Semiotika
Pemikiran semiotika yang dikemukakan oleh Saussre disebut semiotika struktural. Semiotika struktural menjadikan linguistika umum sebagai disiplin ilmiah baru.[13] Dalam bukunya yang berjudul Cours de linguistique générale, Sassure mengartikan semiotika sebagai ilmu yang mengkaji mengenai tanda sebagai bagian dari kehidupan sosial. Dalam pengertian ini, objek semiotika adalah tanda yang hanya digunakan pada kehidupan sosial. Semiotika Saussure tidak menjadikan tanda itu sendiri sebagai objek kajian. Karenanya, pengabaian atas tanda dilakukan terhadap aspek waktu, perubahan dan sejarah.[14]
Sifat pengkajian semiotika yang dikemukakan oleh Saussure mengutamakan kajian sinkronis dibandingkan diakronis. Kajian sinkronis merupakan kajian bahasa yang tidak memperhatikan urutan waktu pembentukannya. Sementara kajian diakronis memperhatikan urutan waktu munculnya bahasa melalui sejarah. Saussure berpendapat bahawa bahasa harus dipandang sebagai sebuah sistem untuk linguistika perbandingan sejarah. Prinsip sinkronis digunakan untuk memberikan bentuk sistem. Saussure mengemukakan bahwa mempelajari evolusi atau perkembangan suatu unsur bahasa akan sia-sia jika sistem yang menghasilkannya tidak dikaji terlebih dahulu.[15]
Selain itu, dalam menafsirkan teks, Saussure menggunakan pendekatan penentuan kedudukan teks dan subtitusinya. Penentuan kedudukan teks dikenal sebagai pendekatan sintagmatik, sementara pendekatan subtitusi teks dikenal sebagai pendekatan paradigmatik. Dalam pendekatan sintagmatik, suatu teks diperhatikan dari segi keterhubungan urutan peristiwa dan urutan kata yang menimbulkan makna. Pendekatan paradigmatik kemudian digunakan untuk mengungkapkan opisisi yang tersembunyi sehingga makna dapat diketahui.[16]
Inti dari pemikiran Saussure mengenai tanda ialah pada perbedaan antara "penanda" dan "yang ditandakan". Penanda diartikan sebagai bunyi atau pola bahasa yang mengandung makna. Keberadaan penanda tertelak pada apa yang dikatakan atau didengar serta pada apa yang ditulis atau dibaca. Sementara itu, "yang ditandakan" merupakan sesuatu yang mewakili kondisi kejiwaan, pikiran atau konsep. Kedua hal ini tidak selalu hadir bersamaan sebagai kesatuan tanda bahasa.[17]