Pada zaman Romawi kuno, hukum waris diatur oleh hukum sipil (ius civile) Dua Belas Meja dan hukum yang disahkan oleh majelis-majelis Romawi, yang diberlakukan sangat ketat, dan hukum praetor (ius honorarium, artinya kasus hukum), yang seringkali lebih longgar.[1] Sistem hasilnya sangat terkomplikasi dan menjadi salah satu perhatian utama sistem hukum Romawi. Diskusi hukum waris dicantumkan dalam sebelas dari lima puluh buku dalam Digest.[2] 60-70% dari seluruh litigasi Romawi berkaitan dengan hukum waris.[3]
Frier, B. W.; McGinn, T. A. J. (2004). A casebook on Roman family law. Oxford. Pemeliharaan CS1: Lokasi tanpa penerbit (link)
Giodice Sabbatelli, V. (2001). Fideicommissorum persecutio: contributo allo studio delle cognizioni straordinarie. Bari. Pemeliharaan CS1: Lokasi tanpa penerbit (link)
Impallomeni, G. (1963). Le manomissioni mortis causa: studi sulle fonti autoritative romane. Padua. Pemeliharaan CS1: Lokasi tanpa penerbit (link)
Müller-Ehlen, M. (1998). Hereditatis petitio. Cologne, Weimar, Vienna. Pemeliharaan CS1: Lokasi tanpa penerbit (link)
Rüfner, T. (2011). "Testamentary formalities in Roman law". Dalam Reid, K. G. C.; de Waal, M. J.; Zimmermann, R. (ed.). Comparative succession law, I: Testamentary formalities. Oxford. hlm. 1–26. Pemeliharaan CS1: Lokasi tanpa penerbit (link)
Saller, R. (1994). Patriarchy, Property and Death in the Roman Family. Cambridge: Cambridge University Press.
Tellegen, J. W. (1982). The Roman Law of Succession in the Letters of Pliny the Younger. Zutphen. Pemeliharaan CS1: Lokasi tanpa penerbit (link)
Voci, P. (1963–1967). Diritto ereditario romano. Florence. Pemeliharaan CS1: Lokasi tanpa penerbit (link)
Watson, A. (1971). The Law of Succession in the Later Roman Republic. Oxford. Pemeliharaan CS1: Lokasi tanpa penerbit (link)