat tingkat, bukan tiga seperti H. vaughanii.[3]
Habitat
Tanaman ini dapat ditemukan tumbuh secara alami pada ketinggian 400–550 meter (1.310–1.800 ft) di hutan hujan pegunungan tropis. Meskipun demikian, tanaman ini semakin banyak digunakan sebagai tanaman hias untuk lanskap di seluruh Mauritius.[2]
12C.Lewis, Barboza, N. (2000). Identity of the Hyophorbe Palms at the Botanical Garden of Cienfuegos, Cuba Palms 44. hlm.95.
↑Maunder, M., Page, W., Mauremootoo, J., Payendee, R., Mungroo, Y., Maljkovic, A., . . . Lyte, B. (2002). The decline and conservation management of the threatened endemic palms of the Mascarene Islands. Oryx, 36(1), 56-65