Hanuman Jayanti (Sanskerta: हनुमज्जयंती, romanized:Hanumajjayantīcode: sa is deprecated ) adalah festival umat Hindu yang memperingati kelahiran Dewa Hanoman, salah satu tokoh utama dalam epos Ramayana dan berbagai versinya. Waktu serta cara perayaannya berbeda-beda di setiap wilayah India, bergantung pada tradisi setempat. Di sebagian besar negara bagian India bagian utara, Hanuman Jayanti dirayakan pada hari bulan purnama bulan Chaitra dalam kalender Hindu (Chaitra Purnima). Di wilayah Telugu, perayaan yang dikenal sebagai Anjaneya Jayanthi berlangsung pada Bahula Dashami (Shukla Paksha) di bulan Vaishakha menurut kalender Telugu. Sementara itu, di Karnataka, festival ini diperingati pada Shukla Paksha Trayodashi selama bulan Margashirsha atau Vaishakha. Di Kerala dan Tamil Nadu, Hanuman Jayanti jatuh pada bulan Dhanu (disebut Margazhi dalam bahasa Tamil), sedangkan di Odisha, perayaan ini bertepatan dengan Pana Sankranti, yang juga menandai Tahun Baru dalam tradisi Odia.[1][2][3]
Simbolisme
Hanoman adalah seorang wanara yang lahir dari pasangan Kesari dan Anjana, serta dikenal sebagai putra spiritual Dewa Angin, Dewa Bayu. Ibunya, Anjana, merupakan seorang apsara yang turun ke bumi akibat sebuah kutukan, dan baru terbebas dari kutukan tersebut setelah melahirkan Hanoman. Dalam kepercayaan Hindu, Hanuman dipuja sebagai pengabdi setia Dewa Rama, inkarnasi Dewa Wisnu, dan dikenal luas karena kesetiaannya yang luar biasa. Ia juga dihormati sebagai lambang kekuatan, keberanian, dan pengabdian yang tulus.[4][5][6]
Perayaan
Hanoman dipuja sebagai dewa yang diyakini memiliki kekuatan untuk menaklukkan kejahatan dan memberikan perlindungan kepada para pengikutnya. Dalam perayaan festival ini, para pemuja berkumpul di kuil untuk berdoa, mempersembahkan sesajen, dan memohon berkah serta perlindungan dari Hanoman. Setelah upacara, mereka menerima prasadam sebagai tanda berkah ilahi. Para penyembah juga membaca teks-teks suci Hindu seperti Hanuman Chalisa dan Ramayana sebagai bentuk ketaatan. Dalam tradisi ritual, pewarna merah diambil dari patung Hanoman dan dioleskan ke dahi sebagai simbol pengabdian. Berdasarkan kisah legendaris, ketika Hanoman melihat Sinta mengoleskan sindur di dahinya untuk mendoakan umur panjang Rama, ia meniru tindakan itu dengan melumuri seluruh tubuhnya dengan sindur, sebagai wujud pengabdian total demi keabadian sang tuannya, Rama.[5][7]