Kabupaten Sigi terdampak paling parah, setidaknya tiga orang tewas, 125 orang lainnya terluka, dan lebih 2.500 bangunan rusak atau hancur di wilayah Sigi, Parigi Moutong, Poso, dan Kota Palu.[5]
Kondisi tektonik
Sulawesi terletak di sepanjang Cincin Api Pasifik, zona kegempaan yang dikenal tinggi di dunia. Sulawesi terletak pada tiga lempeng tektonik utama, yaitu Lempeng Sunda, Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Laut Banda. Beberapa gempa bumi besar telah dikaitkan dengan pergerakan patahan Palu-Koro sejak tahun 1900 dan tiga peristiwa besar dalam 2.000 tahun terakhir telah disimpulkan dari studi zona patahan tersebut. Pada tahun 2017, sebuah penelitian mengakui patahan ini mewakili risiko seismik terbesar di Indonesia bagian timur. Sesar Palu Koro merupakan salah satu peristiwa tektonik atau pergeseran lapisan kulit bumi karena terlepasnya energi di zona subduksi. Sesar Palu Koro terbentuk akibat tekanan yang timbul dari benturan benua kecil (mikrokontinen) Banggai-Sula yang merangsek ke arah barat di mana Pulau Sulawesi berada. Peristiwa benturan benua kecil ini diperkirakan terjadi pada 5-0 juta tahun yang lalu.[6]
Gempa bumi
Gempa bumi tersebut terjadi pada hari Selasa siang, 16 Juni 2026, Pukul 11:27 Waktu Indonesia Tengah (WITA). Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), gempa tersebut tercatat berkekuatan 6,7 magnitudo, dengan kedalaman dangkal 10Â km (6,2Â mi). Pusat gempa sekitar 42Â km (26Â mi) Tenggara Kota Palu, Sulawesi Tengah, dan berada pada koordinat 1,04 LS dan 120,23 BT.[7] Sementara menurut Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), gempa bumi tersebut juga tercatat berkekuatan 6,7 magnitudo, dengan kedalaman dangkal 10Â km (6,2Â mi), berpusat sekitar 43Â km (27Â mi) Timur Tenggara Kota Palu.[8] Menurut informasi BMKG, gempa bumi tersebut merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas Sesar Sausu, namun beberapa penelitian menyebutkan bahwa gempa tersebut akibat aktivitas Sesar Palolo, dengan mekanisme sesar naik (patahan normal).[9][10] Gempa tersebut diikuti oleh lebih dari 1.174 gempa susulan, dengan rentang magnitudo 3.0 hingga 4.8, gempa susulan terbesar berkekuatan 5,2 magnitudo.[11]
USGS menyatakan bahwa intensitas Mercalli maksimum VIII (Parah) tercatat di Sigi. Di Kota Palu dengan intensitas VI–VII (Kuat–Sangat kuat). Kemudian intensitas V (Sedang) tercatat di Donggala dan Kota Poso. Lebih jauh lagi di Kabupaten Luwu Utara dan Palopo, dilaporkan dengan intensitas IV (Ringan).[14]
Dampak
Kerusakan pada rumah kayu di Poso
Berdasarkan laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana, setidaknya tiga orang tewas di Kabupaten Sigi, total sekitar 125 orang terluka, diantaranya, 108 orang luka ringan, 17 orang luka berat.[15][16][17] BNPB mencatat total 5.180 rumah rusak di seluruh wilayah Sulawesi Tengah, dengan rincian, 3.846 rumah rusak ringan, 1.120 rumah rusak sedang, 214 rumah rusak berat.[18] BNPB juga mencatat sekitar 3.263 kepala keluarga (KK) atau sekitar 9.501 jiwa terdampak akibat gempa tersebut.[19]
Pemerintah Kabupaten Sigi, mencatat sebanyak 2.735 rumah rusak di 42 desa pada sembilan kecamatan, sebanyak 1.927 rumah rusak ringan, 596 rumah rusak sedang, 212 rumah rusak berat, 63 gereja serta 16 masjid rusak, 37 sekolah, delapan gedung perkantoran, lima puskesmas, dan dua rumah adat juga terdampak.[20][21] Sembilan Kecamatan yaitu Sigi Kota, Palolo, Nokilalaki, Tanambulava, Lindu, Dolo, Sigi Biromaru, Dolo Selatan dan Gumbasa adalah yang paling parah terkena dampaknya.[22] Kantor Bupati Sigi alami kerusakan pada dinding dan atap plafon,[23] infrastruktur rusak serta terputusnya saluran air di Kabupaten Sigi.[24] Gempa tersebut juga mengakibatkan tanah longsor di kawasan Pegunungan Nokilalaki, dan Pegunungan Kamarora merusak sejumlah rumah.[25]
Akses jalan Napu mengalami kerusakan parah akibat gempa, aspalnya terangkat ke atas dan mengalami banyak retak, hingga menyebabkan akses transportasi terganggu.[26]
Di Kabupaten Parigi Moutong, BPBD Sulteng mencatat 34 rumah rusak, dan empat tempat ibadah juga mengalami kerusakan.[27] Kerusakan rumah tersebar dalam lima kecamatan, yakni Parigi Selatan, Torue, Sausu, Parigi, dan Balinggi.[28] Sebanyak 21 KK atau 40 jiwa terdampak di Kabupaten Parigi Moutong.[29] Di Kabupaten Poso, belasan bangunan rusak atau roboh, tepatnya di Kecamatan Poso Pesisir Utara di Desa Tumora.[30] Di Kota Palu, 20 rumah rusak, dua hotel, satu kafe, dan sejumlah infrastruktur publik rusak, termasuk sebuah jembatan yang mengalami retak-retak.[31][32][33]Universitas Tadulako mengalami kerusakan pada atap plafon, ‎‎kerusakan lainnya juga ditemukan pada Rumah Sakit (RS) Untad, berupa retakan pada bangunan.[34] Rumah sakit di Kota Palu, melakukan evakuasi segera, beberapa pasien yang tengah menjalani perawatan dievakuasi menggunakan kursi roda maupun tempat tidur untuk mengantisipasi kemungkinan dari gempa susulan.[35][36]