Edy Susanto (lahir 4 November 1977), lebih dikenal dengan nama panggung Edy Khemod, adalah seorang musisi, sutradara film, sutradara video musik, serta direktur kreatif asal Indonesia.[1] Ia dikenal sebagai drumer grup musik heavy metal Seringai, yang didirikannya bersama Arian13, Ricky Siahaan, dan Toan Sirait pada awal dekade 2000-an.[2]
Selain berkarier sebagai musisi, Khemod juga aktif sebagai sutradara video musik, show director, dan creative director berbagai konser serta pertunjukan musik di Indonesia. Pada 2026, ia memulai debut sebagai sutradara film panjang melalui Operasi Pesta Copet.[3]
Kehidupan awal
Edy Susanto lahir di Bandung pada 4 November 1977.[1] Ketertarikannya terhadap musik bermula sejak usia sekolah dasar ketika mempelajari dasar-dasar bermain drum menggunakan perangkat drum milik kakaknya. Ia kemudian mulai bermain musik bersama teman-temannya di lingkungan tempat tinggalnya dan tampil dalam berbagai acara sekolah maupun perayaan lingkungan.[4]
Dalam tulisan autobiografinya, Khemod mengungkapkan bahwa pada masa remaja ia sempat terlibat dalam pergaulan geng di Bandung. Menurut pengakuannya, keterlibatan tersebut dipengaruhi oleh lingkungan pergaulan serta keinginan untuk diterima dalam kelompok sosial. Ia juga mengakui pernah terlibat dalam berbagai tindakan kenakalan remaja yang kemudian disesalinya.[5]
Seiring berkembangnya ketertarikannya terhadap musik, Khemod mulai aktif mengikuti skena musik independen Bandung pada awal 1990-an. Ia menyebut keterlibatannya dalam dunia musik menjadi titik balik yang mengubah arah kehidupannya. Melalui aktivitas bermusik, ia mulai meninggalkan lingkungan pergaulan sebelumnya dan menemukan komunitas yang memperkenalkannya pada nilai-nilai antirasisme, kesetaraan sosial, serta kreativitas. Pengalaman tersebut kemudian beberapa kali ia angkat dalam tulisan dan wawancara sebagai bentuk refleksi atas perjalanan hidupnya.[4][5]
Karier
Awal karier
Sebelum bergabung dengan Seringai, Khemod telah aktif bermain musik sejak awal 1990-an melalui sejumlah grup musik di Bandung. Band pertamanya adalah Orion, yang aktif sekitar tahun 1990 hingga 1993 dan membawakan lagu-lagu dari berbagai grup musik rock dan thrash metal seperti Metallica, Sepultura, Annihilator, dan Red Hot Chili Peppers.[1][4][5]
Setelah itu, ia bergabung dengan Life At Pawn pada periode 1993–1995. Bersama band tersebut, Khemod menjadi bagian dari berkembangnya skena musik independen Bandung yang saat itu mulai memanfaatkan GOR Saparua sebagai pusat pertunjukan musik komunitas. Life At Pawn juga sempat memperoleh perhatian dari Samuel Marudut, manajer GMR Radio, yang berencana memproduseri rekaman mereka sebelum akhirnya rencana tersebut batal akibat wafatnya Marudut.[4][5]
Pada 1995 hingga 2000, Khemod menjadi drumer Zoom, sebuah grup musik yang tampil secara rutin di berbagai pub dan kafe di Bandung maupun Jakarta. Pengalaman tersebut memperluas kemampuannya memainkan berbagai genre musik, mulai dari rock alternatif, pop, hingga musik arus utama.
Pada 2001, ia membentuk Aparat Mati bersama Arian13, Eben Burgerkill, dan Angga Reza. Meskipun hanya berumur singkat, band bergenre powerviolence tersebut menjadi awal kolaborasi Khemod dengan Arian13 yang kemudian berkembang menjadi embrio lahirnya Seringai.[6]
Bersama Seringai
Seringai, 2019: Edy Khemod, Arian 13, Ricky Siahaan dan Sammy Bramantyo (dari kiri).
Pada awal dekade 2000-an, Khemod bersama Arian13, Ricky Siahaan, dan Sammy Bramantyo mendirikan Seringai.[2] Bersama grup musik tersebut, ia turut merilis sejumlah album, antara lain High Octane Rock (2004), Serigala Militia(2007), Taring (2012), Seperti Api (2018), dan IV: Anastasis (2026).[7]
Sebagai drumer, Khemod dikenal memadukan pengaruh heavy metal, hardcore punk, hingga rock alternatif dalam gaya permainannya. Di luar aktivitas sebagai personel band, ia juga beberapa kali menjadi juru bicara Seringai dalam berbagai wawancara, terutama mengenai proses kreatif, industri musik, dan isu-isu sosial yang diangkat melalui karya-karya band tersebut.[8]
Setelah gitaris Ricky Siahaan meninggal dunia pada April 2025, Seringai mengumumkan masa hiatus.[9] Pada 2026, grup tersebut kembali beraktivitas dengan merilis album IV: Anastasis, yang sebagian besar materinya telah dikerjakan bersama Ricky sebelum wafat.[10] Dalam proses penyelesaian album tersebut, Khemod menjelaskan bahwa Seringai mempertahankan karakter permainan gitar Ricky dengan menggunakan berbagai rekaman demo dan peralatan musik miliknya sebagai bentuk penghormatan terhadap kontribusinya.[11][12]
Penyutradaraan
Selain bermusik, Khemod juga dikenal sebagai sutradara video musik dan kreator visual. Ia telah menyutradarai berbagai video musik serta film pendek untuk sejumlah musisi Indonesia.[13]
Pada 2024, ia menyutradarai film pendek All I Want milik The Panturas. Film tersebut dikembangkan dari lagu dengan judul yang sama dan mengangkat kisah fiksi yang terinspirasi dari peristiwa Setiabudi 13 serta latar sejarah Indonesia pada pertengahan dekade 1960-an.[14]
Pada 2026, Khemod memulai debut sebagai sutradara film panjang melalui Operasi Pesta Copet.[15] Film produksi Imajinari tersebut menggabungkan unsur komedi, aksi, dan heist, serta mengambil latar sebuah festival musik.[16] Menurut Khemod, ide cerita film tersebut berawal dari pengalamannya menyaksikan maraknya aksi pencopetan yang terjadi di berbagai konser Seringai.[17] Ia kemudian mengembangkan fenomena tersebut menjadi sebuah cerita mengenai sekelompok pencopet yang beroperasi di tengah festival musik.[18][19]
Direktur kreatif
Di luar dunia perfilman, Khemod juga aktif sebagai creative director dan show director berbagai pertunjukan musik.[20] Pada 2020, ia dipercaya menjadi creative director konser tunggal Raisa di Stadion Utama Gelora Bung Karno.[21]
Ia juga terlibat sebagai creative director dalam berbagai pertunjukan musik lain, termasuk konser Semoga Hanya di Mimpi Album Showcase milik Bernadya pada 2026.[22] Dalam proyek tersebut, Khemod bertanggung jawab menerjemahkan konsep artistik album ke dalam bentuk pertunjukan panggung yang mengangkat estetika awal dekade 2000-an.[23]
Edy Khemod menikah dengan Arisa Oktafenny pada Maret 2010. Pasangan ini dikaruniai dua orang putri, yaitu Kejora Mina Sadara yang lahir pada 4 Desember 2013 dan Renjana Maira Sadara yang lahir pada 3 November 2018.[1]