Emma Eckstein lahir di Wina pada 28 Januari 1865 dari keluarga borjuis yang memiliki hubungan dengan Freud. Salah satu saudaranya, Gustav Eckstein (1875–1916), menjadi sosialis demokrat dan rekan Karl Kautsky, pemimpin Partai Sosialis. Saudarinya, Therese Schlesinger, merupakan salah satu anggota parlemen wanita pertama.[4] Saudara lain, Friedrich Eckstein, muncul secara anonim dalam karya Freud Civilization and Its Discontents sebagai individu yang melakukan berbagai eksperimen ilmiah, termasuk praktik yoga yang dianggap memiliki dasar fisiologis untuk sebagian kebijaksanaan mistik.[5][6] Eckstein tergabung dalam gerakan perempuan Wina dengan bekerja sama pada publikasi Dokumente der Frauen dan Neues Frauenleben.[7] Setelah menjalani operasi pada 1910, Ia menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah dan tetap dalam kondisi keterbatasan fisik sebagian hingga meninggal pada 30 Juli 1924 akibat perdarahan otak.[5]
Analisis Psikoanalitik
Pada usia 27 tahun, Eckstein menemui Freud untuk mendapatkan pengobatan atas gejala-gejala tidak spesifik yang dialami, termasuk gangguan pencernaan dan depresi ringan terkait menstruasi. Freud mendiagnosis Eckstein menderita histeria dan mencatat adanya perilaku masturbasi. Proses terapi berlangsung sekitar tiga tahun dan termasuk salah satu kasus Freud yang paling rinci pada masa awal praktiknya.[4]
Selama analisis, Eckstein memberikan informasi yang digunakan Freud untuk mengembangkan teori simptom histeria, termasuk hubungan antara fantasi dan memori. Eckstein menceritakan pengalaman masa kecilnya, termasuk kejadian pelecehan seksual di sebuah toko permen saat berusia delapan tahun, yang kemudian dikaitkan dengan munculnya rasa bersalah dan trauma yang tertunda.[8][9]
Materi yang diperoleh dari Eckstein digunakan dalam pengembangan teori Freud mengenai keinginan dalam psikosis dan mimpi, rekonstruksi transferensial terhadap kesenangan awal, serta adegan fantasi dalam kehidupan batin.[10] Kasus Eckstein menjadi contoh dalam teori tindakan tertunda, di mana memori yang ditekan kemudian menjadi trauma melalui aksi tertunda.[11]