Hasan Soeria Satjakoesoemah (EYD: Hasan Suria Sacakusumah; dikenal sebagai,Bung Hasan, 31 Januari 1900 – 20 Februari 1981) adalah politisi dan birokrat yang pernah menjabat sebagai Bupati Indramayu (1956-1958), Bupati Karawang (1949-1950), dan Bupati Sumedang (1949-1950; 1946-1947).
Kehidupan awal dan pendidikan
Hasan lahir di Bandung pada tanggal 31 Januari 1900. Ayahnya bernama R. Soeria Satjakoesoemah.[1] Dia bersekolah di HIS dan OSVIA (lulus tahun 1921).[2] Pada ujian akhir OSVIA, ia menjadi satu dari 15 orang yang lulus dan menempati peringkat 8.[3]
Karier
Karier Birokrat
Seusai lulus dari OSVIA, Hasan mengawali kariernya sebagai calon asisten demang di Kantor Kabupaten Bandung dari tahun 1921 hingga tahun 1924. Selanjutnya, ia bekerja sebagai wakil mantri polisi di Tasikmalaya dan Bandung selama dua tahun (1924-1926). Kemudian dari tahun 1926 hingga 1938, ia menjabat sebagai asisten wedana di beberapa tempat yaitu Cimahi, Cicadas, Cadasngampar, dan Samarang.[2] Sebagai Asisten Wedana Cimahi, ia pernah ditugaskan untuk menyelidiki keterlibatan warga Cimahi yang terlibat dalam Pemberontakan PKI 1926 yaitu Madali dan Wiratma.[4] Selain itu juga, ia juga menjadi anggota DPRD Garut sewaktu menjabat sebagai Asisten Wedana Samarang.[5]
Pada tanggal 1 Agustus 1938, dia diangkat menjadi Wedana Palabuhanratu.[2] Dia terpilih sebagai Anggota DPRD Sukabumi untuk periode 1942-1945.[6] Pada bulan Desember 1943, ia masih menjabat sebagai Wedana Palabuhanratu.[2]
Karier bupati
Pada tahun 1946, Pemerintah Indonesia mengangkat Hasan sebagai Bupati Sumedang. Pada masa itu, ia dikenal sebagai bupati pejuang karena gejolak politik yang terjadi di Indonesia. Dia menjabat hingga tahun 1947 karena harus mengungsi ke pedalaman sebagai imbas dari Agresi Militer Belanda I dan posisinya digantikan oleh Moch. Singer.[7]
Dari tahun 1949 hingga 1950, Hasan menjabat sebagai bupati di dua kabupaten berbeda yaitu Sumedang dan Karawang. Selama menjabat sebagai Bupati Karawang, ia mengeluarkan perintah pada bulan Maret 1949 melarang kucing, anjing, dan monyet untuk masuk dan keluar di Distrik Purwakarta hingga 11 Juni 1949 sebagai langkah untuk menangkal rabies dan Kabupaten Karawang terpecah menjadi dua yaitu Karawang Barat (berpusat di Karawang) dan Karawang Timur (berpusat di Subang).[8][9] Setelah itu, ia digantikan oleh Abdurachman Kartadipura (Sumedang) dan Roebaja Soerjanatamihardja (Karawang).[7][9] Dia diangkat sebagai Bupati Indramayu pada tahun 1956 dan menjabat posisi tersebut hingga tahun 1958.[10]
Kehidupan pribadi dan meninggal dunia
Hasan menikah dengan Soeparsih Prawiranegara. Salah satu anaknya, Jessy Augustin, pernah bekerja sebagai dosen.[11] Dia meninggal pada tanggal 20 Februari 1981 dan dimakamkan di Makam Para Bupati Bandung.[1]