Masa kecil dan remaja Han Gagas dilewati di Kabupaten Ponorogo yang sering menggelar kesenian Reog Ponorogo, bahkan di depan rumahnya sendiri. Pengalaman di masa kecil hingga remaja inilah yang akhirnya menjadi inspirasi utama penulisan novel pertamanya, Tembang Tolak Bala, sebuah novel yang menggabungkan unsur budaya, mistis, dan sejarah. Hans sempat belajar Manajemen Sumberdaya Ilmu Perairan di Universitas Brawijaya Malang selama satu tahun untuk kemudian pindah ke Teknik Geodesi, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, lulus tahun 2003.
Dia, beberapa kali, menjadi juri termasuk juri Kompetisi Bahasa Indonesia Tingkat Internasional yang diselenggarakan Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sebelas Maret Surakarta pada tahun 2016 dan 2017, juga menjadi pembicara sastra di kampus yang sama dan tempat lain. Ia telah menerbitkan enam buah buku, berupa biografi, kumpulan cerpen, dan novel. Karya-karyanya kerap mengangkat persoalan kelam 1965 dan juga tema kegilaan, gangguan jiwa, dan skizofrenia hingga melahirkan buku-buku; Catatan Orang Gila (kumpulan cerpen), novel Orang-orang Gila, dan Percakapan 2 Perasaan (kumpulan cerpen). Naskah novelnya berjudul Kecubung Wulung yang menggabungkan unsur budaya Jawa, mistis dan sejarah akan segera diterbitkan. Saat ini, dia sedang mengerjakan sebuah memoar tentang Yerusalem.
Bibliografi
Sang Penjelajah Dunia (biografi, Jakarta: Republika, 2010).