Henricus Christianus VerbraakHenricus Christianus Verbraak
Henricus Christian Verbraak (24 Maret 1835–1 Juni 1918) adalah seorang misionaris Katolik Belanda yang diutus oleh pemerintahan kolonial Hindia Belanda.
Sebelum datang ke Hindia Belanda, sebagai pastor muda dia melayani umat di Ghent (Belgia) dan Nijmegen (Belanda). Pada 13 Agustus 1872, turunlah dekret dari Kerajaan Belanda yang memberi wewenang pada Gubernur Jenderal Hindia Belanda untuk mengangkat Verbraak sebagai Aalmoezeneer atau pastor-tentara dengan pangkat setara perwira muda. Sebelas hari kemudian, Verbraak sudah dalam perjalanan meninggalkan tanah airnya dengan menumpang Kapal Uap Conrad.
Ia tiba di Batavia pada 3 Oktober 1872 dan kemudian langsung berlayar ke Padang. Setibanya di Padang, Pastor Verbraak mendapat bimbingan dari Pastor A. Smit. Sebagai Aalmoezeneer, Verbraak tidak turut memegang senjata, tetapi melakukan Reksa rohani bagi para tentara di kesatuannya. Setelah bertugas sementara waktu di Padang, pada 29 Juni 1874, Verbraak menjejakkan kaki di Aceh—tempatnya melakukan pelayanan hingga tiga dasawarsa mendatang.[1] Walaupun kala itu Aceh sedang dilanda perang, Verbraak tetap melaksanakan tugasnya dengan penuh pengabdian. Sampai tahun 1877, dia harus tinggal di sebuah gubuk sederhana yang sekaligus menjadi tempat pelayanannya.
Makam Henricus Christian Verbraak (barisan atas, ketiga dari kiri) di Muntilan
Tahun 1877, pemerintah Belanda memberikan tanah yang sebelumnya dirampas milik Sultan Aceh pada tahun 1874 sebagai pampasan perang untuk membangun kapel dari kayu di pinggir Krueng Aceh yang juga disebut Pante Pirak. Namun, daerah tersebut ketika sering dilanda banjir sehingga bangunan itu tidak tahan lama.
Van der Heyden penguasa militer saat itu yang mengetahui masalah ini memberikan izin untuk mendirikan bangunan yang lebih layak dan memulai pembangunan gereja dan pastoran baru yang mulai dilaksanakan pada 5 Februari 1884. Gereja dengan menara tersebut, dibangun dari kayu yang berkualitas bagus dan lebih kuat dari sebelumnya.
Hari terakhirnya di Aceh menjadi terakhir kalinya Verbraak merayakan Ekaristi bersama umat di Gereja Hati Kudus Yesus Banda Aceh yang sekaligus menjadi acara perpisahannya pada 1907. Dia kembali lagi ke Padang menggunakan kapal laut dengan kereta api dari Kutaradja ke pelabuhan Ulee Lheue.[2]
Sepeninggal Verbraak, umat katolik yang terkenang mendirikan patung Pastor Verbraak di Simpang Pante Pirak dan Peunayong, yang berada di dekat gerejanya. Simpang itu sekarang dikenal dengan nama Simpang Lima Banda Aceh. Ketika Jepang mendarat pada tahun 1942, rakyat Aceh menghancurkan patung tersebut karena dianggap sebagai lambang kolonialisme Belanda.
Satu tahun kemudian, pada Hari Raya Paskah, gereja tersebut mulai digunakan. Gereja ini menjadi Gereja Katolik pertama di Aceh dan setelah mengalami perombakan pada tahun 1924, masih tetap berdiri hingga saat ini dengan nama Gereja Katolik Hati Kudus.
Pada tahun 1918 pemerintah kolonial Hindia Belanda membuat patung Verbraak di taman Maluku Bandung atas jasanya sebagai pastur Katolik yang telah melakukan pelayanan gereja di Aceh, Padang dan Yogyakarta. Patung Verbraak di kota Bandung masih berdiri tegak sampai hari ini.[2]