Jerome Teelucksingh, yang menghidupkan kembali perayaan ini, memilih tanggal 19 November untuk menghormati hari ulang tahun ayahnya dan juga untuk merayakan bagaimana pada tanggal tersebut di tahun 1989, tim nasional sepak bola pria Trinidad dan Tobago berhasil menyatukan negara melalui upaya mereka untuk lolos ke Piala Dunia.[8][9] Teelucksingh mempromosikan Hari Pria Internasional bukan hanya sekadar hari berbasis gender, melainkan sebuah hari di mana semua isu yang memengaruhi pria dan anak laki-laki dapat diangkat dan ditangani. Mengenai perayaan ini dan para aktivis akar rumputnya, ia menyatakan, "Mereka memperjuangkan kesetaraan gender dan dengan sabar berusaha menghapus citra negatif serta stigma yang melekat pada pria di masyarakat kita."[10]
Latar belakang awal
Seruan untuk mengadakan Hari Pria Internasional telah tercatat setidaknya sejak dekade 1960-an, ketika banyak pria dilaporkan "telah bergerak secara tertutup untuk menjadikan tanggal 23 Februari sebagai Hari Pria Internasional, yang setara dengan tanggal 8 Maret yang merupakan Hari Perempuan Internasional".[12] Di Uni Soviet, hari tersebut merupakan Hari Tentara Merah dan Angkatan Laut sejak tahun 1922, yang kemudian pada tahun 2002 dinamai ulang menjadi Hari Pembela Tanah Air. Tanggal tersebut secara informal dipandang sebagai padanan pria untuk Hari Perempuan (8 Maret) di beberapa wilayah uni, namun karena fokus hari tersebut terbatas pada peristiwa sejarah, beberapa negara bekas uni beralih mengadopsi tanggal 19 November yang "lebih spesifik untuk pria" sebagai Hari Pria Internasional, termasuk Belarus, Ukraina, Moldova, Rusia, dan Georgia.[3]
Pada tahun 1968, jurnalis Amerika Serikat John P. Harris menulis sebuah editorial di Salina Journal yang menyoroti kurangnya keseimbangan dalam sistem Soviet, yang mempromosikan Hari Perempuan Internasional untuk para pekerja perempuan tanpa mempromosikan hari yang sepadan bagi para pekerja pria. Harris menyatakan bahwa meskipun ia tidak iri dengan hari kejayaan perempuan Soviet di bulan Maret, ketimpangan gender yang dihasilkan dengan jelas menunjukkan kelemahan serius dalam sistem komunis, yang "membanggakan kesetaraan hak yang telah diberikan kepada kedua jenis kelamin, tetapi kenyataannya, kaum perempuan jauh lebih setara daripada kaum pria".[13] Harris menyatakan bahwa sementara para pria bekerja keras di jalurnya melakukan apa yang diperintahkan oleh pemerintah dan kaum perempuan mereka, tidak ada satu hari pun di mana kaum pria diakui atas jasa mereka, sehingga menuntun Harris pada kesimpulan bahwa, "Bagi saya, ini terasa seperti diskriminasi yang tidak beralasan dan ketidakadilan yang nyata."[13] Pertanyaan serupa mengenai ketimpangan dalam memperingati hari perempuan tanpa adanya hari pria yang sepadan juga muncul dalam berbagai publikasi media dari dekade 1960-an hingga 1990-an,[14][15] di mana pada masa itulah upaya-upaya pertama untuk meresmikan Hari Pria Internasional tercatat.[3]
Pada awal dekade 1990-an, organisasi-organisasi di Amerika Serikat, Australia, dan Malta mengadakan acara-acara kecil pada bulan Februari atas undangan Thomas Oaster yang memimpin Missouri Center for Men's Studies di Universitas Missouri–Kansas City.[4] Oaster berhasil mempromosikan acara tersebut pada tahun 1993 and 1994, tetapi upayanya berikutnya pada tahun 1995 sepi peminat dan ia menghentikan rencana untuk melanjutkan acara tersebut pada tahun-tahun berikutnya.[16] Masyarakat Australia juga berhenti memperingati acara tersebut (sampai mereka menetapkannya kembali pada tanggal 19 November 2003), sementara Asosiasi Hak-Hak Pria Malta terus menjadi satu-satunya yang mempertahankan peringatan acara tersebut setiap tahun di bulan Februari.[3] Sempat menjadi satu-satunya negara yang masih memperingati tanggal asli di bulan Februari, Komite AMR Malta sepakat melalui pemungutan suara pada tahun 2009 untuk mulai memperingati hari tersebut pada tanggal 19 November agar selaras dengan belahan dunia lainnya.[6][3]
Meskipun Hari Pria dan Hari Wanita Internasional dianggap sebagai acara yang 'berfokus pada gender', keduanya bukanlah cerminan ideologis karena keduanya menyoroti isu-isu yang dianggap unik bagi pria atau wanita.[3] Sejarah Hari Pria Internasional terutama berkaitan dengan perayaan isu-isu yang dianggap unik bagi pengalaman pria dan anak laki-laki, bersamaan dengan penekanan pada panutan positif, yang terutama "dianggap perlu dalam konteks sosial yang sering kali terpesona dengan citra laki-laki yang berperilaku buruk... Dengan menyoroti panutan pria yang positif, Hari Pria Internasional berupaya menunjukkan bahwa laki-laki dari segala usia merespons jauh lebih energik terhadap panutan positif daripada terhadap stereotip negatif".[17]