HMHS Britannic
His Majesty's Hospital Ship Britannic | |
| Sejarah | |
|---|---|
| Nama | HMHS Britannic |
| Pemilik |
|
| Operator |
|
| Registrasi |
|
| Pembangun | Harland and Wolff, Belfast |
| Nomor galangan | 433 |
| Pasang lunas | 30 November 1911 |
| Diluncurkan | 26 Februari 1914 |
| Selesai | 12 Desember 1915 |
| Beroperasi | 23 Desember 1915 (Kapal rumah sakit) |
| Tidak beroperasi | 21 November 1916 |
| Nasib | Tenggelam karena ledakan pada 21 November 1916, di pulau Kea |
| Ciri-ciri umum | |
| Kelas dan jenis | Kapal samudera kelas Olympic |
| Tonase | 48,158 gross register ton |
| Berat benaman | 53,200 ton |
| Panjang | 882Â ft 9Â in (269,1Â m) |
| Lebar | 94Â ft (28,7Â m) |
| Tinggi | 175 ft dari lunas ke cerobong |
| Daya muat | 34Â ft 7Â in (10,5Â m) |
| Kedalaman | 64 ft 6 in |
| Dek | 9 |
| Tenaga |
|
| Pendorong |
|
| Kecepatan |
|
| Kapasitas | 675 pada kapal rumah sakit (300 luka, 489 staf medik) |
| Awak | 860 |
| Catatan | Tidak mengangkut penumpang sipil; 1.066 penumpang ketika tenggelam |
HMHS Britannic (/brɪˈtænɪk/) merupakan kapal ketiga dan terakhir dari kapal samudra kelas Olympic dan menjadi kapal kedua di White Star Line yang menggunakan nama "Britannic". Kapal ini merupakan adik dari RMS Olympic dan RMS Titanic dan direncanakan sebagai kapal penumpang transatlantik.
Belajar dari tenggelamnya kapal Titanic pada 14 April 1912, White Star Line membuat beberapa modifikasi dalam konstruksi Britannic yang memang sudah direncanakan sebelumnya. Desain lambung kapalnya juga diubah agar lebih tangguh menghadapi gunung es.
Kapal ini dilengkapi sekoci penyelamat dengan jumlah cukup bagi semua penumpang, hal yang tidak ditemukan pada Titanic. Kapal yang disebut kendaraan raksasa termewah di dunia ini memiliki berat yang hampir mendekati 50.000 ton. Britannic diluncurkan pada 1914. Kapal ini memegang rekor sebagai kapal terbesar yang dibangun oleh Britania Raya hingga rekor tersebut diambil alih oleh RMS Queen Mary.
Namun, setelah itu langsung diminta menjadi kapal rumah sakit oleh pemerintah Inggris ketika Perang Dunia I. Setelah bergabung dengan Royal Navy pada 1915, Britannic merupakan kapal rumah sakit terbesar di dunia
Pada 21 November 1916, Britannic sedang dalam tugasnya membawa prajurit terluka di dekat Teluk Athena. Pada pukul 8.12 pagi, sebuah ledakan keras mengguncang kapal. Ledakan tersebut membanjiri seluruh kompartemen. Kerusakan akibat ledakan itu bahkan lebih parah jika dibandingkan dengan kerusakan Titanic. Britannic tenggelam pada pukul 09.07 kurang dari sejam setelah ledakan dan menewaskan 30 orang[2].
Penyebab ledakan tidak diketahui, tetapi banyak yang meyakini Britannic menabrak ranjau laut. Pada 1976, penjelajah samudra Jacques Cousteau menemukan Britannic pada kedalaman 400 kaki dari permukaan Laut Aegea.[3]
Karakteristik
Dimensi asli Britannic mirip dengan kapal saudaranya yang lebih tua, tetapi dimensinya diubah saat masih dalam tahap pembangunan setelah tenggelamnya Titanic. Dengan tonase kotor 48.158, ia melampaui Olympic dan Titanic dalam hal volume internal, tetapi ini tidak menjadikannya kapal penumpang terbesar yang beroperasi pada saat itu; rekor kapal terbesar dipegang oleh SS Vaterland, kapal samudera asal Jerman memegang gelar ini dengan tonase yang jauh lebih tinggi.[4]
Kapal kelas Olympic digerakkan oleh sistem gabungan dua mesin uap ekspansi tiga kali lipat yang menggerakkan baling-baling sayap luar tiga bilah sementara turbin uap tekanan rendah menggunakan uap yang dikeluarkan dari dua mesin bolak-balik untuk menggerakkan baling-baling tengah empat bilah sehingga menghasilkan kecepatan maksimum 23 knot.[5]
Perubahan desain pasca-Titanic
Britannic memiliki tata letak yang mirip dengan Olympic dan Titanic. Setelah tenggelamnya Titanic dan keluarnya hasil penyelidikan, beberapa perubahan desain dilakukan pada kapal-kapal kelas Olympic yang tersisa. Pada Britannic, perubahan yang dilakukan sebelum peluncuran termasuk peningkatan lebar kapal menjadi 94 kaki (29Â m)m) untuk memungkinkan lambung ganda di sepanjang ruang mesin dan ruang boiler dan menaikkan enam dari 15 sekat kedap air hingga Dek B. Selain itu, turbin yang lebih besar dengan daya 18.000 hp (13.000 kW) ditambahkan sebagai pengganti unit 16.000 hp (12.000 kW) yang dipasang pada kapal-kapal sebelumnya sebagai respons terhadap peningkatan lebar lambung. Kompartemen kedap air pusat ditingkatkan, memungkinkan kapal untuk tetap mengapung dengan enam kompartemen terendam air. [6]

Dari sisi eksterior, perubahan visual yang paling mencolok adalah pemasangan dewi-dewi gantry berukuran besar yang menyerupai derek; masing-masing digerakkan oleh motor listrik dan mampu menurunkan enam sekoci yang tersimpan pada struktur gantry tersebut. Kapal ini sebenarnya dirancang untuk memiliki delapan set dewi-dewi gantry, namun hanya lima yang terpasang sebelum Britannic mulai bertugas dalam masa perang, sehingga kekurangannya ditutupi dengan penggunaan sekoci yang diturunkan menggunakan dewi-dewi tipe Welin yang dioperasikan secara manual, serupa dengan yang ada pada kapal Titanic dan Olympic.[7][8]

Britannic dilengkapi dengan 48 sekoci. Dengan demikian, sekoci-sekoci itu dapat menampung setidaknya 3.600 orang, jumlah yang jauh melampaui kapasitas maksimum kapal sebesar 3.309 orang.[9]
Latar belakang dan konstruksi
Gagasan awal
Pada tahun 1907, J. Bruce Ismay, direktur jenderal White Star Line, dan Lord Pirrie, ketua galangan kapal Harland & Wolff di Belfast, memutuskan untuk membangun tiga kapal penumpang samudra berukuran besar guna menyaingi kapal Lusitania dan Mauretania milik Cunard Line. Namun White Star Line bermaksud untuk membangun ketiga kapal tersebut bukan bersaing dalam hal kecepatan, melainkan dalam hal kemewahan dan keselamatan.
Nama ketiga kapal tersebut diputuskan kemudian: Olympic, Titanic, dan Britannic.[10]
Rumor perubahan nama

Meskipun White Star Line dan galangan kapal Harland & Wolff selalu membantahnya,[11][12] beberapa sumber menyatakan bahwa Britannic awalnya akan diberi nama Gigantic, namun namanya diubah agar tidak bersaing dengan Titanic ataupun memancing perbandingan.[13][2] Salah satu sumbernya adalah poster kapal tersebut dengan nama Gigantic di bagian atasnya.[14] Sumber-sumber lainnya mencakup surat kabar Amerika bulan November 1911 yang memberitakan pemesanan kapal Gigantic oleh White Star, serta berbagai surat kabar lain dari seluruh dunia, baik pada masa pembangunan maupun segera setelah tenggelamnya Titanic.[15][16][17][18] Sebuah artikel terbaru mengenai kapal saingannya, Aquitania, menampilkan perbandingan gambar dari masa pembangunan Britannic yang juga mencakup kapal-kapal besar milik White Star, Cunard, dan Hamburg-America. Britannic ditampilkan dengan derek gantry yang sudah terpasang dan tampak lebih menyerupai tiruan Titanic, namun namanya masih tercantum sebagai Gigantic, serta ukurannya lebih kecil dari panjang 1.000 kaki yang semula direncanakan.[19]
Konstruksi

Lunas kapal Britannic diletakkan pada tanggal 30 November 1911 di galangan kapal Harland & Wolff di Belfast, tepatnya di landasan galangan yang sebelumnya digunakan oleh kapal Olympic sekitar 13 bulan setelah peluncuran kapal tersebut, serta kapal Arlanza yang diluncurkan tujuh hari sebelumnya.[8] Akuisisi kapal tersebut direncanakan pada awal tahun 1914.[20] Akibat berbagai penyempurnaan yang diterapkan menyusul tenggelamnya Titanic sekitar hampir dua tahun lalu, Britannic baru diluncurkan pada 26 Februari 1914,[21] peluncuran Britannic dan pemasangan cerobong asap terdokumentasi melalu rekaman film.[22] Beberapa pidato dari petinggi Harland and Wollf dan manajemen White Star disampaikan di hadapan pers, dan sebuah jamuan makan malam diselenggarakan oleh White Star untuk merayakan peluncuran tersebut.[23] Tahap penyelesaian kapal dimulai setelahnya. Kapal tersebut masuk ke dok kering pada bulan September dan baling-balingnya dipasang.[24]
Pada bulan Agustus 1914, sebelum Britannic sempat memulai layanan lintas Atlantik antara New York dan Southampton, Perang Dunia Pertama meletus. Seketika itu pula, semua galangan kapal yang memiliki kontrak dengan Admiralty (Angkatan Laut Inggris) diberi prioritas dalam penggunaan bahan baku yang tersedia. Akibatnya, pengerjaan semua kontrak sipil, termasuk pembangunan Britannic, menjadi terlambat.[25]

Pihak angkatan laut mengambil alih sejumlah besar kapal untuk dijadikan kapal penjelajah atau sebagai sarana angkut pasukan. Pihak angkatan laut memberikan pembayaran kepada perusahaan-perusahaan pemilik kapal atas penggunaan armada mereka, namun risiko kehilangan kapal dalam operasi angkatan laut tergolong tinggi. Kapal-kapal penumpang samudra yang berukuran besar pada awalnya tidak diambil untuk keperluan angkatan laut karena kapal-kapal yang lebih kecil lebih mudah dioperasikan. Kapal Olympic kembali ke Belfast pada tanggal 3 November 1914, sementara pengerjaan kapal Britannic terus berjalan dengan lambat.[25]
Perang dunia I
Akuisisi ke angkatan laut
Kebutuhan akan peningkatan kapasitas angkut menjadi sangat mendesak seiring meluasnya operasi angkatan laut hingga ke wilayah Mediterania Timur.Pada bulan Mei 1915, Britannic merampungkan uji coba tambat mesinnya dan disiapkan untuk mulai beroperasi dalam keadaan darurat dengan waktu persiapan sesingkat empat minggu. Pada bulan yang sama pula, terjadi peristiwa tenggelamnya kapal penumpang sipil dalam skala besar untuk pertama kalinya, ketika kapal RMS Lusitania milik perusahaan Cunard ditorpedo oleh kapal selam SM U-20 di dekat pesisir Irlandia.[26]

Pada bulan berikutnya, pihak angkatan laut memutuskan untuk menggunakan kapal penumpang yang baru saja disita untuk keperluan perang sebagai kapal pengangkut pasukan dalam Kampanye Gallipoli. Kapal pertama yang diberangkatkan adalah RMS Mauretania dan RMS Aquitania milik perusahaan Cunard. Ketika pendaratan di Gallipoli dimulai, ternyata operasi militer tersebut berujung bencana dan jumlah korban terus bertambah, kebutuhan akan kapal rumah sakit berukuran besar untuk perawatan serta evakuasi korban luka menjadi sangat mendesak. Aquitania dialihkan tugasnya menjadi kapal rumah sakit pada bulan Agustus, perannya sebagai kapal pengangkut pasukan kemudian digantikan oleh Olympic pada bulan September. Selanjutnya, pada tanggal 13 November 1915, Britannic diambil alih untuk dijadikan kapal rumah sakit dari Belfast.
Setelah dicat ulang menjadi putih dengan tanda salib merah besar dan garis horizontal berwarna hijau, kapal ini berganti nama menjadi HMHS (His Majesty Hospital Ship) Britannic[25] dan ditempatkan di bawah komando Kapten Charles Alfred Bartlett.[27]
Di bagian dalam kapal, dipasang 3.309 tempat tidur dan sejumlah ruang operasi. Area umum di dek atas diubah menjadi ruang perawatan bagi korban luka. Kabin di dek B digunakan sebagai tempat tinggal para dokter. Ruang makan dan ruang penerimaan tamu kelas satu di dek D diubah menjadi ruang operasi. Anjungan bawah digunakan untuk menampung korban dengan luka ringan.[27] Peralatan medis tersebut dipasang pada tanggal 12 Desember 1915.
Layanan pertama

Saat dinyatakan siap beroperasi pada 12 Desember 1915 di Liverpool, Britannic ditugaskan membawa tim medis yang terdiri dari 101 perawat, 336 bintara, dan 52 perwira, serta awak kapal sebanyak 675 orang.[27] Pada 23 Desember, Britannic bertolak dari Liverpool menuju pelabuhan Mudros (kini Moudros) di Pulau Lemnos, Laut Aegea, untuk menjemput tentara yang terluka.[28] Kapal ini berlayar bersama beberapa kapal lain yang menempuh rute serupa, termasuk Mauretania, Aquitania,[29] dan kapal saudarinya, Olympic.[30] Tak lama kemudian, kapal Statendam[31] turut bergabung dengan keempat kapal tersebut. Britannic sempat singgah di Napoli untuk mengisi ulang persediaan batu bara sebelum melanjutkan perjalanan ke Mudros.[32] Setelah kembali, kapal ini menghabiskan waktu selama empat minggu sebagai rumah sakit terapung di perairan dekat Isle of Wight.
Pelayaran ketiga berlangsung dari tanggal 20 Maret hingga 4 April 1916. Evakuasi dari Dardanella telah dilakukan pada bulan Januari.[33] Setelah masa tugas militernya berakhir pada 6 Juni 1916, Britannic kembali ke Belfast untuk menjalani modifikasi yang diperlukan guna mengubahnya menjadi kapal penumpang lintas Atlantik. Pemerintah Inggris membayar White Star Line sebesar £75.000 sebagai kompensasi atas konversi tersebut. Proses transformasi ini berlangsung hanya beberapa bulan sebelum akhirnya terhenti akibat adanya panggilan kembali bagi kapal tersebut untuk menjalani tugas militer.[34]
Pemanggilan kembali
Angkatan Laut memanggil kembali Britannic untuk bertugas sebagai kapal rumah sakit pada tanggal 26 Agustus 1916, dan kapal tersebut kembali ke Laut Tengah untuk pelayaran keempat pada tanggal 24 September 1916.[35] Pada tanggal 29 September, dalam perjalanan menuju Napoli, kapal itu menghadapi badai hebat namun berhasil melaluinya tanpa kerusakan berarti.[36] Britannic berangkat menuju Southampton pada tanggal 9 Oktober. Kemudian, kapal tersebut melakukan pelayaran kelima, yang diwarnai dengan karantina terhadap awak kapal saat tiba di Mudros akibat penyakit yang disebabkan oleh makanan.[37]
Kehidupan di atas kapal mengikuti suatu rutinitas. Pada pukul enam, para pasien dibangunkan dan area kapal dibersihkan. Sarapan disajikan pukul 06.30, kemudian kapten berkeliling kapal untuk melakukan pemeriksaan. Makan siang disajikan pukul 12.30 dan waktu minum teh pada pukul 16.30. Para pasien mendapatkan perawatan di sela-sela waktu makan, dan mereka yang ingin berjalan-jalan diperbolehkan melakukannya. Pada pukul 20.30, para pasien pergi tidur dan kapten kembali melakukan pemeriksaan keliling.[28] Di atas kapal, tersedia kelas medis untuk pelatihan para perawat.[38]
Pelayaran terakhir dan tenggelam
Setelah menyelesaikan lima pelayaran yang sukses, mengangkut orang sakit dan terluka dari wilayah Timur Tengah kembali ke Inggris, Britannic bertolak dari Southampton menuju Lemnos pada pukul 14.23 tanggal 12 November 1916; ini merupakan pelayaran keenamnya ke Laut Tengah.[27] Kapal tersebut melewati Gibraltar sekitar tengah malam pada tanggal 15 November dan tiba di Napoli pada pagi hari tanggal 17 November untuk melakukan pengisian batu bara dan air secara rutin.[39]
Badai sempat menahan kapal di Naples hingga Minggu sore, saat Kapten Bartlett memutuskan untuk memanfaatkan jeda singkat dalam cuaca buruk tersebut guna melanjutkan perjalanan. Ombak kembali meninggi begitu Britannic meninggalkan pelabuhan. Keesokan paginya, badai telah reda dan kapal berhasil melewati Selat Messina tanpa kendala. Tanjung Matapan berhasil dilewati pada dini hari tanggal 21 November. Menjelang pagi, Britannic melaju dengan kecepatan penuh memasuki Selat Kea, yang terletak di antara Tanjung Sounion (titik paling selatan Attika, wilayah administratif yang mencakup Athena) dan Pulau Kea.[39]
Terdapat 1.066 orang di dalamnya: 673 awak kapal, 315 personel Royal Army Medical Corps (RAMC), 77 perawat, dan kapten kapal.[40]
Ledakan

Pada pukul 08.12 Waktu Eropa Timur, Britannic diguncang ledakan setelah menabrak ranjau. Ranjau-ranjau tersebut telah dipasang di Selat Kea pada tanggal 21 Oktober 1916 oleh kapal selam SM U-73 di bawah komando Gustav Sieß.[41]
Reaksi di ruang makan terjadi seketika; para dokter dan perawat segera bergegas menuju pos masing-masing, namun tidak semua orang bereaksi dengan cara yang sama, karena di bagian belakang kapal, dampak ledakan tidak terlalu terasa, sehingga banyak yang mengira kapal telah menabrak kapal yang lebih kecil. Saat itu, Kapten Bartlett dan Perwira Utama Hume sedang berada di anjungan. Ledakan terjadi di sisi kanan kapal (lambung kanan), di antara ruang muat nomor dua dan tiga. Kekuatan ledakan merusak sekat kedap air yang memisahkan ruang muat nomor satu dengan kompartemen haluan. Empat kompartemen kedap air yang pertama dengan cepat terisi air, sementara terowongan akses bagi petugas juru api yang menghubungkan tempat tinggal awak ruang mesin di haluan dengan ruang pembakaran nomor enam mengalami kerusakan parah, sehingga air mulai mengalir masuk ke ruang pembakaran tersebut.[42][41]
Bartlett memerintahkan penutupan pintu-pintu kedap air, mengirimkan sinyal bahaya, dan menginstruksikan awak kapal untuk menyiapkan sekoci.[41] Sinyal SOS segera dikirimkan dan diterima oleh beberapa kapal lain di wilayah tersebut termasuk HMS Scourge dan HMS Heroic, namun Britannic tidak menerima tanggapan apa pun. Tanpa sepengetahuan Bartlett maupun operator radio kapal, dahsyatnya ledakan pertama telah menyebabkan kabel antena yang terentang di antara tiang-tiang kapal putus. Akibatnya, meskipun kapal masih dapat mengirimkan transmisi radio, kapal tersebut tidak lagi dapat menerima sinyal masuk.[43]
Selain pintu kedap air terowongan pemadam kebakaran yang rusak, pintu kedap air di antara ruang ketel uap enam dan lima juga gagal tertutup dengan sempurna.[41] Air terus mengalir ke arah buritan menuju ruang ketel uap lima. Britannic telah mencapai batas kemampuan menahan banjirnya. Kapal tersebut masih bisa tetap mengapung (dalam keadaan diam) meskipun enam kompartemen kedap air bagian depannya terendam air. Terdapat lima sekat kedap air yang menjulang hingga ke Dek B.[44] Langkah-langkah tersebut telah diantisipasi dan diterapkan setelah Titanic tenggelam (Titanic hanya mampu mengapung jika empat kompartemen bagian depannya terendam air).[45]
Sekat penting berikutnya yang memisahkan ruang pembakaran uap nomor lima dan empat beserta pintunya tidak mengalami kerusakan dan seharusnya dapat menjamin kapal tetap mengapung. Namun, terdapat jendela-jendela kapal yang terbuka di sepanjang geladak bawah bagian depan; area ini miring hingga terendam air hanya dalam hitungan menit setelah ledakan terjadi. Para perawat telah membuka sebagian besar jendela tersebut untuk melancarkan sirkulasi udara di ruang perawatan, tindakan yang sebenarnya melanggar ketentuan prosedur tetap. Seiring bertambahnya kemiringan kapal, air mencapai ketinggian geladak tersebut dan mulai masuk ke arah buritan melewati sekat pemisah ruang ketel uap nomor lima dan empat. Dengan lebih dari enam kompartemen yang terendam air, Britannic tidak dapat lagi mempertahankan daya apungnya.[45]
Evakuasi
Di anjungan, Kapten Bartlett sudah mulai memikirkan upaya untuk menyelamatkan kapal. Hanya dua menit setelah ledakan, ruang ketel uap nomor lima dan enam harus dikosongkan. Dalam waktu sekitar sepuluh menit, kondisi Britannic kurang lebih sama dengan kondisi Titanic satu jam setelah menabrak gunung es. Lima belas menit setelah kapal tertabrak, jendela-jendela kapal yang terbuka di Dek E sudah terendam air. Akibat air yang juga masuk ke bagian buritan melalui sekat antara ruang ketel uap nomor empat dan lima, Britannic dengan cepat mengalami kemiringan parah ke arah sisi kanan.[46]
Bartlett memerintahkan kapal untuk berbelok ke arah kanan menuju Pulau Kea dalam upaya untuk mengandaskannya. Kemiringan kapal ke arah kanan serta berat kemudi menyulitkan upaya mengendalikan kapal menggunakan tenaganya sendiri, ditambah lagi sistem kemudi telah rusak akibat ledakan sehingga kemudi tidak dapat berfungsi. Sang kapten memerintahkan agar poros baling-baling sisi kiri (port) dijalankan dengan kecepatan lebih tinggi dibandingkan sisi kanan, yang membantu kapal bergerak menuju Kea.[46]
Pada saat yang sama, para staf rumah sakit, perawat dan dokter telah bersiap untuk melakukan evakuasi. Bartlett telah memerintahkan agar sekoci disiapkan, namun ia tidak mengizinkan sekoci-sekoci tersebut diturunkan ke air. Setiap orang membawa serta barang-barang mereka yang paling berharga sebelum melakukan evakuasi. Pendeta kapal mengambil kembali Alkitab miliknya. Segelintir pasien dan perawat yang berada di kapal dikumpulkan. Mayor Harold Priestley mengumpulkan pasukannya dari Royal Army Medical Corps di bagian belakang Dek A dan memeriksa kabin-kabin untuk memastikan tidak ada seorang pun yang tertinggal.[46]
Sementara Bartlett terus melakukan upaya untuk mengkandaskan Britannic ke Pulau Kea, kemiringan kapal Britannic kian bertambah parah. Khawatir kemiringan kapal akan menjadi terlalu ekstrem untuk menurunkan sekoci, sebagian awak memutuskan untuk menurunkannya tanpa menunggu perintah resmi dari kapten.[46] Dua sekoci diturunkan ke air di sisi kiri kapal tanpa izin oleh Perwira Ketiga Francis Laws. Sekoci-sekoci tersebut terseret ke arah baling-baling yang masih berputar dan sebagian muncul di permukaan air. Mengetahui usahanya akan sia-sia, Bartlett memerintahkan agar mesin dihentikan, namun sebelum perintah itu terlaksana, kedua sekoci tersebut terseret masuk ke dalam baling-baling; akibatnya, kedua sekoci hancur total dan 30 orang tewas[45]. Bartlett berhasil menghentikan mesin sebelum ada lagi sekoci yang menjadi korban.[42]
Momen terakhir
Menjelang pukul 08.50, sebagian besar orang di atas kapal telah menyelamatkan diri menggunakan 35 sekoci yang berhasil diturunkan. Pada saat itu, Bartlett menyimpulkan bahwa laju tenggelamnya Britannic telah melambat; ia pun menghentikan evakuasi dan memerintahkan agar mesin dinyalakan kembali dengan harapan kapal masih bisa dikandaskan di pantai.[41] Pukul 09.00, Bartlett mendapat laporan bahwa laju masuknya air meningkat akibat pergerakan maju kapal dan air telah mencapai Dek D. Menyadari bahwa kini tidak ada lagi harapan untuk mencapai daratan tepat waktu, Bartlett memberikan perintah terakhir untuk mematikan mesin dan membunyikan peluit kapal dua kali dengan nada panjang, sebuah tanda untuk meninggalkan kapal.[44] Saat air mulai membanjiri anjungan, ia dan Asisten Komandan Dyke melangkah keluar ke geladak lalu terjun ke air, kemudian berenang menuju sebuah sekoci lipat tempat mereka melanjutkan koordinasi operasi penyelamatan.[47]
Britannic perlahan miring dan terbalik ke arah kanan, sementara cerobong-cerobong asapnya runtuh satu demi satu saat kapal tenggelam dengan cepat. Saat bagian buritan terangkat keluar dari air, bagian haluan sudah lebih dulu menghantam dasar laut. Karena panjang kapal Britannic melebihi kedalaman air, benturan tersebut menyebabkan kerusakan struktural parah pada bagian haluan sebelum kapal akhirnya tenggelam sepenuhnya ke bawah permukaan air pada pukul 09.07, tepat 55 menit setelah ledakan terjadi.[44] Violet Jessop (yang merupakan salah satu penyintas tragedi Titanic dan juga berada di atas kapal Olympic saat bertabrakan dengan HMS Hawke) menggambarkan detik-detik terakhir tersebut:[48]
"Kapal itu menundukkan haluannya sedikit, lalu sedikit lebih rendah lagi, dan terus merendah. Seluruh peralatan dek jatuh ke laut bagaikan mainan anak-anak. Kemudian, kapal itu menukik tajam dengan mengerikan; bagian buritannya terangkat ratusan kaki ke udara hingga, diiringi suara gemuruh terakhir, ia lenyap ke dalam kedalaman—suara saat ia tenggelam bergema di dalam air dengan kekuatan dahsyat yang tak terbayangkan...."
Ketika Britannic tenggelam, kapal tersebut menjadi kapal terbesar yang tenggelam pada Perang Dunia Pertama.[49]
Penyelamatan

Dibandingkan dengan Titanic, upaya penyelamatan Britannic terbantu oleh tiga faktor: suhu air lebih hangat (sekitar 20 °C (68 °F) dibandingkan −2 °C (28 °F)pada kasus Titanic),[50][51] jumlah sekoci yang tersedia lebih banyak (35 sekoci berhasil diturunkan dan tetap mengapung dibandingkan 20 sekoci pada Titanic), dan bantuan berada lebih dekat (bantuan tiba kurang dari dua jam setelah panggilan darurat pertama, dibandingkan tiga setengah jam pada kasus Titanic).
Pihak pertama yang tiba di lokasi kejadian adalah para nelayan dari Kea, mereka mengevakuasi banyak penyintas dari perairan. Pada pukul 10.00, HMS Scourge melihat sekoci pertama, lalu sepuluh menit kemudian Scourge berhenti dan mengevakuasi sebanyak 339 penyintas.[52] Kapal uap bersenjata HMS Heroic telah tiba beberapa menit sebelumnya dan mengevakuasi 494 orang. Sekitar 150 orang berhasil mencapai Korissia, Kea; di sana, para dokter dan perawat yang selamat dari Britannic berupaya menyelamatkan korban luka dengan memanfaatkan celemek serta potongan pelampung sebagai bahan pembalut luka. Sebuah dermaga kecil yang gersang berfungsi sebagai ruang operasi mereka.
Scourge dan Heroic tidak memiliki cukup ruang di geladak untuk menampung lebih banyak penyalin; keduanya kemudian bertolak menuju Piraeus sambil memberi isyarat mengenai keberadaan para penyunting yang masih tertinggal di Korissia. HMS Foxhound tiba pada pukul 11.45 dan, setelah menyisir area tersebut, berlabuh di pelabuhan kecil pada pukul 13.00 untuk memberikan bantuan medis serta mengevakuasi para penyintas yang tersisa.Pada pukul 14.00, kapal penjelajah ringan HMS Foresight tiba. Foxhound bertolak menuju Piraeus pada pukul 14.15, sementara Foresight tetap tinggal untuk mengurus pemakaman Sersan William Sharpe dari RAMC yang meninggal dunia akibat luka-lukanya—di Pulau Kea. Dua penyintas lainnya meninggal di kapal Heroic dan satu orang lagi di kapal tunda Prancis, Goliath. Ketiganya dimakamkan dengan penghormatan militer di Pemakaman Angkatan Laut.[53]
Dari total 1.066 orang di atas kapal, 1.036 orang berhasil selamat dari peristiwa tenggelamnya kapal tersebut.[54] Sementara jumlah korban tewas mencapai 30 orang, namun hanya lima jenazah yang berhasil ditemukan dan dimakamkan, sementara jenazah lainnya tidak ditemukan dan kini dikenang melalui monumen peringatan di Kota Thessaloniki (Monumen Mikra) dan London. Sebanyak 38 orang lainnya mengalami luka-luka (termasuk 18 awak kapal dan 20 personel RAMC).[55] Para penyintas ditampung di kapal-kapal perang yang berlabuh di pelabuhan Piraeus, sementara para perawat dan perwira yang selamat ditempatkan di hotel-hotel secara terpisah di Phaleron. Banyak warga serta pejabat Yunani menghadiri upacara pemakaman dari korban yang tewas dari tenggelamnya Britannic. Para penyintas kemudian dipulangkan, dan sebagian kecil di antaranya tiba di Inggris sebelum Natal.[56]
Gambaran sebagai kapal penumpang

Rancangan Britannic menunjukkan bahwa kapal ini direncanakan akan dibangun lebih mewah daripada Olympic dan Titanic demi bersaing dengan SS Imperator, SS Vaterland, dan RMS Aquitania.[57] Beberapa fasilitas juga ditingkatkan agar dapat meningkatkan layanan, salah satunya di kelas satu, terdapat ruang bermain anak di samping Grand Staircase geladak atas. Fasilitas ini ditambahkan untuk mengakomodasi anak-anak selama dalam pelayaran, fasilitas tersebut tidak ada di Olympic dan Titanic.[58] Serupa dengan dua kapal saudaranya, fasilitas kelas satu mencakup Grand Staircase (tangga besar di kelas satu yang ikonik), namun fasilitas di Britannic dibuat lebih mewah, dengan adanya pagar tangga berukir, panel dekoratif, dan sebuah organ pipa.[59] Dek A kapal tersebut sepenuhnya diperuntukkan bagi Kelas Satu, serta dilengkapi dengan sebuah lounge, dua kafe varendah, ruang merokok, dan ruang baca.[60] Dek B terdapat fasilitas salon, kantor pos dan parlour suite (kabin mewah dengan ruang tamu dan dek pribadi).[61] Britannic juga akan dilengkapi dengan kamar mandi pribadi di setiap kabin kelas satu, yang menjadi terobosan terbaru bagi kapal penumpang pada saat itu. Meskipun Olympic dan Titanic terdapat kamar mandi pribadi namun fasilitas tersebut hanya terbatas di kabin suites mewah, sementara penumpang yang menempati kabin standar masih menggunakan kamar mandi umum.[62]
Beberapa fasilitas dan dekorasi interior ini sempat dipasang namun segera dibongkar karena kapal tersebut dialihfungsikan menjadi kapal rumah sakit; fasilitas-fasilitas tersebut tidak pernah dipasang kembali karena kapal tersebut tenggelam sebelum sempat melayani rute transatlantik, sehingga rencana penggunaannya pun dibatalkan. Beberapa dekorasi Interior yang belum sempat digunakan sebagian dimusnahkan atau dipindahkan ke kapal lain seperti Olympic atau Majestic, atau bahkan tidak pernah digunakan sama sekali.[25] Hanya dekorasi tangga besar dan ruang bermain anak yang terpasang ketika Britannic masuk sebagai kapal rumah sakit.
Sebuah pipa organ filharmonik Welte rencananya akan dipasang di atas Britannic, namun akibat pecahnya perang, instrumen tersebut tidak pernah sampai ke Belfast dari Jerman.[25] Setelah perang, pipa organ tersebut tidak diambil oleh Harland & Wolff maupun White Star Line.[25]
Bangkai kapal
Bangkai kapal HMHS Britannic terletak pada koordinat 37°42′05″N 24°17′02″E / 37.70139°N 24.28389°E / 37.70139; 24.28389 di kedalaman sekitar 400 kaki (122 m).[3] Bangkai kapal ini ditemukan pada tanggal 13 November 1975 oleh Jacques Cousteau melalui citra sonar pemindaian samping. Saat mendokumentasikan ekspedisi tersebut, Cousteau juga melakukan konferensi di depan kamera dengan beberapa awak kapal yang selamat.[63] Pada tahun 1976, Cousteau memasuki bangkai kapal tersebut bersama para penyelamnya untuk pertama kalinya.[64] Ia berpendapat bahwa kapal itu tenggelam akibat satu torpedo, sebuah kesimpulan yang didasarkan pada kerusakan pada pelat-pelat badan kapal.[65]
Britannic terbaring miring pada sisi kanannya dalam kondisi yang relatif utuh, menutupi lubang besar yang terkoyak akibat hantaman ranjau. Terdapat lubang sangat besar tepat di bawah geladak terbuka bagian depan. Bagian haluan mengalami kerusakan bentuk yang parah dan hanya tersambung dengan badan kapal lainnya melalui beberapa bagian dari Dek C. Ruang awak kapal di bagian haluan depan ditemukan dalam kondisi baik, dengan banyak detail yang masih terlihat jelas. Ruang-ruang palka kapal ditemukan dalam keadaan kosong.[64]
Peralatan mekanis di geladak haluan dan dua derek kargo di geladak terbuka bagian depan masih terjaga kondisinya dengan baik. Tiang depan kapal ditemukan dalam keadaan bengkok dan terbaring di dasar laut di dekat bangkai kapal, dengan pos pengamatan yang masih terpasang padanya. Lonceng kapal, yang sebelumnya dikira hilang, ditemukan dalam sebuah penyelaman pada tahun 2019; lonceng tersebut telah jatuh dari tiang dan kini tergeletak tepat di bawah pos pengamatan di dasar laut. Corong asap nomor 1 ditemukan beberapa meter dari Geladak Sekoci. Corong asap nomor dua, tiga, dan empat ditemukan di area sebaran puing (yang terletak di dekat buritan).[64]
Warisan
Karena kariernya terhenti akibat perang dan ia tidak pernah menjalani pelayaran komersial, ditambah lagi dengan fakta bahwa sebagian besar orang di dalamnya selamat saat kapal itu tenggelam. Britannic tidak begitu dikenal oleh banyak orang dibandingkan dengan Titanic. Setelah sempat terlupakan oleh publik, kapal ini kembali dikenal luas ketika bangkainya ditemukan.[66] Namanya kemudian digunakan kembali oleh White Star Line saat perusahaan tersebut mengoperasikan MV Britannic pada tahun 1930. Kapal tersebut merupakan kapal terakhir yang mengibarkan bendera sebelum merger dengan Cunard pada 1934 menjadi Cunard White Star, MV Britannic pensiun pada 1960.[67]
Setelah Jerman menyerah pada akhir Perang Dunia Pertama dan menandatangani Perjanjian Versailles, Jerman menyerahkan sejumlah kapal penumpangnya sebagai pampasan perang; dua di antaranya diserahkan kepada White Star Line. HMHS Britannic digantikan oleh SS Bismarck yang kemudian diubah menjadi RMS Majestic sebagai kompensasi perang, dan Colombus yang kemudian diubah menjadi RMS Homeric. Baik Majestic maupun Homeric, keduanya langsung menjadi kapal bendera unggulan White Star bersamaan dengan Olympic, menggantikan peran Titanic dan Britannic yang sudah tenggelam.[68]
Referensi
- ↑ "HMHS Britannic (1914) Builder Data". MaritimeQuest. Diarsipkan dari asli tanggal 2008-09-02. Diakses tanggal 2008-08-09.
- 1 2 Vladisavljevic, Brana. "Titanic's sister ship Britannic could become a diving attraction in Greece". Lonely Planet (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari asli tanggal 27 November 2021. Diakses tanggal 9 October 2021.
- 1 2 Chirnside 2011, hlm. 275.
- ↑ Chirnside 2011, hlm. 217.
- ↑ Chirnside 2011, hlm. 231.
- ↑ Chirnside 2011, hlm. 220.
- ↑ Chirnside 2011, hlm. 224.
- 1 2 Piouffre 2009, hlm. 307.
- ↑ "Lost Liners". PBS Online. Diakses tanggal 26 February 2026.
- ↑ Piouffre 2009, hlm. 41
- ↑ Bonsall, Thomas E. (1987). "8". Titanic. Baltimore, Maryland: Bookman Publishing. hlm. 54. ISBN 978-0-8317-8774-5.
- ↑ "HMHS Britannic". ocean-liners.com. Diarsipkan dari versi asli pada 19 Desember 2005. Diakses tanggal 12 Februari 2006.
- ↑ Bonner, Kit; Bonner, Carolyn (2003). Great Ship Disasters. MBI Publishing Company. hlm. 60. ISBN 0-7603-1336-9.
- ↑ "White Star Line". 20thcenturyliners.com. Diarsipkan dari versi asli pada 24 Juni 2014. Diakses tanggal 14 Juli 2014.
- ↑ "24 Apr 1912 – WHITE STAR'S NEXT GREAT LINER. – Trove". Trove.nla.gov.au. 1912-04-24. Diakses tanggal 2022-02-27.
- ↑ "25 Nov 1911 – A MAMMOTH STEAMER. – Trove". Trove.nla.gov.au. 1911-11-25. Diakses tanggal 2022-02-27.
- ↑ "Image 1 of The Madison daily leader (Madison, S.D.), November 27, 1911 | Library of Congress". www.loc.gov. Diakses tanggal 2026-07-17.
- ↑ "Image 5 of Las Vegas optic (East Las Vegas, N.M.), November 21, 1911, (CITY EDITION) | Library of Congress". www.loc.gov. Diakses tanggal 2026-07-17.
- ↑ "R.M.S. AQUITANIA - story of World's Wonder Ship". Hajosnep.blog.hu. Diakses tanggal 12 June 2026.
- ↑ Chirnside 2011, hlm. 216.
- ↑ Chirnside 2011, hlm. 242.
- ↑ Launch footage Diarsipkan 11 May 2014 di Wayback Machine. and "Funnel fitting". Diarsipkan 21 June 2013 di Wayback Machine. British Pathé. Retrieved 18 February 2013
- ↑ Chirnside 2011, hlm. 238.
- ↑ Chirnside 2011, hlm. 239.
- 1 2 3 4 5 6 Chirnside 2011, hlm. 240.
- ↑ Le Goff 1998, hlm. 50
- 1 2 3 4 Chirnside 2011, hlm. 241.
- 1 2 Chirnside 2011, hlm. 243.
- ↑ Chirnside 2011, hlm. 92.
- ↑ Chirnside 2011, hlm. 94.
- ↑ « HMHS Britannic », WebTitanic. Accessed 5 April 2011.
- ↑ Chirnside 2011, hlm. 244.
- ↑ Chirnside 2011, hlm. 245.
- ↑ Chirnside 2011, hlm. 246.
- ↑ Chirnside 2011, hlm. 247.
- ↑ Chirnside 2011, hlm. 249.
- ↑ Chirnside 2011, hlm. 250.
- ↑ Chirnside 2011, hlm. 254.
- 1 2 Chirnside 2011, hlm. 253.
- ↑ "Sinking". Hospital Ship HMHS Britannic. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 Agustus 2015.
- 1 2 3 4 5 Chirnside 2011, hlm. 260.
- 1 2 Chirnside 2011, hlm. 259.
- ↑ Chirnside 2011, hlm. 256.
- 1 2 3 Chirnside 2011, hlm. 261.
- 1 2 3 Chirnside 2011, hlm. 258.
- 1 2 3 4 Chirnside 2011, hlm. 257.
- ↑ « Britannic » Diarsipkan 6 August 2009 di Wayback Machine., Titanic-titanic.com. Accessed 12 July 2009.
- ↑ Gleick, Elizabeth; Carassava, Anthee (26 October 1998). "Deep Secrets". Time International (South Pacific Edition). No. 43. p. 72.
- ↑ "PBS Online – Lost Liners – Britannic". PBS. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 Oktober 2008. Diakses tanggal 9 November 2008.
- ↑ Chirnside 2011, hlm. 262.
- ↑ Chirnside 2011, hlm. 149.
- ↑ Chirnside 2011, hlm. 262.
- ↑ "Cemetery Details". Cwgc.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-09-26.
- ↑ Chirnside 2011, hlm. 325–327.
- ↑ "Crew Lists". Hospital Ship HMHS Britannic. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 Agustus 2015.
- ↑ Chirnside 2011, hlm. 264.
- ↑ Chirnside 2011, hlm. 296.
- ↑ Chirnside 2011, hlm. 225.
- ↑ RMS Britannic: A deck, Hospital Ship Britannic on The Internet Archive. Accessed 7 April 2011.
- ↑ Chirnside 2011, hlm. 226.
- ↑ « RMS Britannic: B deck », Hospital Ship Britannic on The Internet Archive. Accessed 7 April 2011.
- ↑ Chirnside 2011, hlm. 227.
- ↑ "Britannic Jacques Cousteau's Search for Titanic's Sister Ship, Britannic Full Documentary". YouTube. 5 September 2014. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 Januari 2017. Diakses tanggal 12 Desember 2016.
- 1 2 3 Chirnside 2011, hlm. 276.
- ↑ "British Red Cross ship hit by torpedo". The Times. No. 59868. London. 23 November 1976. col F, p. 8.
- ↑ Chirnside 2011, hlm. 274.
- ↑ « White Star Line MV Britannic (III) 1930–1960 The last WSL ship », « Titanic » and Other White Star Ships. Accessed 28 July 2009.
- ↑ Chirnside 2011, hlm. 107.
Bibliografi
- Brewster, Hugh; Coulter, Laurie (1998). 882 1/2 Amazing Answers to your Questions about the Titanic. Madison Press Book. ISBNÂ 978-0-590-18730-5.
- Chirnside, Mark (2011) [2004]. The Olympic-Class Ships. Stroud: Tempus. ISBNÂ 978-0-7524-2868-0.
- Lord, Walter (2005) [1955]. A Night to Remember. New York: St. Martin's Griffin. ISBNÂ 978-0-8050-7764-3.
- Le Goff, Olivier (1998). Les Plus Beaux Paquebots du Monde (dalam bahasa Prancis). Solar. ISBNÂ 9782263027994.
- Lynch, John (2012). Belfast Built Ships. The History Press. ISBNÂ 978-0-7524-6539-5.
- Piouffre, Gérard (2009). Le Titanic ne répond plus (dalam bahasa Prancis). Larousse. ISBN 978-2-263-02799-4.
Bacaan lebih lanjut
- Kohler, Richie; Hudson, Charlie (2016). Mystery of the Last Olympian: Titanic's Tragic Sister Britannic. Best Publishing Company. ISBNÂ 978-1930536869.
- Layton, J. Kent (2013). The Edwardian Superliners: a trio of trios. Amberley. ISBNÂ 978-1-4456-1438-0.
- Mills, Simon (1992). H.M.H.S. "Britannic": Last Titan. Dorset: Waterfront Publications. ISBNÂ 0-946184-71-2.
- Mills, Simon (2002). Hostage to Fortune: the dramatic story of the last Olympian, HMHS Britannic. Chesham, England: Wordsmith. ISBNÂ 1-899493-03-4.
- Mills, Simon (2019). Exploring the Britannic: The Life, Last Voyage and Wreck of Titanic's Tragic Twin. London: Adlard Coles. ISBNÂ 978-1-4729-5492-3.
Pranala luar
Newsreel footage of the construction of HMHS Britannic, 1914
- Maritimequest HMHS Britannic Photo Gallery
- Britannic Home at Atlantic Liners
- NOVA Online-Titanic's Lost Sister
- Hospital Ship Britannic
- About the origins of the Britannic Organ Diarsipkan 10 Juli 2021 di Wayback Machine.
- Images of HMHS Britannic Diarsipkan 22 April 2014 di Wayback Machine.
- British Pathé gallery on the Olympic class
Kapal White Star Line | |
|---|---|
| Kapal yang masih bertahan | Nomadic (1911) |
| Direncanakan | |
| Kapal bekas |
|
| Kelas | |
Lihat juga: Daftar kapal White Star Line Tahun menunjukkan tahun masuknya ke dalam layanan White Star. | |
| Internasional | |
|---|---|
| Nasional | |
| Lain-lain | |