Heri Dono (lahir di Jakarta, 12 Juni1960)[1] merupakan seniman asal Indonesia yang menekuni seni kontemporer dan memiliki banyak lukisan yang terpajang di berbagai museum di dunia.[2] Ia pernah mengenyam pendidikan di Akademi Seni Rupa Indonesia (Asri) atau yang sekarang dikenal Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Saat ini Heri Dono juga tercatat menjadi salah satu pengajar di program pascasarjana kampus yang sama. [3] Sejak masuk di kampus ISI Yogyakarta tersebut Heri Dono mengawali kariernya sebagai seniman pada tahun 1980-an hingga akhirnya memulai perjalanannya di kancah global pada tahun 1990-an. [4] Inspirarsi Heri Dono dalam melukis terutama berasal dari kisah-kisah pewayangan.[5] Ia berusaha memasukan elemen kompleks dalam pertunjukan wayang berupa visual, mantra, suara, storytelling, kritik sosial, humor, dan mitos berisi filosofi kehidupan. Komponen ini ia gabungkan dalam narasi karya-karyanya melalui penambahan elemen multimedia. Karya kreatifnya mengungkapkan ketertarikan Heri Dono dalam merevitalisasi seni yang berakar pada tradisi Indonesia. Pada banyak karya instalasi dan pertunjukannya, Heri Dono juga menggunakan ‘performativity’ dan potensi interaktif yang membuat karya-karyanya terlibat dalam dialog komplimenter dengan audiens. Dalam karya lukisannya ia banyak mengangkat deformasi liar dan fantasi gaya bebas yang berasal dari karakter dan kisah wayang. Kemudian ia menambahkan pengetahuan dan ketertarikannya pada kartun anak-anak, film animasi, dan komik. Kanvas Heri Dono selalu dipenuhi karakter menakjubkan dengan cerita yang fantastis sekaligus abstrak.
Heri Dono sudah berpartisipasi pada lebih dari 300 pameran dan 35 internasional bienial, termasuk Asia Pacific Triennial (1993 dan 2000), Gwangju Biennale (1995 dan 2006), Sydney Biennale (1996), Shanghai Biennale (2000), Venice Biennale (2003 dan 2015), Sharjah Biennial (2005 dan 2023), Guangzhou Triennale (2011), Kochi-Muziris Biennale (2018), Bangkok Art Biennale (2018), dan Gangwon Kids Triennale (2020) di Korea Selatan. Ia juga meraih sejumlah penghargaan, di antaranya adalah: Dutch Prince Clause Award for Culture and Development (1998) dari Kerajaan Belanda; UNESCO Prize (2000), dan Anugerah Adhikarya Rupa dari Pemerintah Indonesia (2014).
Pameran Tunggal
2022 - Art Jakarta, Jakarta Convention Center (JCC), Indonesia
2021 - Phantasmagoria of Science and Myth: The Art and Archive of Heri Dono, Srisasanti Syndicate, Yogyakarta, Indonesia
2020 - Kala Kali Incognito, Srisasanti Syndicate, Yogyakarta, Indonesia
2019 - Solo Presentation in ASIA NOW, organized by the Columns Gallery, Paris Asian Art Fair
2019 - Solo Show, The Columns Gallery, Seoul, Korea- Wheel of Truth, organized by Sri Sasanti Syndicate, Moto Moto, BSD, Indonesia
2019 - Wheel of Truth, organized by Sri Sasanti Syndicate, Art Moments, Sheraton Grand Gandaria City, Jakarta, Indonesia
2019 - Solo Booth organized by The Columns Gallery, Art Central Hong Kong, Hong Kong
2018 - Theater of Anecdote, Sri Sasanti Syndicate Booth, Art Stage Singapore, Marina Bay Sands, Singapore
2017 - Land of Freedom, Tang Contemporary Art, Hong Kong
2017 - The Secret Code of Heri Dono, Studio Kalahan, Yogyakarta, Indonesia
2017 - Yellow Submarine, LATAR, Menara BTPN CBD Mega Kuningan Jakarta, Indonesia
2017 - The Parody of the Angry Power, Smith Gallery, Davidson College, North Carolina, USA
↑Spielmann, Yvonne (2017). [2019 Contemporary Indonesian Art: Artists, Art Spaces, and Collectors] (dalam bahasa Inggris). Singapura: NUS Press. hlm.133. ISBN978-981-4722-36-0.Pemeliharaan CS1: Status URL (link)