Lembah Kematian atau Death Valley adalah gurun lembah yang terletak di negara bagian California.[3] Padang pasir ini terkenal sebagai tempat percobaan bom atom pertama pada tahun 1945.[3] Death Valley adalah daerah yang sangat panas, kering dan terendah di Amerika Serikat (90 m di bawah permukaan air laut).[3] Sebagian besar wilayah di padang pasir ini merupakan Taman Nasional Death Valley.[4] Selain itu, Death Valley juga memiliki sebuah kastel yang bernama Scotty.[5] Kastil ini dibangun oleh pengusaha kaya dari Chicago, Albert Johnson.[5]
Death Valley memiliki luas sekitar 3.000 mil persegi (7.800 km persegi).[4] Daerah ini berbatasan dengan Amargosa Range di bagian timur, Panamint Range di bagian barat, Pegunungan Sylvania di bagian utara dan Pegunungan Owlshead di bagian selatan.[4] Suhu rata-rata di Death Valley pada saat musim panas adalah 100 °F (37 °C) dan rata-rata suhu pada bulan Agustus adalah 113,9 °F (45,5 °C).[4] Suhu terpanas yang pernah tercatat di Death Valley adalah 134 °F (56,7 °C) pada 10 Juli 1913.[4]
Selain karakteristik geografis dan suhunya yang ekstrem, Death Valley juga terkenal dengan fenomena geologi unik berupa batu berjalan (sailing stones) di kawasan Racetrack Playa. Fenomena ini pertama kali didokumentasikan secara ilmiah pada tahun 1948 oleh ahli geologi Jim McAllister dan Allen Agnew. Di wilayah dasar danau yang mengering ini, batu-batu besar, bahkan ada yang beratnya mencapai lebih dari 300 kg tampak berpindah tempat dengan sendirinya dan meninggalkan jejak lintasan di tanah hingga sejauh 0,46 kilometer. Selama berdekate-dekade, fenomena ini memicu berbagai spekulasi mulai dari tiupan angin kencang, medan magnet, hingga keterlibatan alien.[6]
Misteri ini akhirnya berhasil terpecahkan secara ilmiah pada tahun 2014 melalui penelitian langsung oleh tim ilmuwan yang terdiri dari Richard Norris, James Norris, dan Ralph Lorenz.[6] Melalui pengamatan jangka panjang menggunakan alat pelacak GPS pada 15 batu serta pendirian stasiun cuaca, ditemukan bahwa pergerakan batu disebabkan oleh kombinasi langka antara air, es, dan angin.
Saat curah hujan musim dingin menggenangi dataran gurun tersebut, air akan membeku di malam hari akibat penurunan suhu yang drastis dan membentuk lapisan es tipis berkisar antara 3 hingga 6 milimeter. Pada keesokan harinya, sinar matahari mencairkan sebagian es tersebut, sementara embusan angin ringan berkecepatan 4–5 m/s memecah lapisan es menjadi panel-panel besar yang mengapung di atas air.[6] Panel es yang bergerak karena dorongan angin inilah yang kemudian perlahan mendorong batu-batu di jalurnya dengan kecepatan sekitar 2–5 meter per menit. Berdasarkan penelitian, batu-batu di Racetrack Playa ini rata-rata hanya berpindah posisi sekali dalam kurun waktu 2 hingga 3 tahun, dan bekas lintasan yang ditinggalkannya dapat tetap terlihat selama 3 hingga 4 tahun sebelum akhirnya terhapus secara alami.[6]