Gens Octavia (bahasa Latin:gens Octaviacode: la is deprecated ) adalah sebuah keluarga atau gensplebeius di Romawi Kuno. Keluarga ini berasal dari Velitrae, sebuah kota bangsa Volsci di Perbukitan Alban, dan baru muncul dalam catatan sejarah Romawi pada paruh kedua abad ke-3 SM. Anggota pertama yang diketahui mencapai jabatan penting adalah Gnaeus Octavius Rufus, yang menjadi quaestor sekitar 230 SM.[1][2]
Keturunan Gnaeus Octavius Rufus kemudian memegang berbagai jabatan tinggi, termasuk konsul, praetor, tribunus plebis, gubernur provinsi, dan komandan armada. Anggota keluarga yang paling terkenal adalah Gaius Octavius, cicit dari cabang equites keluarga tersebut serta cucu saudara perempuan dan anak angkat Julius Caesar. Setelah memenangkan perang saudara, ia menerima gelar Augustus dari Senat Romawi pada 27 SM dan menjadi kaisar Romawi pertama.[3]
Gens Octavia pada mulanya berstatus plebeius. Menurut tradisi keluarga yang dicatat Suetonius, leluhur mereka pernah menjadi patricius pada masa kerajaan, kemudian berpindah ke kelompok plebeius. Julius Caesar mengangkat keluarga tersebut kembali ke status patricius pada abad pertama SM. Keandalan tradisi mengenai kedudukan mereka pada masa raja-raja Romawi dipertanyakan karena keluarga ini tidak disebut dalam sumber sejarah hingga berabad-abad kemudian.[3][1]
Nama dan asal-usul
Nama keluarga Octavius merupakan sebuah nomen gentilicium, yaitu nama turun-temurun yang menunjukkan keanggotaan dalam suatu gens. Nama tersebut diperkirakan berasal dari praenomen Latin Octavius, yang berkaitan dengan kata octavus, “kedelapan”. Nama gens lain juga terbentuk dari praenomen atau angka, seperti Quinctii dari Quintus, Sextii dari Sextus, dan Septimii dari Septimus.[4]
Octavii berasal dari Velitrae, kota kuno di wilayah Volsci sekitar 40 kilometer di tenggara Roma. Suetonius menyatakan bahwa pada zamannya terdapat sebuah jalan yang dinamai menurut keluarga Octavia dan sebuah altar yang dikaitkan dengan seorang Octavius. Menurut cerita setempat, orang tersebut sedang mempersembahkan kurban kepada Mars ketika mendapat kabar tentang serangan musuh. Ia segera mempersembahkan isi perut hewan kurban yang belum sepenuhnya matang, berangkat ke pertempuran, dan kembali sebagai pemenang. Setelah itu, masyarakat Velitrae menetapkan cara persembahan tersebut sebagai tradisi dan menyerahkan bagian kurban lainnya kepada keluarga Octavia.[3]
Suetonius juga mencatat tradisi bahwa keluarga Octavia memperoleh kewarganegaraan Romawi dari Raja Lucius Tarquinius Priscus dan dimasukkan ke kalangan patricius oleh Servius Tullius. Mereka kemudian dikatakan berpindah ke golongan plebeius sebelum Caesar mengembalikan status patricius mereka.[3]
Tradisi yang menghubungkan Octavii dengan raja-raja Roma tidak diterima secara harfiah oleh banyak sejarawan. Livius dan Dionysius dari Halikarnassos tidak menyebut keluarga ini ketika membahas Velitrae, sedangkan anggota gens tersebut baru tercatat dalam kehidupan politik Romawi sekitar 230 SM. Dalam memoirnya, Augustus sendiri menyebut ayahnya sebagai seorang novus homo, yakni orang pertama dalam keluarganya yang memasuki Senat.[1][3]
Praenomina
Praenomina atau nama pribadi utama yang paling sering digunakan oleh keluarga Octavia adalah:
Dalam prasasti dan literatur Romawi, nama-nama tersebut sering disingkat menjadi Cn., C., M., dan L. Beberapa anggota keluarga dari masa kekaisaran juga menggunakan praenomen Publius, Manius, Sextus, atau Decimus.
Cabang dan cognomina
Sebagian besar Octavii yang terkenal pada masa Republik diturunkan dari Gnaeus Octavius Rufus. Ia memiliki setidaknya dua orang putra, Gnaeus dan Gaius. Keturunan Gnaeus yang lebih tua menghasilkan beberapa konsul dan pejabat tinggi. Keturunan Gaius pada awalnya tetap berada dalam golongan equites dan baru memasuki Senat melalui Gaius Octavius, ayah Augustus.[1][3]
Cognomen Rufus, yang berarti “merah” atau “berambut merah”, dikaitkan dengan cabang utama keluarga. Namun, nama tersebut jarang muncul dalam sumber dan tidak selalu digunakan oleh semua keturunannya.[4]
Cabang atau individu lain memakai cognomen berikut:
Balbus, yang secara harfiah dapat berarti “gagap”;
Ligur, yang menunjukkan hubungan dengan bangsa Ligures;
Laenas;
Marsus, yang menunjukkan hubungan dengan bangsa Marsi;
Naso, yang kemungkinan merujuk pada hidung yang menonjol;
Fronto, Ruso, Novatus, Maximus, dan cognomen lain yang muncul pada masa kekaisaran.[4][1]
Kesamaan nomen tidak selalu membuktikan hubungan biologis langsung. Pada masa kekaisaran, nama Octavius juga digunakan oleh orang yang memperoleh kewarganegaraan melalui patronase, pembebasan dari perbudakan, adopsi, atau hubungan dengan anggota keluarga Octavia.
Cabang keturunan Gnaeus Octavius Rufus
Gnaeus Octavius Rufus dan kedua putranya
Gnaeus Octavius Rufus menjadi quaestor sekitar 230 SM dan merupakan anggota gens pertama yang diketahui mencapai jabatan tinggi. Ia mempunyai dua putra:
Gnaeus Octavius, leluhur cabang yang menghasilkan sejumlah konsul dan pejabat tinggi;
Gaius Octavius, seorang eques yang keturunannya kemudian menghasilkan Augustus.[1][2]
Gnaeus Octavius, komandan armada Romawi dalam perang melawan Raja Perseus dari Makedonia. Ia merayakan sebuah triumphus, menjadi konsul pada 165 SM, dan membangun Porticus Octavia. Ia dibunuh di Laodikeia ketika menjalankan misi diplomatik pada 162 SM.[2]
Marcus Octavius, tribunus plebis pada 133 SM. Ia menentang rancangan undang-undang pertanahan rekannya, Tiberius Gracchus, dan kemudian diberhentikan melalui pemungutan suara majelis rakyat.[6]
Gnaeus Octavius, seorang senator yang namanya tercantum dalam keputusan Senat mengenai tanah Pergamon pada 129 SM.[7]
Gnaeus Octavius, konsul pada 128 SM. Cicero menyebutnya sebagai pembicara yang kerap tampil di pengadilan.[8]
Gnaeus Octavius, konsul pada 87 SM. Ia menentang rekannya, Lucius Cornelius Cinna, mengenai pembagian warga Italia baru ke dalam suku pemilih dan rencana memanggil kembali Gaius Marius dari pengasingan. Ia dibunuh oleh pendukung Cinna ketika pasukan Marius dan Cinna merebut Roma.[2]
Marcus Octavius, tribunus plebis pada tahun yang tidak diketahui. Ia mengusulkan undang-undang yang menaikkan harga gandum bersubsidi yang dijual kepada rakyat, sehingga mengurangi beban keuangan negara.[9]
Gnaeus Octavius, konsul pada 76 SM. Ia dikenal sebagai orator tingkat menengah dan menderita penyakit pirai yang sangat berat sehingga tidak dapat berjalan.[2]
Gaius Octavius, putra Gnaeus Octavius Rufus, tetap menjadi anggota golongan equites dan tidak meniti karier magistratur. Keturunannya tinggal di Velitrae dan memiliki kekayaan yang cukup besar.
Gaius Octavius, tribun militer dalam Perang Punisia Kedua. Ia selamat dari Pertempuran Cannae pada 216 SM dan pada 205 SM bertugas di Sisilia di bawah praetor Lucius Aemilius Papus.[3]
Gaius Octavius, kakek Augustus. Ia memiliki tanah luas dan menjalani kehidupan pribadi di vila keluarganya di Velitrae. Markus Antonius dan Cassius Parmensis kemudian mengejek Augustus sebagai cucu pemberi pinjaman uang; tuduhan tersebut merupakan bagian dari propaganda politik dan tidak membuktikan profesi utama keluarganya.[3]
Gaius Octavius, ayah Augustus. Ia menjadi praetor pada 61 SM dan kemudian gubernur Makedonia. Ia mengalahkan beberapa kelompok Trakia dan mendapat gelar kehormatan imperator dari tentaranya. Ia meninggal mendadak pada 59 SM ketika kembali ke Italia.[3]
Octavia Major, putri Gaius Octavius dari pernikahan pertamanya dengan Ancharia. Ia menikah dengan Sextus Appuleius.[3]
Gaius Octavius, putra Gaius Octavius dan Atia. Melalui ibunya, ia merupakan cicit dari saudari Julius Caesar. Caesar mengadopsinya melalui wasiat sehingga ia mengambil nama Gaius Julius Caesar Octavianus. Setelah mengalahkan para pesaingnya, ia memperoleh gelar Augustus pada 27 SM dan mendirikan pemerintahan Principatus.[3]
Setelah pengadopsian Oktavianus ke dalam gens Julia, ia secara hukum tidak lagi menjadi anggota gens Octavia. Namun, hubungan biologis dan politiknya dengan Octavii membuat keluarga tersebut memperoleh kedudukan istimewa dalam sejarah Romawi dan menjadi bagian penting dari asal-usul Dinasti Julio-Claudian.
Octavii Ligures
Cabang ini menggunakan cognomen Ligur atau Ligures.
Marcus Octavius Ligur, ayah mertua Publius Lucilius Gamala dan kemungkinan anggota keluarga elite di Ostia.[10]
Marcus Octavius Ligur, senator dan tribunus plebis bersama saudaranya Lucius pada 82 SM. Gubernur Sisilia Gaius Verres memaksanya datang ke Roma untuk mempertahankan hak atas warisan dan kemudian membebankan biaya perkara kepadanya.[11]
Lucius Octavius Ligur, tribunus plebis pada 82 SM. Ia mewakili kepentingan saudaranya di Sisilia ketika Marcus berada di Roma dan mungkin merupakan orang yang disebut dalam salah satu surat Cicero kepada Atticus.[11]
Octavia, kemungkinan saudari Marcus dan Lucius serta istri Publius Lucilius Gamala.[10]
Octavii Balbi
Lucius Octavius Balbus, ahli hukum terkemuka dan anggota majelis hakim dalam pengadilan Verres. Cicero memujinya sebagai orang yang memiliki integritas dan pengetahuan hukum.[11]
Publius Octavius Balbus, anggota juri dalam perkara Oppianicus. Ia mungkin sama dengan Lucius Octavius Balbus, meskipun identifikasi tersebut tidak pasti.[2]
Gaius Octavius Balbus, termasuk orang yang dilarang dan dihukum mati oleh triumvir pada 42 SM. Setelah berhasil melarikan diri dari rumahnya, ia kembali ketika mendengar kabar bahwa putranya akan dibunuh. Kabar tersebut ternyata merupakan siasat untuk menangkapnya.[12]
Octavius Balbus, putra Gaius Octavius Balbus. Para pembunuh mengancam akan membunuhnya untuk memancing ayahnya kembali ke rumah.[12]
Octavii Laenates
Cabang Laenates menjadi terkenal pada masa kekaisaran awal dan terhubung dengan keluarga Kaisar Nerva.
Marcus Octavius Laenas Curtianus, salah satu tokoh terkemuka yang memohon kepada para hakim atas nama Marcus Aemilius Scaurus pada 54 SM.[13]
Berikut beberapa tokoh bernama Octavius yang hubungan tepatnya dengan cabang-cabang utama tidak diketahui atau mungkin tidak memiliki hubungan darah langsung.
Masa Republik
Gnaeus Octavius Ruso, quaestor di bawah Gaius Marius pada 105 SM dan kemudian menjadi praetor sebelum 91 SM.[2]
Octavius Graecinus, salah satu komandan Quintus Sertorius di Hispania. Ia bertempur melawan Pompeius pada 76 SM dan kemudian ikut dalam persekongkolan Marcus Perperna Vento untuk membunuh Sertorius.[17]
Lucius Octavius, legatus Pompeius dalam perang melawan bajak laut pada 67 SM. Ia mengambil alih komando di Kreta dan menerima penyerahan beberapa kota di pulau tersebut.[2]
Lucius Octavius Naso, seorang pemilik harta yang mewariskan propertinya kepada Lucius Flavius, calon praetor pada 59 SM.[18]
Marcus Octavius, komandan bagian tengah armada Markus Antonius dalam Pertempuran Actium. Ia mungkin identik dengan salah satu Marcus Octavius lain dari masa tersebut.
Masa Augustus dan Kekaisaran
Lucius Octavius Rufus, tribun militer Legio IV Scythica, duumvir, anggota dewan kota, dan augur di Suasa, Umbria.[19]
Marcus Octavius Herennius, mantan pemain seruling yang kemudian menjadi pedagang. Ia membangun tempat suci bagi Hercules dekat Porta Trigemina sebagai ungkapan syukur setelah diselamatkan dari bajak laut.[20]
Gaius Octavius Lampadio, ahli tata bahasa yang membagi puisi Gnaeus Naevius mengenai Perang Punisia Pertama menjadi tujuh buku.[21]
Octavius Fronto, mantan praetor yang pada 16 M berbicara di Senat menentang kemewahan berlebihan.[22]
Publius Octavius, seorang penganut kehidupan mewah yang disebut oleh Seneca Muda pada masa Tiberius.
Octavius Sagitta, tribunus plebis pada 58 M. Ia membunuh kekasihnya, Pontia Postumia, setelah perempuan tersebut menolak menikah dengannya. Ia dihukum dan diasingkan, kembali setelah kematian Nero, lalu kembali dijatuhi hukuman oleh Senat pada 70 M.[22]
Decimus Octavius Quartio, pemilik sebuah rumah besar di Pompeii yang kini dikenal sebagai Rumah Octavius Quartio atau Rumah Loreius Tiburtinus.
Manius Octavius Novatus, praefectus fabrum di Segobriga, Hispania Citerior.
Manius Octavius Novatus, senator pada masa Dinasti Flavia, legatus Legio VII Claudia, dan prokonsul. Ia adalah ayah Manius Octavius Maximus dan Octavia Novata.
Manius Octavius Maximus, putra senator Manius Octavius Novatus.
Octavia Novata, putri senator Manius Octavius Novatus.
Octavius Horatianus, nama yang kadang diberikan kepada penulis Rerum Medicarum Libri Quatuor, sebuah karya yang biasanya dikaitkan dengan dokter Theodorus Priscianus pada abad ke-4.
Kedudukan historis
Gens Octavia memperlihatkan pola mobilitas sosial dalam Republik Romawi. Keluarga tersebut berasal dari kota Italia di luar Roma, memasuki elite politik sebagai keluarga plebeius pada abad ke-3 SM, dan menghasilkan beberapa konsul serta komandan. Cabang lain tetap berada dalam ordo equites selama beberapa generasi sebelum akhirnya masuk ke Senat melalui ayah Augustus.
Pengangkatan Octavii ke kalangan patricius oleh Julius Caesar juga mencerminkan kebijakan Caesar untuk memperbarui dan memperluas elite patricius. Namun, keberhasilan Augustus kemudian membuat nama keluarga asalnya jauh lebih terkenal daripada kedudukannya sebelum perang saudara.
Secara hukum, pengadopsian Augustus oleh Caesar memindahkannya ke gens Julia. Karena itu, dinasti kekaisaran yang dimulai Augustus disebut Dinasti Julio-Claudian, bukan Dinasti Octavia. Meskipun demikian, saudari-saudarinya dan kerabat dari garis Octavia tetap memainkan peran penting dalam jaringan perkawinan serta suksesi keluarga kekaisaran.
1234567Smith, William, ed. (1849). "Octavia Gens". Dictionary of Greek and Roman Biography and Mythology. Vol.3. Boston: Little, Brown and Company. hlm.5–6. Diakses tanggal 2026-08-02.
12345678910Broughton, T. Robert S. (1951). The Magistrates of the Roman Republic. Vol.1. New York: American Philological Association.
123456789101112Suetonius (1914). "The Life of Augustus, 1–8". The Lives of the Caesars. Vol.1. Diterjemahkan oleh Rolfe, J. C. Cambridge, Massachusetts: Harvard University Press. Diakses tanggal 2026-08-02.
123Chase, George Davis (1897). "The Origin of Roman Praenomina". Harvard Studies in Classical Philology. 8: 103–184. doi:10.2307/310491. JSTOR310491.
↑Livy (1949). "28.45; 29.13; 30.24". History of Rome. Vol.8. Diterjemahkan oleh Moore, Frank Gardner. Cambridge, Massachusetts: Harvard University Press.
↑Plutarch (1921). "The Life of Tiberius Gracchus, 10–12". Lives. Vol.10. Diterjemahkan oleh Perrin, Bernadotte. Cambridge, Massachusetts: Harvard University Press.
↑Cicero (1942). "1.36". De Oratore. Vol.1. Diterjemahkan oleh Sutton, E. W. Cambridge, Massachusetts: Harvard University Press.
↑Cicero (1913). "2.72". De Officiis. Diterjemahkan oleh Miller, Walter. Cambridge, Massachusetts: Harvard University Press.
12Torelli, Mario (1995). Studies in the Romanization of Italy. Edmonton: University of Alberta Press. hlm.69. ISBN978-0-88864-241-7.
123Cicero (1935). "Against Verres 1.48; 2.2.7". The Verrine Orations. Vol.1. Diterjemahkan oleh Greenwood, L. H. G. Cambridge, Massachusetts: Harvard University Press.
123Appian (1913). "Civil Wars 4.21". Roman History. Vol.4. Diterjemahkan oleh White, Horace. Cambridge, Massachusetts: Harvard University Press. Diakses tanggal 2026-08-02.
↑Quintus Asconius Pedianus. "29". Commentary on Cicero's Pro Scauro.
↑Sextus Julius Frontinus (1925). "102". The Aqueducts of Rome. Diterjemahkan oleh Bennett, Charles E. Cambridge, Massachusetts: Harvard University Press.
123Settipani, Christian (2000). Continuité gentilice et continuité familiale dans les familles sénatoriales romaines à l'époque impériale (dalam bahasa Prancis). Oxford: Unit for Prosopographical Research, Linacre College. hlm.273. ISBN978-1-900934-02-2.
↑Birley, Anthony R. (2005). The Roman Government of Britain. Oxford: Oxford University Press. hlm.43. ISBN978-0-19-925237-4.
↑Plutarch (1919). "The Life of Sertorius, 26". Lives. Vol.8. Diterjemahkan oleh Perrin, Bernadotte. Cambridge, Massachusetts: Harvard University Press.
Broughton, T. Robert S. (1951–1986). The Magistrates of the Roman Republic. New York: American Philological Association.
Smith, William, ed. (1849). Dictionary of Greek and Roman Biography and Mythology. Boston: Little, Brown and Company.
Settipani, Christian (2000). Continuité gentilice et continuité familiale dans les familles sénatoriales romaines à l'époque impériale (dalam bahasa Prancis). Oxford: Unit for Prosopographical Research, Linacre College. ISBN978-1-900934-02-2.
Torelli, Mario (1995). Studies in the Romanization of Italy. Edmonton: University of Alberta Press. ISBN978-0-88864-241-7.