Enas Al-Ghoul (bahasa Arab:إيناس الغولcode: ar is deprecated ) adalah seorang insinyurpertanianPalestina yang berfokus pada pengembangan pedesaan dan inisiatif lingkungan di Jalur Gaza. Karyanya meliputi pembuatan proyek daur ulang limbah serta pengembangan perangkat tenaga surya untuk mengatasi tantangan air dan energi selama krisis kemanusiaan.
Al-Ghoul telah bekerja sebagai insinyur pertanian di Kementerian Pertanian Palestina selama 15 tahun. Sejak tahun 2017, menjadi bagian dari Departemen Pengembangan Pedesaan dan bertanggung jawab atas berbagai proyek yang ditujukan bagi perempuan di pedesaan untuk mendukung pengembangan wilayah pedesaan, termasuk proyek-proyek pertanian dan pembangunan.
Karier
Pada tahun 2020, Al-Ghoul memulai proyek bernama "Ibra wa Sinara" (Jarum dan Benang), yang berfokus pada daur ulang limbah seperti kain, kulit, kayu, dan logam.[1] Proyek ini mempekerjakan lima perempuan, termasuk dua penyandang disabilitas pendengaran. Produk yang dihasilkan meliputi pakaian, tas, dan perabotan. Inisiatif ini didasarkan pada penelitiannya yang menunjukkan bahwa limbahtekstil dan kulit merupakan jenis limbah paling umum di Jalur Gaza. Ia juga aktif meningkatkan kesadaran lingkungan dan daur ulang melalui lokakarya dan pelatihan komunitas.[1]
Pada tahun 2023, ia memperluas upaya daur ulangnya dengan memperkenalkan program pelatihan tambahan dan pertemuan komunitas yang ditujukan bagi perempuan di daerah pedesaan.[1] Dalam lokakarya ini, peserta diajarkan teknik daur ulang serta manfaat lingkungan yang terkait. Ia menghadapi tantangan logistik, seperti keterbatasan listrik di Gaza, yang membatasi operasionalnya hanya pada jam-jam ketika listrik tersedia.[1]
Setelah konflik di Gaza pada Oktober 2023, Al-Ghoul mengembangkan alat desalinasi bertenaga surya menggunakan bahan sederhana seperti kayu, kaca, dan terpal.[2] Perangkat ini dirancang untuk mengubah air laut menjadi air minum, guna mengatasi kelangkaan air bersih akibat hancurnya infrastruktur di Khan Yunis. Selain itu, ia juga menciptakan alat memasak bertenaga surya dan terus memproduksi barang dari bahan daur ulang untuk membantu para pengungsi.[2][3] Pada Desember 2024, ia masuk dalam daftar BBC 100 Women.[3] Melalui dedikasinya dalam pengembangan pedesaan dan inovasi lingkungan, Enas Al-Ghoul telah memberikan kontribusi signifikan dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat di Jalur Gaza.
Karya yang menyelamatkan krisis air Gaza
Al-Ghoul berhasil mengembangkan perangkat desalinasi untuk menghasilkan air minum di tengah krisis air yang melanda wilayah tersebut. Inovasi ini muncul sebagai respons terhadap kelangkaan air bersih akibat serangan dan blokade yang dilakukan oleh Israel, yang menghancurkan sebagian besar infrastruktur air, termasuk sumur, waduk, dan pabrik desalinasi di Jalur Gaza.
Latar Belakang Krisis Air di Gaza
Sejak Oktober 2023, pasokan air di Jalur Gaza semakin terbatas setelah tentara Israel memutus aliran air dan menghancurkan infrastruktur pendukungnya. Hal ini menyebabkan jutaan warga Palestina mengalami kesulitan dalam memperoleh air minum bersih. Menurut laporan UNRWA, sekitar 67% fasilitas dan infrastruktur air serta sanitasi telah hancur atau rusak akibat serangan yang terus berlangsung. Sebagian besar warga harus mengandalkan air asin atau air yang terkontaminasi untuk bertahan hidup.[4]
Kelangkaan air memaksa banyak keluarga di Gaza menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengantre demi mendapatkan air. Harga air bersih pun melonjak drastis, membuatnya semakin sulit diakses oleh masyarakat. Situasi ini diperparah oleh pemadaman listrik yang menghambat pengoperasian pabrik desalinasi dan pompa sumur air.
Pengembangan Teknologi Desalinasi
Menghadapi krisis ini, Al-Ghoul mengembangkan teknologi desalinasi berbasis tenaga surya yang dapat mengubah air laut dan air tercemar menjadi air minum. Teknologi ini menggunakan prinsip pemanasan air dengan energi matahari, yang kemudian diuapkan dan dikondensasikan kembali menjadi air bersih. Air hasil kondensasi kemudian melewati lapisan arang aktif untuk proses pemurnian lebih lanjut, sehingga aman dikonsumsi.
Perangkat desalinasi yang dikembangkan Al-Ghoul dirancang dengan bahan-bahan sederhana yang mudah ditemukan, seperti kayu, kaca, dan dari bangunan yang hancur akibat serangan. Perangkat ini ringan, portabel, dan dapat ditempatkan di berbagai lokasi, seperti tempat penampungan, sekolah, serta atap bangunan. Selain itu, ukuran perangkat dapat disesuaikan dengan kebutuhan, mulai dari luas 7 meter hingga 20 meter. Perangkat ini mampu menghasilkan air yang 100% bersih dan layak minum. Inovasi ini telah diterapkan di beberapa sekolah penampungan.
Al-Ghoul berkomitmen untuk terus mengembangkan dan memproduksi lebih banyak perangkat desalinasi guna memastikan akses air bersih bagi masyarakat Gaza. Ia juga berencana membangun taman di atap rumahnya yang memanfaatkan air hasil desalinasi. Inovasi ini bukan hanya solusi sementara, tetapi langkah penting dalam menghadapi tantangan krisis air di Gaza.[5]
Penghargaan
BBC merilis daftar 100 perempuan paling inspiratif dan berpengaruh di dunia untuk tahun 2024. Daftar ini mencakup perempuan yang menghadapi berbagai tantangan, mulai dari konflik dan krisis kemanusiaan di Gaza, Lebanon, Ukraina, dan Sudan, hingga dampak polarisasi politik akibat pemilu di berbagai negara. Salah satu tokoh yang masuk dalam daftar tersebut adalah Al-Ghoul, seorang insinyur pertanian asal Palestina.
Al-Ghoul dikenal atas karyanya dalam menciptakan alat desalinasi bertenaga surya yang mampu mengubah air laut menjadi air minum. Alat ini dibuat menggunakan bahan daur ulang dan telah menjadi solusi penting bagi masyarakat yang tinggal di tenda-tenda pengungsian di Khan Younis, Jalur Gaza, setelah sebagian besar infrastruktur air dan sanitasi hancur sejak Oktober 2023.
Selain itu, Al-Ghoul juga mengembangkan kompor tenaga surya dan memanfaatkan material daur ulang untuk membuat berbagai barang seperti kasur dan tas. Inovasi-inovasinya bertujuan untuk membantu warga Palestina yang terdampak krisis, menjadikannya salah satu perempuan yang diakui dalam daftar BBC 100 Women 2024.[6]
12"مهندسة بغزة تبتكر نظاما لتحلية ماء البحر"[Insinyur di Gaza menciptakan sistem desalinasi air laut]. Al Jazeera Arabic (dalam bahasa Arab). 8 Agustus 2024. Diakses tanggal 17 Maret 2025.