Sejarah
Festival Monlam di Tibet pertama kali diadakan pada tahun 1409 oleh Je Tsongkhapa di Lhasa, pendiri tradisi Gelug. Sebagai salah satu festival keagamaan terbesar di Tibet, ribuan biksu dari tiga biara utama, yaitu Drepung, Sera, dan Ganden, berkumpul untuk berdoa dan melaksanakan ritual di Kuil Jokhang. Perayaan awal Monlam menarik banyak umat Buddha dan telah dilestarikan selama lebih dari enam ratus tahun.[1]
Pada tahun 1517, Gedun Gyatso menjabat sebagai kepala biara Drepung. Tahun berikutnya, ia menghidupkan kembali Festival Doa Agung Monlam Chenmo dan memimpin acara tersebut bersama para biksu dari Sera, Drepung, serta Ganden, tiga universitas monastik utama aliran Gelugpa.[2]
Perayaan Monlam di Kuil Jokhang, Lhasa, dilarang selama Revolusi Kebudayaan (1966–1976),[3] meski sebenarnya sudah tidak digelar di sana sejak 1959, dan baru kembali diadakan di Lhasa pada tahun 1986..[4] Pada akhir 1980-an, warga Tibet memanfaatkan acara Monlam dan kegiatan setelahnya untuk menyuarakan aspirasi politik. Saat Monlam, para biksu naik panggung mendoakan panjang umur Dalai Lama ke-14, anak-anak melempar batu ke polisi pengawas, dan simbol-simbol kemerdekaan Tibet ditampilkan. Karena protes ini tidak membuahkan hasil, para biksu bahkan mengusulkan boikot Monlam sebagai bentuk ketidakpuasan terhadap pemerintah.[5] Namun, karena pasukan keamanan dilarang membubarkan acara yang dianggap “murni religius”, pemerintah kota akhirnya menghentikan penyelenggaraan Monlam pada tahun 1990.[6]
Pada tahun 2024, situs web yang terkait dengan festival Monlam diserang kelompok ancaman persisten tingkat lanjut yang bernama Evasive Panda oleh pemerintah Tiongkok untuk tujuan spionase dunia maya.[7]