Pada tahun 1965, kawasan Pulomas didominasi oleh pemandangan berupa rawa dan empang. Rumah-rumah penduduk tersebar dalam kelompok kecil, terhubung oleh jalan tanah yang sering becek dan tergenang saat hujan turun. Suasana saat malam hari sangat sepi.[1]
Di wilayah Kampung Ambon, pelayanan pastoral awalnya dikelola oleh para imam Ordo Fratrum Minorum (OFM) dari Gereja Hati Kudus, Kramat. Saat itu, hanya terdapat sekitar 10 keluarga Katolik yang tinggal tersebar di kawasan ini. Mereka harus bepergian ke berbagai tempat untuk menerima pelayanan pastoral seperti misa, baptisan, pernikahan, dan sakramen lainnya. Sejumlah imam Fransiskan yang melayani di Kampung Ambon termasuk Pastor Frans van Genuchten O.F.M., Pastor Soetoyo Wiriosuwarno, O.F.M., Pastor Leo Derksen, O.F.M., dan Pastor J. Patosudarmo, O.F.M.[1]
Pastor J. Wahyosudibyo, O.F.M., yang kala itu menjabat sebagai Pemimpin Ordo Fransiskan sekaligus Ketua Yayasan Santo Fransiskus, melihat kebutuhan akan fasilitas pendidikan di Kampung Ambon. Dengan dukungan dari Mgr. Adrianus Djajasepoetra, S.J., sebuah sekolah akhirnya dibangun di kawasan tersebut. Sekolah tersebut menjalkan pendidikan tingkat TK dan SD. Sekolah ini kemudian menjadi TK dan SD Fransiskus, yang awalnya merupakan cabang dari Sekolah Fransiskus di Kramat dan dikelola oleh para Suster Fransiskanes dari Santo Georgius Martir (FSGM) Pringsewu.[1] Gedung sekolah ini lalu dimanfaatkan untuk menyelenggarakan kegiatan ibadat pada hari Minggu dan pada hari besar, menggantikan rumah seorang umat di Rawasari. Seiring bertambahnya jumlah umat, ibadat kemudian dipindahkan ke gedung STM yang baru selesai dibangun.[1]
Pendirian paroki dan pembangunan gedung gereja
Pada tahun 1976, terdapat usulan agar suatu tempat tempat ibadat dapat didirikan di sekitar Wilayah X (Kampung Ambon), mengingat kondisi bahwa sudah terdapat lebih dari 500 orang yang bermukim di daerah tersebut. Usulan ini diwujudkan dengan pembentukan Panitia Pembangunan Gereja pada 19 Juni 1977. Setelah melalui berbagai diskusi dan persetujuan, Uskup Agung Jakarta, Mgr. Leo Soekoto, S.J. secara resmi mendirikan Paroki Pulomas pada 20 Agustus 1977 dengan Santo Bonaventura sebagai pelindung. Pada 5 Juni 1978, Pengurus Dewan Paroki (PGDP) dibentuk dengan Pastor J. Patosudarmo, O.F.M. sebagai ketua. Sejak saat itu Paroki berjalan secara mandiri termasuk mencatat Buku Baptis sendiri.[1]
Plakat peresmian Gereja Santo Bonaventura.
Pengurus Gereja kemudian mempersiapkan rencana pembangunan gedung gereja. Pencarian lokasi untuk gedung gereja dan pastoran mengalami beberapa kendala, termasuk beberapa kali mengalami perubahan lokasi oleh Pemerintah Daerah DKI, hingga akhirnya ditemukan lokasi tetap yang berada di Jalan Pacuan Kuda Raya. Pastor Kepala Paroki saat itu, R.D. Yoseph Wiyanto Hardjopranoto berperan aktif dalam pengurusan izin mendirikan bangunan (IMB) dengan mengurus langsung ke Pemerintah DKI, yang akhirnya diterbitkan pada 14 Maret 1979.
Pembangunan gedung Gereja Santo Bonaventura Pulomas dimulai dengan peletakan batu pertama oleh Uskup Agung Jakarta, Mgr. Leo Soekoto, S.J., pada 15 Agustus 1978. Tahap pembangunan fisik gereja dimulai pada 10 Maret 1979. Proyek pembangunan gereja dikelola oleh Panitia Pelaksana Fisik yang terdiri dari Ir. J. Adi Taruli, Didi Kiswanto, dan Janus Marbun. Sementara itu, perencanaan dan pengawasan teknis dilakukan oleh tim teknik yang melibatkan Ir. Handoko A.S. sebagai penanggung jawab bidang arsitektur, Idea Five Consultants untuk bidang konstruksi, serta Ir. Meiril Isa dan Ir. Paulus Hendra sebagai perencana sekaligus penanggung jawab. Setelah melewati proses pembangunan, gereja tersebut mulai digunakan untuk ibadat pada 24 Desember 1979. Gereja ini secara resmi diberkati oleh Uskup Agung Soekoto pada 20 April 1980. Gubernur DKI Jakarta Tjokropranolo kemudian meresmikan Gereja Santo Bonaventura pada 12 Desember 1981.
Peribadatan
Misa harian diselenggarakan pada pagi hari (06.00 WIB). Misa mingguan dilaksanakan pada Sabtu sore (16.30 WIB) dan pada hari Minggu (06.30, 08.30, 16.30, 18.30).[2] Liturgi diselenggarakan dalam Bahasa Indonesia.
Tampak dalam Gereja Santo Bonaventura, 2024
Altar Gereja Santo Bonaventura, 2024
Tampak dalam Gereja Santo Bonaventura, 2025
Fasilitas
Di sekitar panti imam terdapat patung Hati Kudus Yesus dan patung Bunda Maria dari Lourdes. Gereja ini juga memiliki sebuah gua Maria. Di pelataran gereja terdapat juga Patung Santo Bonaventura yang merupakan pelindung gereja ini. Pada patung tersebut juga disematkan kutipan Santo Bonaventura.
Perjalanan Jiwa Menuju Tuhan
Janganlah pernah merasa cukup:
Belajar tanpa pengorbanan,
Menilik tanpa kekaguman,
Taat tanpa sukacita,
Bertindak tanpa semangat ilahi,
Mengenal tanpa kasih,
Mengerti tanpa kerendahan hati,
Berjuang keras tanpa rahmat ilahi.
Patung Hati Kudus Yesus
Patung Bunda Maria dari Lourdes
Patung Santo Bonaventura
Gua Maria
Menara lonceng
Galeri
Tampak depan pada tahun 2012
Tampak depan pada tahun 2018
Tampak luar pada tahun 2024
Tampak luar pada tahun 2024
Tampak depan pada tahun 2025
Tampak depan pada Februari 2026
Tampak depan pada April 2026
Tampak samping luar, dilihat dari gerbang utama pada tahun 2026
Porta Sancta (pintu suci) dalam rangka Yubileum 2025
Porta Sancta (pintu suci) dalam rangka Yubileum 2025
Referensi
12345Tim 1 Penulisan Sejarah dan Refleksi Umat – Panitia Peringatan 200 Tahun Gereja Katolik di Jakarta Tingkat Paroki Pulomas. Sejarah Gereja & Paroki Pulo Mas. Buku Lustrum 6, Buku Kenangan 30 Tahun Gereja Santo Bonaventura, Paroki Pulo Mas. Diakses tanggal 2 Januari 2025. Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)