Menurut feminis lesbian Sheila Jeffreys, "feminisme lesbian muncul akibat dua perkembangan: lesbian di dalam WLM (Women's Liberation Movement, bahasa Indonesia:Gerakan Pembebasan Wanitacode: id is deprecated ) mulai membentuk politik lesbian feminis yang baru dan terpisah, dan lesbian di dalam GLF (Gay Liberation Front, bahasa Indonesia:Barisan Pembebasan Gaycode: id is deprecated ) yang keluar untuk bergabung dengan saudara-saudara perempuan mereka".[4]
Gerakan feminisme lesbian warna kulit juga muncul sebagai tanggapan terhadap pemikiran feminisme lesbian yang gagal memasukkan isu kelas dan ras sebagai sumber penindasan selain heteroseksualitas.