Paparan radiasi yang mengenai Daglian, diakibatkan karena kecelakaan kritis, ketika ia secara tidak sengaja menjatuhkan blok reflektor seperti batu bata yang terbuat dari tungsten karbida, sehingga mengenai sebuah inti berbentuk bola seberat 6,2 kg, yang terbuat dari bahan paduan plutonium-galium. Inti ini yang disebut dengan "Inti iblis", kelak melibatkan kecelakaan seorang fisikawan lain bernama Louis Slotin.
Kehidupan awal dan pendidikan
Haroutune Krikor Daghlian Jr., dilahirkan di Waterbury, Connecticut pada 4 Mei 1921. Ia adalah salah satu dari tiga anak pasangan Haroutune Krikor Daghlian dan Margaret Rose. Ayahnya merupakan seorang yang berketurunan Armenia yang berasal dari Gaziantep di wilayah yang kini disebut dengan Turki. Daglian memiliki saudara perempuran yang bernama Helen dan saudara laki-laki bernama Edward.[1][2] Tak lama setelah Daghlian dilahirkan, keluarganya pindah ke kota pesisir New London. Ia bersekolah di Sekolah Dasar Harbor, hingga melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas Bulkeley. Tahun 1938, pada usia 17 tahun, Daghlian masuk ke jenjang pendidikan tinggi ke Institut Teknologi Massachusetts untuk menempuh studi di bidang matematika.[3] Namun, ia lebih tertarik di bidang fisika, khususnya fisika partikel yang kemudian muncul sebagai bidang studi baru yang lebih menarik. Ketertarikannya ini, mendorongnya untuk pindah studi ke Universitas Purdue di West Lafayette, Indiana, hingga ia lulus sebagai Sarjana Sains pada 1942. Kemudian, Daghlian mulai mengerjakan doktoralnya, membantu Marshall Holloway dengan siklotronnya. Pada 1944, ketika Daghlian masih menjadi mahasiswa pascasarjana, ia bergabung dengan Kelompok Perakitan Kritis yang dipimpin oleh Otto Frisch di Laboratorium Los Alamos pada Proyek Manhattan.[4][5]
Kecelakaan kekritisan dan kematian
Herbert Lehr (kiri) dan Harry Daghlian Jr. (kanan), memuat kotak yang berisi biji plutonium ke kendaraan, untuk dibawa ke lokasi uji coba. 13 Juli 1945.
Dalam sebuah percobaan yang dilakukan pada 21 Agustus 1945, Daghlian membangun sebuah reflektor neutron terbuat dari tungsten karbida, yang ditumpuk secara manual berupa satu set blok seperti batu bata seberat 4,4 kg. Blok ini ditumpuk secara bertahap mengelilingi inti plutonium. Hal ini bertujuan untuk mengurangi massa yang diperlukan inti plutonium untuk mencapai kekritisan. Ia memindahkan blok terakhir di atas tumpukan, tetapi alat pengukur neutron memberi peringatan kepadanya, bahwa penambahan tersebut akan membuat inti menjadi superkritis. Ketika ia menarik tangannya, ia secara tidak sengaja menjatuhkan blok tersebut ke atas inti plutonium. Karena kondisi inti saat itu sedang dalam kondisi mendekati kekritisan, blok yang jatuh tersebut menyebabkan inti berada pada wilayah kritis cepat dalam perilaku neutron. Hal ini mengakibatkan kecelakaan kekritisan.[6][7]
Daghlian segera bereaksi setelah ia tak sengaja menjatuhkan blok ke inti plutonium dan berupaya untuk mengetuk blok tersebut dari tumpukan, tetapi upayanya tidak berhasil. Ia terpaksa membongkar tumpukan blok tungsten karbida tersebut untuk menghentikan reaksi inti.[8]
Diperkirakan, Daghlian terpapar dosis radiasi neutron sebesar 510 rem (5,1 Sv) dari hasil fisi senilai 1016.[6] Ia mengalami gejala sindrom radiasi yang parah, meskipun ia mendapatkan perawatan medis yang intensif. Ibu dan saudara perempuannya, diterbangkan ke sana untuk merawatnya.[3] Daghlian mengalami koma dan meninggal 25 hari setelah insiden tersebut.[8][7][9] Daghlian adalah orang pertama yang diketahui meninggal dunia karena kecelakaan kekritisan. Jenazahnya dikembalikan ke New London dan ia dimakamkan di Pemakaman Cedar Grove.[10]
Peninggalan
Atas peristiwa tersebut, regulasi keselamatan untuk proyek tersebut diteliti dan direvisi. Perubahan prosedur yang meliputi perlunya minimal dua orang yang terlibat dalam uji coba hal serupa, dengan menggunakan setidaknya dua perangkat yang memonitor intensitas neutron yang dilengkapi dengan peringatan suara, serta mempersiapkan rencana untuk metode kegiatan, termasuk persiapan kemungkinan yang akan terjadi selama uji coba berlangsung dalam eksperimen serupa.[11]
Perubahan-perubahan prosedur tersebut, tidak mencegah terjadinya kecelakaan kritis lainnya yang terjadi di Los Alamos setahun berikutnya. Seorang rekan fisikawan Daghlian yang bernama Louis Slotin, meninggal tahun 1946, ketika melakukan pengujian kekritisan pada inti plutonium yang sama.[6] Setelah peristiwa dua kecelakaan kekritisan tersebut, inti plutonium dikenal dengan nama "Inti iblis" dan seluruh eksperimen serupa dihentikan hingga dikembangkan secara penuh dan tersedianya perangkat yang dapat dikendalikan dari jarak jauh.[11]
Pada 2000, kota New London mendirikan tugu peringatan dan tiang bendera di Calkins Park, untuk menghormati Daghlian. Nama belakangnya yang salah eja tertulis "Daghiian" pada tugu tersebut. Pada tugu juga tertulis "Meskipun ia tidak berseragam, ia meninggal saat mengabdi pada negaranya.[10]
Galeri
Harry Daghlian Jr. (duduk di tengah) dan Louis Slotin (berkacamata) dalam rangka persiapan Uji Trinity, Juli 1945. Keduanya meninggal dunia dalam kecelakaan kekritisan.
Bola plutonium yang dikenal dengan "Inti iblis", dikelilingi blok reflektor-neutron yang terbuat dari Tungsten karbida, dalam reka ulang kejadian tahun 1945.[6]
Tangan Harry Daghlian yang melepuh dan terbakar. Foto tertanggal 30 Agustus 1945, setelah ia terpapar radiasi mematikan. Ia meninggal dunia 16 hari setelah foto diambil.
1234McLaughlin, Thomas P.; Monahan, Shean P.; Pruvost, Norman L.; Frolov, Vladimir V.; Ryazanov, Boris G.; Sviridov, Victor I. (Mei 2000), A Review of Criticality Accidents(PDF) (dalam bahasa Inggris), Los Alamos, New Mexico: Los Alamos National Laboratory, hlm.74–75, LA-13638, diarsipkan dari asli(PDF) tanggal 27 September 2007, diakses tanggal 21 April 2010