Gu dikenal karena pembawaan cerita silatnya yang dianggap berbeda dan realistis,[2] khususnya dibanding dari penulis wuxia top lain saat itu, Jin Yong. Keduanya bersama penulis lain, Liang Yusheng, mendapat julukan sebagai "Tiga Kaki Wuxia". Adapun Gu juga memiliki julukan pribadi sebagai "Sukma Bebas".[3] Banyak karyanya yang telah diadopsi dalam bentuk film atau serial.
Profil
Gu dilahirkan dengan nama Xiong Yaohua pada 7 Juni 1938,[4] meskipun dalam identitas resminya disebutkan ia lahir pada 1941. Keluarga Gu berasal dari Nanchang, Jiangxi, meskipun ia lahir di Hong Kong dan kemudian tinggal di Hankou pada masa kecilnya. Pada 1952, Xiong dan keluarganya pindah ke Taipei, Taiwan dan menempuh pendidikan tingginya di kota ini, yaitu di Departemen Bahasa Asing Universitas Tamkang yang dibiayainya dari kerja sampingannya. Namun, dirinya tidak menyelesaikan pendidikan tersebut, dan kembali ke kota tempat tinggalnya dekat Taipei, Ruifang untuk memulai kariernya sebagai penulis.[2] Xiong juga sempat bekerja sebagai penasihat militer Amerika Serikat di Taipei.
Novel pertama Xiong ditulis pada usianya yang ke-11, dan pada usia ke-19 ia mulai memperoleh royalti dari karyanya tersebut yang saat itu didominasi cerita percintaan. Memasuki awal 1960-an, Xiong (dengan nama pena Gu Long) mulai menjajaki penulisan cerita silat karena dibujuk rekannya.[2] Novel silat pertamanya berjudul Cangqiong Shenjian (蒼穹神劍code: zh is deprecated ), yang disusul 8 novel sejenis pada 1960 hingga 1961. Mungkin karena ceritanya yang tidak jauh berbeda dari serial wuxia lain, karya-karya awal Gu tidak dikenal secara luas.[5] Baru pada 1967, lewat novel Pendekar Binal (atau Pertarungan Si Kembar/Remarkable Twins), nama Gu mulai diperhitungkan sebagai penulis novel wuxia dengan gaya yang lebih segar.[2] Cerita-cerita yang ditulisnya banyak memasukkan aspek misteri, filosofi, akal budi dan unsur-unsur menegangkan, yang diantaranya diadopsi dari karya penulis asing seperti Ernest Hemingway, Jack London, John Steinbeck, Friedrich Nietzsche, serial James Bond, dan novel The Godfather. Alur cerita yang dibuatnya lebih menonjolkan dialog antar karakter dan paragraf-paragraf yang pendek.
Sayang, kehidupan pribadinya berbanding terbalik dengan kesuksesan Gu di bidang kesusastraan. Di bidang asmara, Gu Long pernah memiliki tiga pasangan yang masing-masing melahirkan satu anak (Zheng Yuexia/鄭月霞code: zh is deprecated dengan anak bernama Zheng Xiaolong/鄭小龍code: zh is deprecated , Ye Xue/葉雪code: zh is deprecated dengan anak bernama Ye Yikuan/葉怡寬code: zh is deprecated , dan istri sahnya Mei Baozhu/梅寶珠code: zh is deprecated dengan putra bernama Xiong Zhengda/熊正達code: zh is deprecated ). Gu juga mengalami kecanduan alkohol dan gemar merokok, dengan demi menyelesaikan novelnya bisa mengonsumsi dua pak rokok sekaligus, belum lagi suka berfoya-foya. Kecanduan minuman beralkohol ini kemudian juga dimasukkan Gu Long dalam penokohan beberapa karakter di novelnya.[6]
Kegemaran itulah yang membuat kesehatannya perlahan memburuk, yang memengaruhi kualitas karya Gu sehingga mulai pertengahan 1970-an karya-karyanya mulai ditinggalkan penggemar wuxia. Gaya penulisannya mulai ditiru penulis cerita silat lain, sedangkan upaya Gu menciptakan terobosan baru sering kali tidak tuntas dan harus diselesaikan oleh orang lain. Masalah lain pun muncul ketika para penerbit yang meskipun sudah menjanjikan royalti tinggi pada sang penulis, justru target waktunya tidak mampu ditepati oleh Gu Long.[3][5] Pada 21 September 1985, Gu meninggal di usia 47 tahun akibat kecanduan alkohol yang menyebabkan penyakit sirosis dan kebocoran esofagus di sebuah rumah sakit di Taipei.[1] Kematiannya yang begitu cepat diratapi oleh teman-temannya, yang membawa 48 botol cognac di hari pemakamannya.[3]
Karya
Gu Long tercatat menulis banyak karya sepanjang hidupnya, dengan suatu estimasi memperkirakan sekitar ratusan karya.[6] Beberapa karyanya tersebut juga ada yang ditulis bersama dengan orang lain. Popularitas cerita silat di Indonesia pada era 1970-an hingga 1990-an ikut membawa karya Gu Long (Khu Lung) diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia (seperti oleh Gan K.L., Gan K.H. dan Kwee Tjin), maupun selanjutnya muncul dalam bentuk serial silat di layar kaca.[7] Beberapa karya Gu Long seperti: