Diagram alir proses yang menunjukkan peralatan penyulingan ekstraktif. Dalam contoh ini, komponen campuran A dan B dipisahkan di kolom pertama dengan bantuan pelarut E, yang kemudian dipulihkan kembali di kolom kedua.
Penyulingan ekstraktif atau distilasi ekstraktif didefinisikan sebagai proses penyulingan yang dilakukan dengan adanya suatu komponen yang dapat bercampur sempurna, bertitik didih tinggi, dan relatif tidak mudah menguap, yang disebut pelarut. Pelarut ini tidak membentuk azeotrop dengan komponen lain dalam campuran. Metode ini digunakan untuk memisahkan campuran yang memiliki keteruapan relatif yang rendah atau mendekati satu. Campuran semacam ini tidak dapat dipisahkan secara efektif dengan penyulingan sederhana karena keteruapan kedua komponennya hampir sama, sehingga keduanya menguap pada suhu yang hampir sama dengan laju yang hampir serupa. Akibatnya, penyulingan biasa menjadi tidak praktis.[1]
Metode penyulingan ekstraktif menggunakan pelarut pemisah yang umumnya bersifat tidak mudah menguap, memiliki titik didih tinggi, dan dapat bercampur dengan campuran yang akan dipisahkan, tetapi tidak membentuk campuran azeotrop. Pelarut tersebut berinteraksi secara berbeda dengan masing-masing komponen dalam campuran sehingga mengubah keteruapan relatifnya. Perubahan ini memungkinkan campuran baru yang terdiri atas tiga komponen dipisahkan melalui penyulingan biasa. Komponen asli yang memiliki keteruapan paling tinggi akan terpisah sebagai produk atas (distilat). Sementara itu, produk bawah terdiri atas campuran pelarut dan komponen lainnya, yang kemudian dapat dipisahkan dengan mudah karena pelarut tidak membentuk azeotrop dengan komponen tersebut. Produk bawah ini dapat dipisahkan menggunakan salah satu metode pemisahan yang tersedia.
Pemilihan pelarut pemisah yang sesuai sangat penting dalam penyulingan jenis ini. Pelarut harus mampu mengubah keteruapan relatif dalam kisaran yang cukup besar agar proses pemisahan berhasil. Selain itu, jumlah, biaya, dan ketersediaan pelarut juga perlu dipertimbangkan. Pelarut sebaiknya mudah dipisahkan kembali dari produk bawah, tidak bereaksi secara kimia dengan komponen atau campuran yang dipisahkan, serta tidak menyebabkan korosi pada peralatan. Contoh klasik penyulingan ekstraktif adalah pemisahan campuran azeotrop benzena dan sikloheksana, dengan anilina sebagai salah satu pelarut yang sesuai.[2]