Sejarah
Pada akhir abad ke-13, wilayah Hararghe utara merupakan pusat Kesultanan Shewa yang diperintah oleh Dinasti Makhzumi.[3] Sumber sezaman menggambarkan kesultanan tersebut sedang dilanda perpecahan internal dan dilemahkan oleh perselisihan dengan negara-negara Muslim tetangga. Pada tahun 1278, negara tetangganya, Ifat, menyerang Kesultanan Shewa. Setelah beberapa tahun peperangan, Shewa akhirnya dianeksasi ke dalam wilayah Ifat. Aneksasi ini biasanya dikaitkan dengan Umar, tetapi ia telah meninggal sekitar lima puluh tahun sebelum peristiwa tersebut. Kemungkinan besar, penaklukan itu dilakukan oleh cucunya, Jamaluddin, atau mungkin oleh cicitnya, Abud. Pada tahun 1288, Sultan Wali Asma berhasil menaklukkan Hubat, Adal, dan sejumlah negara Muslim lain di kawasan tersebut, menjadikan Ifat sebagai kerajaan Muslim terkuat di Tanduk Afrika.
Pada tahun 1332, Sultan Ifat, Haqqaduddin I, tewas dalam kampanye militer melawan pasukan Kaisar Abyssinia, Amda Seyon.[5] Setelah itu, Amda Seyon mengangkat Jamaluddin sebagai raja baru, yang kemudian digantikan oleh saudaranya, Nasaruddin.[6] Kaisar Abyssinia menyebut kaum Muslim di wilayah sekitarnya sebagai “musuh Tuhan” dan kembali melancarkan invasi ke Ifat pada awal abad ke-15. Setelah pertempuran sengit, pasukan Ifat akhirnya dikalahkan, dan penguasanya, Raja Sa'aduddin II, melarikan diri ke Zeila, di mana ia kemudian dibunuh oleh pasukan Abyssinia. Para pangeran Walashma, Haqqaduddin II dan Sa’aduddin II, kemudian memindahkan pusat kekuasaan mereka ke dataran tinggi Harar di wilayah Adal dan membentuk kesultanan baru.[8]
Sultan terakhir Ifat, Sa'aduddin II, terbunuh di Zeila setelah melarikan diri ke sana pada tahun 1403. Anak-anaknya kemudian mengungsi ke Yaman sebelum kembali ke dataran tinggi Harar pada tahun 1415.[9][10] Pada awal abad ke-15, ibu kota Adal didirikan di kota Dakkar, tempat Sabaruddin III, putra tertua Sa'aduddin II, membangun basis pemerintahan baru setelah kembali dari pengasingan di Yaman.[11][12] Menjelang akhir 1400-an, para sultan Walashma mulai menghadapi tantangan dari para emir Harla di dataran tinggi Harar, seiring munculnya tokoh penting Imam Mahfuz.[13]
Pada abad berikutnya, pusat pemerintahan Adal kembali dipindahkan, kali ini ke Harar. Dari ibu kota baru ini, Adal membentuk pasukan kuat di bawah pimpinan Imam Ahmad bin Ibrahim al-Ghazi (Ahmad “Gurey” atau Ahmad “Gran”), yang kemudian memimpin invasi besar-besaran terhadap Kekaisaran Abyssinia. Kampanye militer pada abad ke-16 ini dikenal dalam sejarah sebagai Penaklukan Abyssinia (Futuh al-Habash). Dalam peperangan tersebut, Imam Ahmad menjadi pelopor penggunaan meriam yang disuplai oleh Kesultanan Utsmaniyah, diimpor melalui pelabuhan Zeila, dan digunakan melawan pasukan Abyssinia serta sekutu Portugis mereka yang dipimpin oleh Cristóvão da Gama.[12] Sejumlah sejarawan berpendapat bahwa konflik ini membuktikan keunggulan senjata api—seperti senapan sumbu, meriam, dan arquebus—dibandingkan dengan senjata tradisional pada masa itu.[14]