Pada tahun 2019, Wali Kota Madiun menetapkan Kompleks Gereja Santo Cornelius sebagai bangunan cagar budaya peringkat kota melalui Surat Keputusan Wali Kota Madiun Nomor 430-401.102/216/2019 tentang Penetapan Kompleks Gereja Santo Cornelius sebagai bangunan cagar budaya.[2]
Sejarah
Sejarah awal
Romo Cornelius Stiphout SJ
Sejarah awal Gereja Santo Cornelius Madiun bermula pada akhir abad ke-19, ketika wilayah Madiun masih merupakan bagian dari Stasi Ambarawa dan pelayanan pastoral di daerah ini dilakukan secara berkala oleh para imam dari Ambarawa. Kondisi tersebut berubah pada akhir Juli 1897. Dalam suratnya, Pastor Cornelius Stiphout, SJ, mencatat bahwa pada tanggal 27 Juli 1897, ia menerima penugasan ke Madiun. Sejak saat itu, Madiun resmi berkembang menjadi stasi yang berdiri sendiri, dengan menggunakan pastoran pertama yang dibangun dari sumbangan umat setempat.
Gedung pastoran pertama
Pada masa awal tersebut, Stasi Madiun mencakup wilayah yang sangat luas, yakni meliputi Keresidenan Madiun dan Keresidenan Kediri, termasuk daerah Ngawi, Ponorogo, Magetan, dan wilayah sekitarnya. Pastor Stiphout serta para penggantinya melayani umat di berbagai stasi pedalaman dengan sarana transportasi yang terbatas, seperti kereta api dan delman. Umat yang dilayani berasal dari beragam latar belakang, antara lain pegawai Belanda, buruh perkebunan, guru, serta sejumlah keluarga pribumi yang telah memeluk agama Katolik.
Foto gedung gereja pertama dan gedung paroki.
Seiring dengan bertambahnya jumlah umat, Pastor Stiphout merintis pembangunan gedung gereja tetap di Madiun. Pada tanggal 12 Maret 1899, gedung gereja pertama beserta pastoran baru mulai digunakan dan diberkati. Gereja pertama ini terletak di sebelah barat pastoran dan kini dikenal sebagai Aula Sekolah Santo Bernardus. Sepuluh hari setelah pemberkatan gereja tersebut, pada 22 Maret 1899, sebanyak 27 anak menerima sakramen baptis, yang menandai pertumbuhan awal komunitas Katolik lokal di Madiun. Pada masa itu, paroki ini bernama Paroki Hati Maria Tak Bernoda.
Selain pelayanan sakramental, para imam Serikat Yesus juga mulai merintis karya sosial dan pendidikan. Upaya ini menjadi dasar bagi berkembangnya lembaga-lembaga pendidikan Katolik di Madiun serta mempersiapkan kedatangan para suster Ursulin pada tahun-tahun berikutnya, yang kemudian berperan penting dalam bidang pendidikan dan pelayanan sosial.
Pada 30 Juni 1903, Romo Stiphout, SJ, digantikan oleh Romo B. G. Schweitz, SJ. Romo Schweitz melanjutkan pengembangan karya pendidikan di wilayah Madiun. Pada Mei 1905, ia menerima kiriman patung Hati Kudus Yesus, Santa Perawan Maria, dan Santo Yosef, yang hingga kini masih digunakan dan disimpan di dalam gereja.
Peralihan pengelolaan misi
Dari kanan Mgr. Theophile de Backere, CM, Romo Jan Wolters CM, Romo Th. Heuvelmans CM, Romo E. Sarneel CM, Romo Corneille Klamer CM, Romo Boonekamp CM, Romo Van Megen CM.
Pada tahun 1923 mulai beredar kabar mengenai rencana perubahan struktur Gereja di Jawa Timur. Dalam kerangka perubahan tersebut, misi Madiun diputuskan untuk diserahkan kepada Kongregasi Misi. Keputusan ini mengejutkan umat Katolik di wilayah Madiun, termasuk para suster Ursulin, mengingat hubungan yang telah terjalin erat antara umat setempat dengan para imam Jesuit yang sebelumnya melayani di wilayah tersebut.
Penyerahan misi Madiun kepada imam-imam Kongregasi Misi secara de facto baru terlaksana pada tahun 1927. Selama masa pelayanan para imam Kongregasi Misi, karya pastoral di Madiun dipusatkan pada bidang pendidikan, pelayanan kepada kelompok-kelompok yang terpinggirkan, serta pengembangan berbagai perkumpulan doa dan kegiatan sosial.
Pembentukan menjadi paroki
Gambar karikatur dari koran Belanda mengenai rancangan gereja baruFoto gereja setelah pembangunan
Seiring berjalannya waktu, gedung gereja lama yang pernah menjadi pusat peribadatan umat Katolik di Madiun mulai terasa sempit. Pertumbuhan umat yang melaju pesat tidak lagi mampu diakomodasi oleh kapasitas bangunan yang ada. Dinamika ini dipicu oleh arus migrasi keluarga-keluarga Katolik dari luar daerah serta keberhasilan karya misioner di bidang pendidikan dan sosial yang digerakkan secara militan oleh para imam serta para suster Ursulin. Kehadiran institusi pendidikan ini menjadi magnet bagi masyarakat, yang pada akhirnya memperluas cakupan komunitas iman di kota ini.
Menanggapi kebutuhan tersebut, Paroki Madiun merencanakan pembangunan gedung gereja baru yang lebih representatif. Pada tahun 1937, sebuah panitia pembangunan resmi dibentuk untuk mengawal proyek ambisius ini. Selama masa konstruksi, aktivitas misa dan pertemuan komunitas dipindahkan sementara ke Gedung Katholiek Sociale Bond (KSB) yang berdiri sejak 1934, yang kini dikenal sebagai Balai Paroki Cornelius.
Foto misa malam natal perdana di gereja baruFoto saat misa pemberkatan gereja pada tanggal 12 Desember 1938 oleh Theophile de Backere
Gedung gereja yang baru akhirnya rampung pada tahun 1938. Tanggal 19 Juni 1938 menjadi momen membanggakan bagi umat karena gereja ini berdiri tegak berkat semangat gotong royong dan tanggung jawab finansial bersama. Puncaknya, pada 11 Desember 1938, Prefek Apostolik Surabaya, Mgr. Theophile de Backere, C.M., meresmikan dan memberkati gereja ini secara khidmat. Sebagai penghormatan atas dedikasi Romo Cornelius Stiphout, SJโsosok perintis misi Katolik di Madiunโgereja ini diberi nama Gereja Santo Cornelius.
Keindahan dan kekokohan bangunan gereja ini tidak lepas dari peran Henri Estourgie, seorang arsitek kenamaan pada masa itu yang juga dikenal melalui karyanya yang ikonik, Gereja Katedral Ijen Malang. Estourgie merancang gereja ini dengan memadukan estetika Eropa kolonial yang megah namun tetap adaptif terhadap iklim tropis. Desainnya yang kokoh menciptakan suasana doa yang tenang, dilengkapi dengan plafon tinggi mencapai sebelas meter yang memastikan sirkulasi udara tetap sejuk.
Hingga kini, gereja ini masih menyimpan "harta karun" liturgis asli seperti tabernakel, beberapa patung-patung, serta lonceng gereja yang masih berfungsi dengan baik. Meskipun sempat mengalami penyesuaian fungsi ruang, struktur utama bangunan ini tetap dipertahankan keasliannya.
Perang Dunia II
Tentara Jepang ketika di Madiun
Pada masa pendudukan Jepang di Jawa, termasuk di Kota Madiun, seluruh kegiatan publik dan keagamaan berada di bawah pengawasan ketat. Para imam Kongregasi Misi (CM) berkewarganegaraan Belanda dikategorikan sebagai "musuh negara", sehingga sebagian ditangkap dan ditahan di kamp-kamp interniran. Kondisi ini menyebabkan pelayanan pastoral di Paroki Madiun terhenti atau hanya berlangsung secara sangat terbatas.
Gereja dan pastoran diawasi, sementara Misa serta kegiatan sakramental dibatasi. Umat Katolik menjalankan ibadah secara sederhana dan tersembunyi, dengan mengandalkan peran katekis dan kaum awam dalam menjaga kehidupan iman komunitas. Meskipun berada dalam tekanan, bangunan gereja tetap utuh dan tidak mengalami kerusakan akibat perang.
Pada masa yang sama, sekolah-sekolah Katolik yang dikelola para susterUrsulin mengalami kesulitan besar. Beberapa suster ditahan, sementara kegiatan pendidikan sempat dihentikan atau diambil alih untuk kepentingan militer. Dalam keadaan darurat, pelayanan sakramental, termasuk baptisan, dilaporkan tetap dilakukan secara terbatas dan diam-diam oleh imam yang terhindar dari interniran atau oleh imam pribumi yang jumlahnya masih sangat sedikit.
Setelah Jepang menyerah pada tahun 1945, kehidupan Gereja di Madiun perlahan mulai pulih. Para imam yang ditahan dibebaskan dan pelayanan pastoral kembali berjalan, meskipun Gereja kemudian menghadapi tantangan baru dalam situasi politik dan sosial pada masa awal kemerdekaan Indonesia.
Tabernakel yang tertembak
Tabernakel yang tertembak masih sama dan tidak berubah walau latar mengalami beberapa kali perubahan.
Peristiwa tertembaknya tabernakel di Gereja Santo Cornelius terjadi pada masa awal kemerdekaan Indonesia, sekitar tahun 1948, ketika situasi keamanan di Kota Madiun tidak stabil akibat konflik bersenjata antara Tentara Republik Indonesia dan pasukan Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL). Pada saat itu, perayaan Hari Raya Natal berlangsung dengan dihadiri cukup banyak umat, meskipun sebagian dari mereka menyadari situasi militer yang sedang genting.
Misa Natal tersebut, menurut berbagai kesaksian, dipimpin oleh seorang imam Kongregasi Misi (CM) yang saat itu bertugas di Madiun.[a] Beberapa waktu sebelum Misa dimulai, terdengar deru pesawat terbang melintas di atas gedung gereja, disertai suara tembakan yang berasal dari luar, yang diduga sebagai bagian dari baku tembak akibat saling ejek antara pasukan Indonesia dan KNIL di sekitar kawasan gereja.
Setelah Misa selesai, suasana sempat mereda. Namun ketenangan tersebut segera pecah ketika pasukan KNIL menguasai sepanjang Jalan Wilis (kini Jalan Ahmad Yani) dan mulai menembaki gedung gereja dari tiga arah, yaitu dari depan, samping, dan belakang. Sebagian besar tembakan diarahkan ke bagian depan gereja. Peluru menembus pintu dan jendela gereja, sehingga lampu-lampu berjatuhan, dan salah satu peluru mengenai tabernakel. Dalam situasi tersebut, umat berusaha menyelamatkan diri dengan berlindung di balik tembok-tembok beton yang paling tebal, sementara Misa terpaksa dihentikan.
Melihat kondisi yang semakin berbahaya, imam yang memimpin Misa keluar melalui sakristi dan merangkak menuju bagian depan gereja dengan mengangkat tangan, guna berusaha menghentikan tembakan. Ia kemudian berhadapan langsung dengan pasukan KNIL dan memohon agar penembakan dihentikan demi keselamatan umat serta penghormatan terhadap rumah ibadah. Dalam peristiwa itu diketahui bahwa penembakan terjadi akibat laporan radio dari pesawat yang menginformasikan adanya tentara Indonesia di sekitar sebuah bus dekat gereja, sehingga pasukan KNIL bergerak dan membuka tembakan ke arah bangunan gereja.
Bangunan
Gedung gereja
Bangunan Gereja Santo Cornelius berdenah persegi panjang dan menghadap ke arah timur, yakni ke Jalan Pahlawan. Tampak depan bangunan tidak simetris, yang ditandai adanya tonjolan bangunan beratap perisai rendah di sisi kiri dan keberadaan menara lonceng di sisi kanan. Pada bagian bawah menara terdapat pintu berpelengkung yang terhubung langsung ke ruang dalam gereja. Pintu utama berada di tengah bangunan, di bawah serambi beratap pelana. Serambi ini memiliki tiga pintu persegi yang dipisahkan dua tiang beton, dilengkapi pelindung atap datar beton cor, boven bundar berkaca vitrum, serta teras datar. Atap utama berbentuk pelana dengan plafon setinggi sekitar sebelas meter.[2]
Memasuki pintu utama, terdapat ruang peralihan yang berada di bawah balkon. Ruang ini diapit oleh dua ruangan di sisi kanan dan kiri. Pada sisi kiri terdapat tangga kayu berbentuk siku dengan tiga bordes. Bordes pertama memiliki bukaan pencahayaan persegi panjang dengan puncak melengkung, dilengkapi kaca vitrum bermotif salib, sedangkan bordes kedua dan ketiga masing-masing memiliki tiga bukaan melengkung. Balkon di sisi barat berdinding pelengkung dan dibatasi baluster yang ditopang empat rangka beton berbentuk pedestal, dan dihiasi ornamen geometris serta patung orang kudus di kedua ujungnya.[2]
Ruang peralihan menuju ruang utama (nave) dipisahkan oleh tiga pintu kayu kupu tarung, dengan sebuah pintu ayun ganda di bagian tengah. Nave merupakan ruang utama panti umat. Di ujung nave, sebelum altar, terdapat pelengkung besar yang dibentuk dua pilar, sementara lantai altar dibuat lebih tinggi dan dicapai melalui tiga undakan. Dinding belakang altar dihiasi salib besar dan lubang pencahayaan bundar berisi kaca vitrum. Di sepanjang sisi nave terdapat lima pelengkung pada masing-masing sisi, dengan gambar penyaliban Yesus dan bukaan vitrum di atasnya. Ruang pengakuan dosa, pintu samping, serta ragam kaca vitrum tersebar di berbagai bagian bangunan.[2]
Perubahan area altar
Area altar Gereja Santo Cornelius Madiun telah mengalami tiga kali perubahan utama seiring dengan perkembangan liturgi dan kebutuhan pastoral umat. Perubahan pertama berlangsung pada masa awal penerapan Konsili Vatikan II, perubahan kedua terjadi pada tahun 2000, dan perubahan ketiga dilaksanakan pada dekade berikutnya.
Situasi altar pertama Gereja Santo Cornelius
Perubahan kedua pada tahun 2000 dan digunakan hingga 2014
Perubahan ketiga dan fungsional sejak tahun 2014
Perubahan pertama terjadi pada rentang waktu 1969โ1980, bertepatan dengan masa awal pelaksanaan Konsili Vatikan II. Pada masa ini, Gereja Katolik secara universal mengalami penyederhanaan liturgi serta perubahan tata cara perayaan Ekaristi. Semangat pembaruan yang kuat mendorong dilakukannya berbagai penyesuaian di area altar Gereja Santo Cornelius. Pada periode ini, mimbar lama dihancurkan dan digantikan dengan mimbar kayu. Altar samping kiri diubah fungsinya menjadi tempat bejana baptis. Rel altar dihapuskan karena tidak lagi digunakan dengan tata liturgi pasca KV II. Selain itu, ditambahkan kaca patri pada dinding gereja, juga dilakukan penggantian salib altar dari salib lama ke salib kedua, dan sekitar tahun 1970 salib tersebut kembali diganti dengan model salib yang digunakan hingga sekarang. Posisi tabernakel dipindahkan ke sisi kanan altar, disertai dengan perubahan dalam penataan lampu di area altar.
Perubahan kedua berlangsung pada tahun 2000 dan digunakan hingga tahun 2014. Perubahan awal pada tahun 2000 ditandai dengan penggantian tema altar menjadi bertema Kerahiman Ilahi. Pada masa ini, posisi tabernakel dikembalikan ke bagian tengah altar. Penempatan paduan suara dipindahkan ke area yang sebelumnya digunakan sebagai tempat bejana baptis. Selain itu, patung-patung lama di area altar diganti dengan patung-patung baru.
Perubahan ketiga dilaksanakan sejak tahun 2014 hingga sekarang. Pada tahap ini, area altar mengalami pembaruan visual yang cukup signifikan. Berlangsung penambahan unsur gaya lengkungan dan pilar pada area altar gereja. Lantai bergaya lama ditimpa dengan lantai bergaya marmer. Gaya dinding di area altar turut diubah untuk menyesuaikan tampilan baru, dan tangga yang sebelumnya berada di sisi kiri altar dibongkar.
Catatan
โTerdapat sumber yang mengatakan bahwa misa dipimpin oleh Romo G. Smets, CM ataupun Romo H. van Loon, CM.