Hubungan Gambia dengan Guinea-Bissau mengacu pada hubungan bilateral antara kedua negara Afrika Barat yang merupakan bagian dari Masyarakat Ekonomi Negara-Negara Afrika Barat (ECOWAS). Gambia, bekas koloni Britania Raya, meraih kemerdekaannya pada tahun 1965, sementara Guinea-Bissau memperoleh kemerdekaannya dari Portugal pada tahun 1975. Kedua negara memiliki ikatan sejarah, budaya, dan sosial yang sama melalui kelompok etnis, jaringan perdagangan, dan migrasi regional.
Sejarah
Kekaisaran Kaabu pra-kolonial merupakan kekuatan dominan di wilayah Gambia dan Guinea-Bissau modern selama berabad-abad.[1] Sejak abad ke-15, pedagang dan penjajah Portugis di Tanjung Verde mengembangkan hubungan komersial, sosial dan budaya dengan masyarakat Afrika di Senegambia dan Guinea hulu.[2]
Meskipun perjanjian tersebut hanya berumur pendek, Jammeh tetap melanjutkan upaya-upaya untuk mencegah eskalasi lebih lanjut, termasuk intervensi kemanusiaan untuk memungkinkan Presiden Vieira yang digulingkan untuk mendapatkan perawatan medis di luar negeri.[4] Gambia juga menampung para pengungsi yang melarikan diri dari konflik di Guinea-Bissau.[4]
Pada tanggal 8 September 2025, Gambia dan Guinea-Bissau menandatangani Perjanjian Kerja Sama Keamanan di Bissau selama kunjungan resmi Presiden Gambia Adama Barrow.[6] Perjanjian ini dimaksudkan untuk meningkatkan stabilitas dan mengatasi ancaman bersama di sub-wilayah Afrika Barat, termasuk perdagangan manusia lintas batas dan serangan bersenjata.[6]